oleh

Wilson Lalengke: Pers Zaman Sekarang Beda, Bos!

JAKARTA, TIMORline.com-Dalam sebuah release yang berisi pernyataan Dewan Pers disebutkan bahwa lembaga tersebut mendesak wartawan untuk melepaskan keanggotaannya dari organisasi masyarakat (Ormas) jika ingin tetap jadi wartawan. Demikian sebaliknya, si wartawan harus meninggalkan dunia kewartawanan jika ingin berkiprah di Ormas dan/atau Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM).

Menurut berita, hal itu disampaikan Wakil Ketua Dewan Pers, Hendry Chairudin Bangun, kepada segelintir media beberapa waktu lalu.

Seorang wartawan harus melepas statusnya sebagai wartawan jika ingin menjadi anggota ormas ataupun Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM). Demikian dikutip dari media gerbangsumatera88.id.

Sebenarnya isu ini bukan barang baru. Sejak beberapa tahun lalu, Dewan Pers selalu menyanyikan lagu yang sama, wartawan tidak boleh merangkap menjadi anggota Ormas dan/atau LSM. Statemen itu diulang dan diulang terus-menerus dari tahun ke tahun. Menjadi anggota saja tidak boleh, apalagi jadi pengurus Ormas/LSM. Pertimbangannya adalah untuk independensi, baik independensi wartawan maupun independensi sebagai Ormas/LSM.

Ketua Umum Persatuan Pewarta Warga Indonesia (PPWI), Wilson Lalengke, SPd, MSc, MA, memberikan tanggapan keras atas pernyataan Dewan Pers dalam bentuk video yang direkam di Sekretariat Nasional PPWI di Bilangan Slipi-29 Jakarta Barat, DKI Jakarta, Jumat (09/07/2021).

Alumni PPRA-48 Lemhannas RI tahun 2012 itu menilai bahwa Dewan Pers dan para underdog-nya tidak paham spirit dan tujuan pembentukan Undang-Undang Nomor 40 tahun 1999 tentang Pers.

Bahkan, menurut Lalengke, para pengurus Dewan Pers masih tidur sehingga mereka perlu dibangunkan agar mengerti bahwa dunia kewartawanan sudah berubah jauh dari 20-an tahun lalu.

Lalengke juga menyampaikan bahwa dalam sejarah peradaban manusia, wartawan selalu muncul dari komunitas-komunitas yang di zaman modern ini diformalkan dalam bentuk Ormas dan LSM.

Baca Juga:  PPWI Ucapkan Selamat dan Sukses kepada LSP Pers Indonesia

“Para pemimpin pejuang kemerdekaan bangsa adalah wartawan yang muncul dari komunitas bangsanya, mereka yang mampu merasakan pahit-getirnya hidup sebagai bangsa yang ditindas, bangsa terjajah. Mereka kemudian muncul dengan berbagai ide dan gagasan yang dituliskan dan disebarluaskan untuk kemudian menjadi semangat bagi bangsanya untuk bangkit berjuang,” papar lulusan pasca sarjana bidang studi Global Ethics dari Universitas Birmingham, Inggris, ini dengan tegas.

Menurut Lalengke, semua orang adalah jurnalis atau wartawan. Karena itu, Dewan Pers tidak patut menghambat warga untuk mencari, mengumpulkan, mengolah dan menyebarkan informasi yang diperolehnya melalui media yang dimilikinya kepada orang lain.

Pers yang disebut saat ini berbeda dengan pers pada 20 tahun lalu. Sebab, pers pada 20 tahun lalu lebih pada media cetak. Sehingga, yang disebut pers itu adalah koran cetak dengan seluruh perangkatnya seperti mesin cetak, kantor redaksi yang besar, ada mesin ketik,  jumlah wartawan yang banyak, disiapkan tenaga layout, dan lainnya.

“Pers di zaman kemajuan teknologi informasi saat ini, beda dengan pers pada 20 tahun lalu, bos”, tandas Lalengke.

Saat ini, kata Lalengke, setiap kantor, setiap rumah dan setiap tempat di mana saja adalah kantor pers. Sebab, dengan hanya memiliki satu perangkat teknologi handphone android, seorang warga sudah bisa mencari, mengelolah dan menyebarkan informasi kepada orang lain.

“Informasi warga lebih original, lebih asli, lebih jujur dan lebih memiliki rasa. Jadi, jurnalis itu lahir dari suka-dukanya rakyat”, demikian Lalengke. (APL/Red)

Editor: Cyriakus Kiik

Komentar