oleh

Adonara Nuha Nebon dalam Tujuh Siklus Peradaban Dunia (Bagian 1)

Oleh: Chris Boro Tokan

Pendahuluan

SECARA akademis, rujukan tentang Benua Atlantis yang Hilang, Arysio Santos antara lain melalui pembuktian Geologis dan Vulkanis, kajian berbagai perkembangan peradaban dan kebudayaan besar di dunia, merujuk ke Kepulauan Sunda Besar (Jawa-Sumatra-Kalimantan) daratan Jawa Purba, sebagai lokasi surga yang hilang.

Sedangkan Stephen Oppenheimer merujuk lokasi surga yang hilang ke Kepulaun Sunda Kecil (Nusa Tenggara Timur/NTT-Nusa Tenggara Barat/NTB), beserta Maluku, Sulawesi (daratan Adonara Purba, Solor Purba, Lembata Purba). Membuktikan dengan kajian Gen Asli menunjuk awal mula penyebaran Manusia di dunia dan Bahasa Autronesia sebagai Bahasa Asli sumber segala bahasa di dunia.

Tentu jauh hari sebelumnya garis Wallace-Webertelah membuktikan asal flora-fauna di Dunia Lama, yakni Dataran POROS (NTT-NTB-Maluku, Sulawesi) sebagai wilayah pembagi ke Dataran SAHUL/Timur (Irian-Aru menyatu AUSTRALIA), dan ke Dataran SUNDA/Barat (Jawa Purba: Jawa-Kalimantan-Sumatra yang menyatu ASIA).

Melalui pembagian dunia purba flora-fauna dalam garis Wallace-Weber, tercermati wilayah dari listofer benua yang hilang (Atlantis), dataran Sunda Kecil, Kepulauan Maluku, Pulau Sulawesi sebagai wilayah Poros. Sedangkan daratan Jawa Purba (Jawa-Kalimantan-Sumatra), dataran Sunda Besar dengan berbagai pulau kecil di sekitar (sebagai listofer Benua Asia), menempati posisi wilayah Barat. Begitupun daratan Papua/Irian (sebagai listofer Benua Australia), dataran Sahul dalam posisi sebagai wilayah Timur. Garis Wallace-Weber menandaskan bahwa Wilayah Poros sebagai wilayah pembagi, dalam pemaknaan Flora-Fauna yang ada di Poros, dapat ke Dataran Sunda (BARAT), juga ke Dataran Sahul (TIMUR), sedangkan di wilayah BARAT tidak mungkin ke TIMUR, dan sebaliknya. Maka Oppenheimer membuktikan penyebaran manusia AWAL di dunia dari wilayah Poros (Nusa Tenggara-Maluku) itu melalui kajian GEN orang Asli dan penyebaran Bahasa Austronesia sebagai sumber Asli berbagai Bahasa di Dunia ke Timur, Barat, Utara, Selatan.

Tujuh Siklus Peradaban Dunia
Dalam konteks Teori Atlantis Arysio Santos dan Teori Surga di Timur Oppenheimer, serta Dialektika Geologi Allan Woods dan Ted Grant , maka terjelaskan melalui siklus peradaban dunia yang hilang dikarenakan misteri peristiwa alam yang sangat dasyat dalam keagungan dan kuasa Tuhan:

(1). Siklus peradaban (kepunahan massal) 1 Ledakan dasyat (The Big Bang) memecahkan ketiadaan (kesunyian) menjadi Sinyal Cahaya, ada Awal Mula, (Alpha), terpahami dalam Atlantis Keilahian yang diliputi Air dengan kesunyian dalam Sinyal Cahaya (Udara) Alam Raya, makhluk hidup yang ilahi: manusia unsur Air-Udara: Masang Raya-Peni Masan; yakni Massa Alam Semesta.

(2). Siklus peradaban (kepunahan massal) 2 berakhir pada 80-70 ribu tahun lalu mengakhiri Atlantis Lemuria, Peradaban, yakni Sinyal Cahaya menjadi Sinar Terang, Alam dalam akhir siklus 1 sebagai awal siklus 2 dengan penciptaan alam semesta dan manusia alam unsur tanah-api: Kelake Ado Pehan-Kwae Sode Boleng; yakniAdam-Eva,

(3). Siklus peradaban (kepunahan massal) 3 berakhir pada 12-11 ribu tahun lalu mengakhiri Atlantis Sang Putra, Kebudayaan, Manusia yang dimulai pada akhir siklus 2 yakni manusia laut/air Dasi Lali Jawa (Pria) menyelamatkan manusia darat/tanah Edo Baka Heti Timu (Perempuan), keduanya menikah yang kemudian dengan segala turunan membangun peradaban, Kebudayaan melalaui Kekaiseran Atlantis. Kelak kekaiseran itu hilang/tenggelam seiring akhir siklus 3 melalui bencana banjir Nabi Nuh, berujung Nabi Abraham diperintahkan keluar meninggalkan wilayah itu oleh Tuhan.

Baca Juga:  Gadis TTU Dianiaya di Rumah Jabatan Bupati lalu Disetubuhi di Areal Kebun Pepaya

(4). Siklus peradaban (kepunahan masal) 4 berakhir 7-5 ribu tahun lalu mengakhiri Replika Atlantis India, Maha Meru 4 Pilar dan Pilar ke 5 Poros, yang dimulai pada akhir siklus 3 dikenal sebagai revolusi neolitikum. Melalui pembangunan peradaban atlantis di berbagai belahan dunia.

(5).Tercermarti Siklus peradaban (kepunahan massal) 5 berakhir 2 ribu tahun lalu mengakhiri Replika Atlantis Sinai (Si Nai=Dari Sini),10 Perintah Allah (Israel) yang dimulai pada akhir siklus 4 untuk pemurnian monoteisme, Allah yang Esa. Pemurnian terjadi untuk membangun/mengembalikan alam dan manusia yang telah terjebak meng-Allah-kan alam dan manusia akibat revolusi neolitikum.

(6) Kekinian berlangsung. Siklus peradaban (kepunahan massal) 6 Replika Atlantis Khailasa (Kailasa=Kai Asa=kembali ke semula) melalui Salib Kristus dan Kosmogram Atlantis (Bulan-Bintang), berlangsung masa anugerah/karunia keselamatan, yang dimulai sejak akhir siklus 5 yakni 2000 tahun silam demi penegasan sinar terang kebenaran akal melalui sinyal cahaya kelembutan-kerendahan hati dalam figur : Yesus-Muhamad.

(7). Siklus peradaban (kepunahan massal) 7, yakni kerajaan-NYA 1 ribu (seribu) tahun yang diliputi damai (kebenaran-ketegasan akal dalam sinar terang dan kebaikan-kelembutan budi dalam sinyal cahaya): “akal-budi”. Kelak siklus 7 berakhir dalam akhir peradaban, “keremukan dasyat” (The Big Chrunch), Akhirat dunia (Omega), terpahami dalam Atlantis Keakhiratan !!!

Dalam 7 siklus peradaban dunia terjelaskan, Siklus 1: Dalam sinyal CAHAYA meliputi kehidupan unsur air dan udara, Manusia Keilahian. Semesta dipenuhi air dalam kegelapan (manusia alam unsur air dan udara: yang baik itu malekat-yang jahat itu setan), sehingga alam semesta dengan segala isinya bernyawa dalam Masang Raya-Peni Masan, dalam pembentukan Massa Benua.

Semuanya demikian karena ditiupkan napas-NYA (Roh) ke dalam alam semesta dengan isinya. Roh-NYA itu menyatukan Jiwa-NYA dengan raga alam semesta beserta seluruh isinya termasuk manusia, sehingga menghidupkan !!! Terungkap dalam mitos “Masang Raya-Masan Doni-Peni Masan” di BUKIT SEBURI oleh Paul Arndt dalam bukunya Paji-Demon. Konflik Dua Bersaudara di Kepulauan Solor. Maka kesenyapan itu secara pelan namun pasti dikuasai CAHAYA yang menjadi SINAR, terang (Alpha). Sedangkan yang menolak terang tetap melayang (angin) dalam kesenyapan, tersimbol melalui mitos pohon beringin (BAO) di Lamaholot sebagai berlindungnya nitun (iblis) laut/Air!

Siklus 2: Dalam sinar TERANG menguasai kehidupan unsur Tanah dan Api. Arysio Santos menyebutAtlantis Lemuria, Alam, Manusia Alam, Peradaban. Jadilah TERANG yang menguasai seluruhnya di ujung siklus 1, melalui proses penciptaan alam semesta dengan segala isinya, berujung penciptaan manusia unsur Tanah dan Api, dalam mitos Kelake Ado Pehang Beda dan Kwae Sode Boleng di Ile (gunung) Boleng, tidak terluput dibayangi kegelapan dalam simbol godaan di firdaus (ular simbol air/ air bah). Akhirnya terjadi kepunahan raga dalam KONFLIK DUA BERSAUDARA (Kain vs Abel) meningggalkan jiwa yang melayang (angin) tersimbol dalam mitos pohon asam (TOBI/A) di Lamaholot sebagai berlindungnya nitun (iblis) darat. Pada akhir siklus ini menghilangkan benua, BENUA YANG TENGGELAM. Berakhirnya siklus 2, disebut Arisyo Santos dengan berakhirnya ATLANTIS LEMURIA=Alam, era Peradaban. Era itu sebagai pemecahan massa benua tahap. 1, 2, 3. Pemecahan tahap 3 membaptis nama Adonara Nuha Nebon, bermakna intisari dunia yang hilang terkumpul di Adonara.

Baca Juga:  Ketua DPC PDIP Malaka Sebut Dua Orang Calon Pemimpin Abal-abal

Siklus 3: Atlantis Sang Putra, Kebudayaan. Manusia Kebudayaan. Dewa Laut/Raja Laut/ Penguasa Air (POSEIDON sesuai dialog Plato) muncul dalam akhir kepunahan massal siklus 2. Dalam mitos Lamaholot figur Poseidon adalah Dasi Lali Jawa (Jawa=BARAT), yang menyelamatkan Putri yang tertinggal sendirian (dalam Dialog Plato) di Timu (TIMUR) karena bencana yang menenggelamkan/menghilangkan benua. Putri itu ditemukan dalam mitos Lamaholot adalahEdo Baka Heti Timu.

Pasangan Dasi Lali Jawa-Edo Baka Heti Timu menurunkan keturunan yang kelak membangun KEBUDAYAAN yang dikenal dengan KERAJAAN/KEKAISERAN ATLANTIS (seperti terjelaskan Dialog Plato) dalam wilayah Daratan Baru (listofer) “Adonara Nuha Nebon”.

Ujung kepunahan massal siklus 3, disebut Arisyo Santos dengan berakhirnya ATLANTIS SANG PUTRA=Manusia, era Kebudayaan, yang ditandai dengan bencana BANJIR Nabi NUH , (dengan ke 3 Putra SEM-CHAM-JAVET) yang menenggelamkan kekaiseran Atlantis. Bencana tenggelamnya Kekaiseran Atlantis memetakanAdonara Nuha Nebon dalam Kepulauan Solor Purba (“Solor Laga Doni”) mencakup peta seluruh kepulauan wilayah Kekaiseran Atlantis (kecuali Madagaskar dan Selandia Baru, beberapa pulau di lautan Pasifik, yakni Rapa Nui) dalam modelnya seperti sekarang, yang tersimbol dalam Kepulauan Solor!. SEM tertelusuri dalam jejak turunan berposisi di lokasi NAMANG/ NOBO di Ile Boleng, CHAM tertelusuri dalam jejak turunanberposisi di lokasi UA BELEDUN, sedangkan JAVET tertelusuri dalam jejak turunan berposisi di lokasi Raran DOPI dan sekitarnya.

Di ujung siklus 3 (kepunahan massal), Abraham harus meninggalkan wilayah itu atas perintah Tuhan. Abraham keluar dari wilayah itu sebagai Gen dari SEM, ke India, keturunan CHAM ke TIMUR dan Gen Javet ke BARAT.

Dalam cermatan di Lamaholot terungkap figur Nabi Nuh dan Abraham dengan sebutan “Jawa Palang Ama” dan “Kou (Jou) Boleng Ama”. Nabi Nuh dalam sebutan “Jawa Palang Ama” bermakna sebagai “Bapa Penyelamat Peradaban”. Nabi Abraham dalam sebutan “Kou (Jou) Boleng Ama”. atau “Rou Boli Ama” bermakna sebagai “Bapa Guru Kelembutan, Kesejukan (Kerendahan Hati)”.

Siklus 4: Replika Atlantis di India dalam “Sepasang pilar di Timur dan sepasang pilar di Barat, pilar ke lima adalah Poros”. Tercernati di Barat (Mesir) dengan Piramida, di Timur (Cina) dengan Yin-Yan. Menurut Arysio Santos, bahwa kekaiseran atlantis yang tenggelam dalam akhir siklus 3, replikanya muncul di India. Dalam relevansi logis dengan keluarnya Abrahamdari wilayah Poros atas perintah Tuhan. Berakhir siklus 4 dengan kepunahan massal mencairnya es di pegunungan himalaya yang memisahkan daratan sepanjang pantai yang menghubungkan India-Malaka-Sumatra.

Yacob cucu Abraham berubah nama menjadi Israel dan mendiami wilayah baru sesuai nama barunya itu. Dalam ceritra berbagai arus balik ke Lamaholot melalui setiap tahapan pengulangan dalam komunitas “Keroko Puken”, “Ile Jadi”.

Siklus 5: replika Atlantis dalam “Dua Loh Batu”. Kisah nabi Musa membawa umat Isreal ke luar dari Mesir, berujung penerimaan 2 loh batu berisi 10 Perintah Allah di gunung Si-Nai. Dikaji dalam filsafat Timur di Arab yakni filsafat Alam (Kosmogram Atlantis). Dalam filsafat Barat di Yunani yakni filsafat Manusia (Salib Atlantis).

Baca Juga:  Komunitas SMGM Kefamenanu Adakan Bakti Sosial di Desa Oenak

Berakhir siklus 5 melalui kepunahan massal bagi umat pemberontak (Kaum Penguasa Mesir dan Umat Israel). Umat israel yang keluar/terbebaskan dari Mesir, tidak seorangpun menginjakan kaki di Israel, selain turunan (anak, cucu) mereka. Begitupun Firaun dan seluruh serdadu mesir yang terhempas arus gelombang laut merah, hanyut, tidak seorangpun kembali ke Mesir. Melalui ceritra berbagai arus balik ke Lamaholot dalam setiap tahap pengulangan komunitas Sina-Jawa,Seran- Goran, Kore-Bima.

Siklus 6: Replika Salib Atlantis melalui “Salib Yahudi”. Di Barat (Roma) dalam “Salib Kristus”, sedangkan di Timur (Arab) dalam “Bulan-Bintang” (Kosmogram Atlantis). Tercermarti sebagai era karunia keselamatan sampai kekinian. Kelak akan berakhir segera dengan berbagai gejala semakin menyeruak ketidakadilan sosial-ketidakmanusiaan dalam menimpa rakyat, untuk mengakhiri kepunahan massal 6.

Tertampilkan pengulangan konflik dalam substansi Paji vs Demon, konflik Dua Bersaudara, simbol konflik Kakak vs Adik sebagai inti masalah konflik dalam kehidupan setiap komunitas di Lamaholot. Konflik demikian menggambarkan berbagai konflik gelobal di dunia hingga kini. Simbol konflik manusia unsur air-udara vs manusia unsur tanah-api.

Siklus 7: Kerajaan 1000 tahun, era Kebenaran-Kebaikan segera akan datang!!! Era ini menegaskan tidak benar-tidak baik telah berakhir dominasinya, yakni era kekuasaan Isa Almaseh, Imam Madhi .

Dari kerangka konsep pemikiran ini, menempatkan “Woka”/Bukit Seburi simbol seluruh Bukit sebagai “NOBO” yang bermakna tempat duduk, kursi, sesungguhnya milik Perempuan, Ratu. Sedangkan “Ile”/Gunung Boleng simbol seluruh gunung sebagai pilar/ “Rie, Nedek, EKEN”, milik laki-laki, Raja.

Nobo dengan Eken saling dialektik, satu kesatuan yang terkukuhkan Alam Semesta sebagai penopang bumi dan langit, simbol perempuan-pria penopang dan penerus kemuliaan kehidupan. Dengan demikian ungkapan: “Batu yang dibuang oleh Tukang bangunan (Pewarta) adalah “batu penjuru”, Nuba. Nobo, Batu (“Wato. Nuba Nara”), Bukit Batu-GunungBatu, Pilar Penjuru (“Ile“, “Nedek, Rie”, “Eken Matan Pito”), si Atlas, dewa Yunani pemikul langit, Adam.

Yesus Kristus (Adam Baru) yang telah menyucikan Lewotanah (Salib-NYA simbol Lewotanah) dengan darah-Nya yang kudusnyawa-Nya yang mulia, (yang ditolak dan dibuang oleh para pemiliknya) telah menjadi “Woka-Ile“, “Nobo-Nedek”, “Rie”,“Eken Matan Pito”, memperbarui Lewotanah Atlantis-Adonara (dunia) ! (Bersambung)

Dataran Oepoi, Kota Karang Kupang, Tanah Timor, 15 Agustus 2015

Komentar