oleh

Lihat-lihat Ruang Isoter Covid-19 Kabupaten Malaka di PLBN Motamasin

Oleh: Cyriakus Kiik, Pemimpin Umum TIMORline.com

SIANG itu cuaca di langit Kota Betun dan sekitarnya sedikit mendung. Warga hilir mudik ke sana sini. Di pertokoan, warga berbelanja seperti biasa. Para pelintas jalan juga waspada. Kuatir hujan. Ini karena hujan sempat mengguyur Kota Betun semalam sebelumnya.

Di ujung timur wilayah Kabupaten Malaka terlihat cerah. Bermodal nekad, satu jurnalis media cetak dan satunya lagi jurnalis media online, meluncur ke arah timur. Dalam hitungan waktu 35 menit, sepeda motor kongkor merk honda suprafit yang dikendarai keduanya tiba di Pos Lintas Batas Negara (PLBN) Motamasin.

Bupati Malaka Dr Simon Nahak, SH, MH dan Wabup Malaka Kim Taolin bersama para pejabat Kabupaten Malaka baik sipil maupun militer saat peninjauan Ruang Isoter Covid-19 Kabupaten Malaka di PLBN Motamasin, beberapa waktu lalu. (Foto: Tangkapan Layar Youtube/Mahaveka Chanel).

PLBN ini letaknya di bagian paling timur wilayah Indonesia di Propinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) dan paling selatan wilayah NTT di Pulau Timor. Inilah pos pintu masuk-keluar wilayah Indonesia (Kabupaten Malaka) dan Timor Leste (Distrik Covalima).

Di pintu gerbang pos, ada petugas jaga. Tamu yang datang harus lapor diri di sini. Kami, juga harus lapor diri di petugas jaga.

Kebetulan, saat itu ada dua petugas. Seorang lelaki berkulit kelam dan seorang lagi perempuan berwajah cerah. Keduanya terlihat sedang fokus di handphone android. Sementara nonton. Yang perempuan senyum-senyum. Yang lelaki agak miring-miring leher.

Selamat siang semua”, begitu saya menyapa kedua petugas.

Petugas lelaki terlihat kaget ‘diganggu’ salaman saya. Dia pun balik bertanya, “Bagaimana, Pak?”.

Bupati Malaka Dr Simon Nahak, SH, MH (menghadap lensa) bersama Kepala Dinsos Kabupaten Malaka Folgen Fahik (membelakangi lensa) saat berada di salah satu Ruang Isoter Covid-19 Kabupaten Malaka, beberapa waktu lalu. (Foto: Tangkapan Layar Youtube/Family Sakti-Malaka).

Saya menjelaskan maksud kedatangan kami. Kami wartawan, mau bertemu Pak Reynold Uran, Kepala Bidang Pengelolaan PLBN Motamasin. Mendapat penjelasan itu, petugas lelaki itu langsung bergerak.

“Saya koordinasi dulu”, begitu kata petugas tadi singkat. Dia sigap betul. Omong dan langsung bergerak. Dia mengambil sepeda motornya dan putar haluan.

Ngeeeeeennnngggg. . . Begitu bunyi sepeda motornya. Dia gas full. Hilang, sejauh mata memandang. Koordinasi dilakukan. Sambil menunggu koordinasi petugas lelaki tadi dengan Renold, kami bercerita ringan dengan petugas jaga yang perempuan. Wajahnya cerah tapi sedikit cuek. Lebih banyak mengurus rambutnya. Senyum kecil terumbar berulang-ulang dengan arah fokus ke handphone androidnya.

Selang 10 menit kemudian, petugas lelaki tadi kembali. “Ayo, kita ke sana. Beliau (Reynold Uran, red) ada. Saya antar”, ajak si petugas sambil memutar sepeda motornya.

Kami tinggalkan pos jaga pintu gerbang. Dalam sekejap, kami sudah di halaman depan Ruang Kerja Reynold Uran, Kabid Pengelolaan PLBN Motamasin. Si pemandu langsung balik pos jaga pintu gerbang.

Pas di pintu masuk, kami diterima seorang ibu berbaju putih hitam. Saat melangkah masuk, Renold juga muncul. Keluar dari ruangannya. Dia berpakaian olahraga. Baju kaos merah tua dan celana pendek biru langit.

Pembicaraan mengalir saja. Dua materi jadi topik. Soal, Aktivitas Ekspor Mingguan dari Indonesia ke Distrik Covalima negara Timor Leste, dan Pemanfaatan Ruang Isolasi Terpusat Covid-19 Kabupaten Malaka di PLBN Motamasin.

Salah satu Ruang Isoter Covid-19 Kabupaten Malaka yang sudah diisi dengan tempat tidur. (Foto: Cyriakus Kiik/Timorline.com).

Soal, Pemanfaatan Ruang Isolasi Terpusat (Isoter) Covid-19 Kabupaten Malaka, Renold bilang, tempatnya sudah disiapkan.

“Tempatnya kita siapkan. Ada tiga ruangan”, aku Renold sambil menunjuk tiga ruang Isoter tersebut di arah barat.

Baca Juga:  Fachrul Razi : Sudah Saatnya Honorer Pendamping Desa Diangkat Jadi PPPK

Renold sendiri tidak tahu pasti apakah ruangan-ruangan itu dimanfaatkan atau tidak. Yang pasti, ruangan sudah diisi tempat tidur.

“Informasinya, ada 150 tempat tidur. Sudah diisi di ruangan”, kata Renold.

Perbincangan kami tak berlangsung lama. Kami pamit sekaligus izin untuk lihat-lihat ruangan Isoter. Renold setuju. Kami pun langsung tancap gas menuju arah barat. Melewati pintu gerbang utama. Lalu, belok kiri.

Sepeda motor yang kami kendarai ditinggalkan. Lalu, kami berjalan kaki. Kami menyusuri lorong sekira 100 meter. Sampailah kami di ruang Isoter.

Benar sekali. Ada tiga ruangan. Dari arah barat menuju timur, di ruangan pertama terdapat 22 tempat tidur, enam kipas angin dan empat ace. Kaki tempat tidurnya setinggi 40-80 centimeter. Sedangkan panjangnya sekira dua meter. Spring bad plus sprey sudah dibentang di tempat tidur.

Tetapi, sangat disayangkan. Di ruangan pertama ini, ada gorden yang berserakan di lantai. Ada juga yang tersimpan tak beraturan di atas tempat tidur. Sementara pintunya terbuka. Tidak ada petugas pula.

Terlihat, kain gorden berserakan di lantai di salah satu Ruang Isoter Covid-19 Kabupaten Malaka di PLBN Motamasin. (Foto: Cyriakus Kiik/Timorline.com).

Di ruangan kedua, ada 15 tempat tidur, tiga kipas angin dan dua ace. Di atas tempat tidur, sudah dibentang spring bad dan sprey. Ruangan ini, pintunya terbuka. Petugas pun tidak ada.

Di ruangan ketiga, ada 15 tempat tidur, tiga kipas angin, dua ace dan dua unit kamera pengintai. Sama dengan dua ruangan lainnya, pintu ruangan ini terbuka. Petugas pun tidak ada.

Pada ruangan yang lain, terdapat 36 tempat tidur, lima kipas angin dan dua ace. Berbeda dengan tiga ruangan lainnya, spring bad disimpan tersusun rapi mepet ke tembok. Tidak ada tempat tidur. Apalagi petugas.

Semua ruangan terlihat tembus pandang baik dari jarak dekat maupun jauh. Melihat kondisi ruangan yang demikian, kami berdiskusi ringan.

Pada intinya, diskusi kami itu menimbulkan sejumlah pertanyaan seperti ini:

Berapa anggaran pengadaan tempat tidur, spring bad, sprey dan gorden? Anggaran tahun berapa? Pengadaannya pakai rekanan secara lelang atau pemilihan langsung atau penunjukkan langsung?
Ruangannya sudah digunakan atau belum? Berapa tenaga kesehatan yang ditugaskan di ruangan ini, murni Satgas Covid-19 atau ada yang diperbantukan dari Puskesmas terdekat dan rumah sakit? Idealnya, ruangan Isoter itu seperti apa sehingga apakah masih harus dilengkapi?”

Singkat cerita, semakin banyak diskusi, banyak pula pertanyaan yang timbul.

Dalam bincang-bincang dengan Kabid Pengelolaan PLBN Motamasin, Reynold Uran, terungkap kalau dirinya diminta Dandim 1605/Belu Letkol Inf Wiji Untoro untuk menyediakan ruangan dimaksud.

“Pak Dandim sendiri yang datang di sini untuk minta ruangan Isoter ini”, kata Renold.

Belakangan, kata Reynold, Bupati Malaka Dr Simon Nahak, SH, MH dan Wabup Malaka Kim Taolin datang tinjau ruangan yang sama dalam kesempatan berbeda. Peninjauan itu untuk memastikan adanya Ruangan Isoter di PLBN Motamasin.

Tempat tidur yang belum selesai terpasang tersimpan di lorong depan Rest Area PLBN Motamasin. (Foto: Cyriakus Kiik/Timorline.com).

Setelah peninjauan itu, pihak Badan Penanganan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Malaka dan Dinas Sosial (Dinsos) Kabupaten Malaka membawa tempat tidur untuk diisi dalam ruangan.

Baca Juga:  Polda Banten Bagikan 5.000 Masker bagi Masyarakat

“Ada sekira 150 tempat tidur. Ada di ruangan itu”, kata Reynold.

Tetapi, dalam hitungan kami, dari tiga ruangan yang sudah diisi tempat tidur yang hendak digunakan bagi pasien yang mengalami gejala atau terkonfirmasi Covid-19 terdapat 86 tempat tidur,12 kipas angin, 8 ace dan dua kamera pengintai.

Rinciannya, di ruangan pertama terdapat 22 tempat tidur, enam kipas angin dan empat ace. Di ruangan kedua, ada 15 tempat tidur, tiga kipas angin dan dua ace. Di ruangan ketiga, ada 15 tempat tidur, tiga kipas angin, dua ace dan dua unit kamera pengintai.

Pada ruangan yang lain, terdapat 36 tempat tidur, lima kipas angin dan dua ace. Tetapi, ruangan ini hanya untuk menyimpan spring bad warna biru kotak-kotak kecil yang tersusun rapi. Apakah ruangan ini digunakan juga sebagai ruang Isoter atau tidak, belum terkonfirmasi.

Di lorong depan Rest Area, terlihat sejumlah tempat tidur belum habis terpasang. Ada kayu dan kepala tempat tidur yang berserakan. Hanya belum terkonfirmasi, apakah tempat tidur itu empunya pegawai PLBN Motamasin atau sebagian tempat tidur yang disiapkan Pemkab Malaka bagi pasien Covid-19 di Ruang Isoter PLBN Motamasin?

Selain itu, sepengetahuan Reynold, ada pula tenda jadi, tenda darurat dan peralatan masak sebagai perlengkapan dapur umum. Tetapi, ada betul atau tidak, informasi itu justru didapatkannya dari staf. Sedangkan orang dinas dan mungkin petugas Satgas Covid-19, tidak memberi laporan kepadanya.

Secara internal, Reynold bersama staf sudah koordinasi untuk kembali mamanfaatkan ruangan tersebut. Sebab, pihaknya mau aktifkan kembali Pasar Perbatasan Motamasin. Antara lain dengan memanfaatkan ruangan tersebut. Pasar ini sempat dibuka tetapi kemudian ditutup kembali karena pandemi Covid-19.

“Minggu depan mungkin kita koordinasi kembali dengan Pemda Malaka melalui Bagian Pemerintahan supaya kita gunakan kembali ruangan itu untuk pasar perbatasan. Kita mau buka kembali pasar. Kita tutup pasar karena pandemi Covid sekarang”, tandas Reynold.

Bupati Malaka Dr Simon Nahak, SH, MH bersama sejumlah pejabat saat berada di salah satu ruangan yang digunakan untuk menyimpan peralatan dapur seperti komfor dan ketel. (Foto: Tangkapan Layar Youtube/Family Sakti Malaka).

Kepala Dinsos Kabupaten Malaka Folgen Fahik yang dihubungi melalui telepon selulernya, Sabtu (11/09/2021) sore, menjelaskan, tempat tidur, spring bad dan gorden yang ada di ruangan Isoter PLBN Motamasin itu diambil dari sekolahan yang menjadi tempat penginapan kontingen even olahraga El Tari Memorial Cup 2019 lalu di Malaka.

Tempat tidur itu kami ambil di sekolahan yang menjadi tempat penginapan kontingen El Tari Memorial Cup 2019. Kita angkut pakai oto kantor bawa isi di ruangan-ruangan yang ada di sana”, kata Folgen.

Selain itu, pihaknya juga membuka dapur umum di sana pakai tenda Kemensos. Tenda ini disiapkan bagi petugas Satgas Covid-19 Kabupaten Malaka yang bertugas di sana.

“Semua urusan makan minum baik bagi pasien Covid maupun petugas Satgas, semuanya kita siapkan di dapur umum”, kata Folgen.

Baca Juga:  Warga Desa Angkaes di Malaka Pertanyakan Pemanfaatan Anggaran TP-PKK Empat Tahun Anggaran

Folgen juga bilang, ruangan Isoter Covid-19 ini belum bisa dimanfaatkan. Kendalanya, belum ada anggaran untuk itu.

Anggaran untuk ruangan Isoter itu belum ada. Kita tunggu bupati pulang dulu (saat ini masih di Bali, red), berapa anggarannya, baru kita mulai ada kegiatan”, demikian Folgen.

Apakah anggaran itu ada benar atau tidak, sebetulnya Pemkab Malaka melalui Sekretaris Kabupaten (Sekkab) Malaka Donatus Bere sudah mengumumkan kepada publik Malaka melalui media kalau anggaran Covid-19 Kabupaten Malaka tahun anggaran 2021 sebesar Rp37,7 miliar.

Spring bad yang siap dipakai pasien Covid-19 disimpan tersusun rapi di salah satu ruangan di PLBN Motamasin. (Foto: Cyriakus Kiik/Timorline.com).

Dari total anggaran tersebut, pemanfaatan dalam bidang kesehatan sebesar Rp34,5 miliar lebih, penanganan dampak atau dukungan ekonomi Rp149.560.000,00 dan bantuan sosial bagi mahasiswa untuk menyelesaikan tugas akhir sebesar Rp3 Miliar.

Setelah dihitung-hitung, realisasi dari total anggaran sebesar Rp37,7 miliar itu sampai dengan minggu ketiga Juli 2021 baru mencapai Rp5,4 miliar lebih. Sebab, menurut Sekkab Donatus, rencana anggaran belanja (RAB) dari masing-masing Organisasi Pimpinan Daerah (OPD) masih direview pihak Inspektorat.

“Jika sudah fix, bagian keuangan siap eksekusi sesuai permintaan mereka,” ujar Sekkab Donatus sebagaimana diberitakan VictoryNews, Edisi 22 Juli 2021.

Donatus bahkan menjamin anggaran Covid-19 Tahun Anggaran 2022 meningkat menjadi Rp40 miliar.

Pertanyaan yang selalu dan akan selalu dimunculkan masyarakat Malaka adalah anggaran-anggaran yang ada itu digunakan untuk apa saja?

Anggaran ini terputus di tingkat kecamatan. Sebab, anggaran itu adanya di kabupaten dan desa. Tapi, di kecamatan tidak ada.

Anggaran Covid-19 di desa diambil dari Dana Desa yang sumbernya dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) sebesar delapan persen. Anggaran ini dipakai untuk antara lain pengadaan masker, alat semprot, obat disenfektan, ember penampung air, pencuci tangan, sarung tangan, sabun dan honorarium relawan Covid-19 desa. Bahkan, dari anggaran delapan persen tersebut, sebagian desa menggunakannya untuk membangun Posko Covid-19 yang layak pakai dalam jangka waktu lama.

Lalu, anggaran miliaran Covid-19 kabupaten itu untuk apa? Mencermati anggaran Covid-19 Kabupaten Malaka 2021 yang jumlahnya mencapai Rp37,7 miliar tetapi realisasinya hingga minggu ketiga Juli 2021 baru mencapai Rp5,4 miliar lebih, untuk apa selebihnya?

Mari, lihat-lihat Ruang Isoter Covid-19 Kabupaten Malaka di Rest Area PLBN Motamasin Desa Alas Selatan Kecamatan Kobalima Timur Kabupaten Malaka Propinsi NTT. (*)

Komentar