oleh

Tiga Masalah di Malaka Tengah Dibahas Forkompimcam Plus

BETUN, TIMORline.com-Tiga masalah di wilayah Kecamatan Malaka Tengah Kabupaten Malaka Propinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) dibahas Forum Komunikasi Pimpinan Kecamatan (Forkompimcam) setempat.

Ketiga masalah itu adalah keamanan dan ketertiban masyarakat (Kamtibmas); Gangguan Sosial; dan Pandemi Covid-19.

Hal itu mengemuka dalam Rapat Forkompimcam Malaka Tengah di Mapolsek setempat, Selasa (08/06/2021).

Kapolsek Malaka Tengah Iptu I Wayan Budiasa. (Foto: Cyriakus Kiik/Timorline.com).

Rapat ini dipimpin Kapolsek Malaka Tengah Iptu I Wayan Budiasa, didampingi Danramil 1605-04/Betun Mayor Ahmad Hartono. Hadir pula pejabat Kecamatan Malaka Tengah, para pimpinan agama dan sejumlah kepala desa dari 17 desa yang ada di wilayah Kecamatan Malaka Tengah.

Sebagai pimpinan rapat, setelah ada pengantar sekilas tentang agenda rapat, Kapolsek Budiasa langsung memberikan kesempatan kepada para peserta rapat yang hadir untuk menyampaikan pendapatnya.

Pj. Kepala Desa (Kades) Kamanasa, Agustinus Nahak, misalnya, mengungkap adanya balapan liar di kawasan batas Desa Kamanasa dan Harekakae.

“Aksi anak-anak ini sangat meresahkan. Biasanya terjadi pada sore hari mulai jam 16.00-18.00 wita atau jam 4-6 sore”, kata Pj. Kades Agustinus.

Hal senada disampaikan Pj Kades Harekakae Emanuel Bere. Menurut Emanuel, aksi balapan liar anak-anak muda sangat mengganggu warga sekitar terutama saat magrib.

“Anak-anak itu sudah ditegur berulang-ulang tetapi aksi-aksi mereka masih tetap terulang sampai sekarang”, kata Pj. Kades Emanuel.

Pj. Kades Kamanasa Agustinus Nahak saat menyampaikan situasi Kamtibmas di wilayahnya dalam Rapat Forkompimda Plus Kecamatan Malaka Tengah di Mapolsek Malaka Tengah, Selasa (08/06/2021). (Foto: Cyriakus Kiik/Timorline.com).

Hal berbeda disampaikan Fransiskus Nuak Seran, Pj Kades Naimana. Fransiskus mengungkap adanya aksi warga tertentu pada malam hari. Mereka menggunakan mobil masuk ke wilayah ini pada malam hari. Sehingga, warga setempat mencurigainya sebagai gerombolan pencuri.

“Boleh dibilang ini gangguan sosial yang perlu diwaspadai. Kita minta aparat kepolisian juga bisa ikut memantau gerakan-gerakan warga ini pada malam hari”, kata Pj. Kades Fransiskus.

Baca Juga:  5.634 Warga Malaka Terkena Dampak Banjir Sungai Benenai

Fransiskus mengungkapkan, tensi aksi warga tertentu ini meningkat setelah bencana banjir Benenai, awal April lalu.

Hewan peliharaan warganya kemudian kecurian. “Ini yang membuat warga Naimana semakin curiga, jangan-jangan warga tertentu yang masuk ke wilayahnya menggunakan kendaraan luar itu gerombolan pencuri”, kata Pj. Kades Fransiskus.

Kapolsek Malaka Tengah Iptu I Wayan Budiasa meminta sesama anggota Forkompimcam, para pimpinan agama dan kepala desa untuk selalu menjaga situasi Kamtibmas di wilayah masing-masing.

Dalam situasi pandemi Covid-19 saat ini, Kapolsek Budiasa juga meminta para pimpinan agama dan kepala desa untuk tak henti-hentinya dan tak bosan-bosannya mengimbau masyarakat selalu taat protokol kesehatan (prokes) Covid-19.

“Kita tidak boleh lalai dan harus taat protokol kesehatan. Sebab, kita tidak tahu pandemi ini sampai kapan”, tandas Kapolsek Budiasa.

Kasat Reskrim Polres Malaka Iptu Jamari dan Kapolsek Malaka Tengah Iptu I Wayan Budiasa pose bersama pejabat Kecamatan, para Kades dan para tokoh agama seusai Rapat Forkompimda Plus di Mapolsek Malaka Tengah, Selasa (08/06/2021). (Foto: Cyriakus Kiik/Timorline.com).

Mantan Kapolsek Malaka Barat ini juga mengimbau masyarakat Malaka terutama anak-anak muda untuk menghentikan semua kegiatan yang mengganggu dan meresahkan masyarakat.

Sebab, persoalan Kamtibmas dan lainnya merupakan tanggungjawab bersama semua elemen masyarakat demi membangun daerah Malaka.

“Semua kita harus berkolaborasi untuk membangun Kabupaten Malaka dengan tetap menjaga situasi Kamtibmas khususnya di wilayah hukum Kecamatan Malaka Tengah”, tandas Kapolsek Budiasa.

Rapat ini diakhiri dengan arahan Kasat Reskrim Polres Malaka Iptu Jamari.

Kasat Jamari mengingatkan para Kades yang hadir untuk membangun komunikasi baik dengan semua elemen masyarakat di desa.

Sebab, menurut Kasat Jamari, dalam banyak pengalaman selama ini, pada umumnya gangguan-gangguan sosial yang terjadi di desa terbawa dari Pilkades.

Setelah Pilkades, pihak yang menang tidak mau merangkul pihak yang kalah. Pihak yang kalah juga tidak mau terima baik kebijakan-kebijakan Kades yang menjabat.

“Pro kontra terjadi di masyarakat. Bantuan-bantuan pemerintah juga jadi masalah. Ini kemudian menjadi gangguan sosial berkelanjutan di desa. Jadi, kepala desa harus pintar-pintar merangkul masyarakat”, demikian Kasat Jamari.

Baca Juga:  Kecelakaan Maut Beruntun Terjadi di Umasaker-Malaka

Selain Danramil 1605-04/Betun Mayor Ahmad Hartono bersama pejabat kecamatan dan para Kades, hadir pula Ketua NU Kabupaten Malaka Zaenal Mauttaqin, pendeta dari unsur agama Protestan dan frater dari unsur agama katolik.

Penulis/Editor: Cyriakus Kiik

Komentar