oleh

YPTI, YPII dan Pemkab Malaka Adakan Pelatihan STBM GESI bagi Pengusaha Sanitasi

BETUN, TIMORline.com-Yayasan Pijar Timur Indonesia (YPTI) dalam kemitraan dengan Yayasan Plan Internasional Indonesia (YPII) dan Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Malaka mengadakan Pelatihan Sanitasi Total Berbasis Masyarakat Berkesetaraan Gender Inklusi dan Sosial (STBM GESI) Bagi Pengusaha Sanitasi dan Penyandang Disabilitas Tingkat Kabupaten Malaka di Hotel Ramayana, Betun, ibukota Kabupaten Malaka, Kamis (09/09/2021).

Direktur YPTI Vincentius Kiabeda (kiri) didampingi Aloysius Jejapu (kanan) saat membuka kegiatan Pelatihan Sanitasi Total Berbasis Masyarakat Berkesetaraan Gender Inklusi dan Sosial (STBM GESI) Bagi Pengusaha Sanitasi dan Penyandang Disabilitas Tingkat Kabupaten Malaka di Hotel Ramayana, Betun, ibukota Kabupaten Malaka, Kamis (09/09/2021). (Foto: Cyriakus Kiik/Timorline.com).

Pelatihan yang dibuka Direktur YPTI Vincentius Kiabeda didampingi Aloysius Jejapu ini berlangsung selama tiga hari terhitung 9-11 September 2021.  Sedangkan para peserta  adalah para pengusaha sanitasi, antara lain pengusaha masker, pembalut dan jamban. Mereka berasal dari 12 kecamatan di wilayah itu.

Direktur YPTI Vincentius Kiabeda dalam sambutannya mendorong  para peserta untuk secara kreatif meningkatkan kualitas produk-produk mereka baik masker, pembalut maupun jamban.

Selain itu, para pengusaha ini harus bisa memastikan yang menggunakan produk-produk itu siapa saja.

Bilang masyarakat tapi masyarakat yang mana. Jangan sampai produk kita tidak dipakai karena jelek dan tidak nyaman”, tandas Vincent.

Suasana kegiatan di Hotel Ramayana, Betun, ibukota Kabupaten Malaka, Kamis (09/09/2021). (Foto: Cyriakus Kiik/Timorline.com).

Seusai acara pembukaan, GESI Spesialis WINNER dan WFW Yayasan Plan International Indonesia Novika Noerdiyanti memfasilitasi peserta untuk memberi kesaksian tentang usaha dan produk-produk yang mereka hasilkan.

Fasilitasi secara virtual ini berlangsung dalam suasana guyuran hujan lebat di lingkungan hotel. Presentasi dan diskusi berlangsung agak tersendat. Sehingga, Vincent harus membawa laptop berjalan keliling peserta memperdengarkan suara  Novika Noerdiyanti.

Novika Noerdiyanti  yang biasa disapa Vika itu pada intinya mengingatkan peserta agar produk-produk sanitasi seperti jamban, masker dan pembalut harus diperhatikan kualitasnya.

Sebab, menurut Vika, kualitas produk akan menarik konsumen untuk membeli produk para pengusaha yang dihasilkan.

Kelompok diskusi pengusaha sanitasi jamban. (Foto: Cyriakus Kiik/Timorline.com).

Peserta kemudian dibagi atas dua kelompok diskusi, yakni kelompok jamban, dan kelompok masker dan pembalut. Diskusi ini untuk memperdalam dua hal yang disampaikan Vika, yakni siapa saja konsumen para pengusaha sanitasi, dan bagaimana produk para pengusaha itu digunakan dengan baik.

Baca Juga:  Satgas Pamtas Sektor Barat Hadiri BBGRM Miomafo Barat

Daniel Uka, peserta dari Desa Lakulo Kecamatan Weliman yang adalah  pengusaha  jamban di hadapan para peserta bersaksi kalau usahanya  dapat meningkatkan ekonomi keluarga dan masyarakat. Usahanya itu ditekuni sejak 2019.

Pengusaha dengan usaha sejenis adalah Germano Pereira. Peserta asal Desa Lakekun Kecamatan Kobalima ini bilang, usaha jamban yang ditekuninya saat ini sangat membantu ekonomi keluarga.

Vinsen Sudirman, peserta dari Desa Tunabesi Kecamatan Io Kufeu mengatakan, usaha jamban  ditekuninya sejak 2019.

Usaha ini, selain untuk memenuhi kebutuhan dalam keluarga, juga untuk memenuhi kebutuhan masyarakat. Sebab, di desanya, sebagian warga belum punya jamban yang layak pakai dan nyaman untuk semua.

Kelompok pengusaha sanitasi masker dan pembalut. (Foto: Cyriakus Kiik/Timorline.com).

Hal serupa disampaikan Bene Baba, peserta dari Desa Nauke Kusa Kecamatan Laenmanen. Dia menambahkan, usaha jamban yang ditekuninya merupakan dukungan nyatanya dalam program STBM dan masyarakat yang berpenghasilan rendah.

Adrianus Nesi, peserta yang adalah pengusaha masker dan pembalut dari Desa Wemeda Kecamatan Malaka Timur mengungkap adanya banyak kendala dalam menjalankan usahanya.

“Kendala saya adalah modal. Modal saya terbatas. Sehingga, pengadaan material berupa kain sering tersendat”, kata Adrian.

Hingga berita ini diturunkan, kegiatan masih berlangsung. Kegiatan ini akan dilanjutkan dengan praktik lapangan. Antara lain di Desa Wemeda Kecamatan Malaka Timur.

Penulis/Editor: Cyriakus Kiik

Komentar