oleh

Propinsi NTT, Negeri Salah Urus Akibat Defisit Kapasitas Pemimpinnya

Oleh: Petrus Selestinus, Koordinator Tim Pembela Demokrasi Indonesia & Advokat PERADI

BERITA tentang perlakuan tak biasa atau tidak selayaknya dialami Susanti Ndapataka, atlet Muaythai asal NTT yang meraih Medali Emas pertama di PON Papua. Susanti tidak disambut  layaknya seorang Atlet yang mengukir prestasi ketika tiba di Bandara El Tari Kupang, NTT pada 6 Oktober 2021.

Peristiwa ini viral menutupi berita tentang perolehan Medali Emas Atlet Muaythai, sebagai prestasi yang membanggakan bagi NTT itu. Padahal prestasi yang diraih Susanti Ndapataka tidak hanya membanggakan baginya dan keluarga, tetapi juga bagi Pemerintah dan semua warga NTT di manapun. Sebab, Susanti telah mengharumkan nama Propinsi NTT. Tetapi, ia hanya dijemput dengan sebuah mobil pickup reot tanpa acara seremonial sambutan layaknya seorang Atlet peraih Medali Emas.

NTT, Negeri Salah Urus
Susanti Ndapataka, tidak menuntut untuk disambut dengan sebuah seremonial layaknya seorang peraih Medali Emas pada event bergengsi di PON Papua. Tetapi, sebagai Propinsi yang berbudaya dan gemar membuat acara seremonial yang glamour, mestinya acara seremonial untuk penjemputan Atlet yang berprestasi ditangani sebuah Panitia yang profesional, sehingga tidak ada satu Atlet pun tercecer di luar SOP acara keberangkatan, penyambutan dan penjemputan di saat Atlet tiba.

Sebagian pihak merasa tidak aneh dengan peristiwa salah urus ini, karena sebagian pemimpin Propinsi ini sedang mengalami apa yang disebut “defisit kapasitas” pada beberapa hal (moral, kejujuran, integritas dll), termasuk defisit pada sikap untuk sekedar memberi nilai pada sebuah prestasi yang diraih seorang Atlet.

Ini merupakan potret buram kepemimpinan NTT ke depan. NTT harus tinggalkan pemimpin yang mengalami defisit kapasitas terutama pada perilaku yang bersifat adab (beradab) dan salah urus dalam tatakelola pemerintahan yang baik, karena hanya sekedar memberi nilai atau harga pada sebuah prestasi yang diraih putera puteri NTT-pun Pemerintah Daerah abai dan tidak bisa dilakukan.

Baca Juga:  TPDI Tantang Konsistensi KPU Manggarai Barat Ungkap Persyaratan Balon Bupati Edistasius

Masyarakat sudah Bosan
Di balik defisit kapasitas sebagian pemimpin di NTT, masyarakat NTT sudah bosan melihat pemimpinnya yang lebih banyak omong tetapi sedikit bekerja dan tidak ada hasil yang cukup untuk masyarakatnya. Dari Pilkada ke Pilkada NTT hanya melahirkan para Pemimpin yang hanya banyak omong besar di awal tetapi bingung di saat kekuasaan diraih, karena akibat defisit kapasitas tadi.

Kasus perlakuan tidak layak terhadap Susanti Ndapataka, cerminan Pemimpin daerah NTT yang kurang paham dalam menatakelola pemerintahan, kurang paham dalam menerapkan azas-azas umum pemerintahan yang baik yang harus dijunjung tingggi oleh siapapun juga.

Perjuangan dan prestasi yang diraih Susanti Ndapataka tidak hanya untuk diri dan  keluarganya tapi lebih dari pada itu untuk mengangkat martabat dan keharuman nama Propinsi NTT, sehingga tidak sepatutnya Panitia Penjemput Pemerintah Daerah NTT tidak memberikan penghormatan kepada Atlet yang mengharumkan nama Propinsi NTT. (*)

Komentar