oleh

Tais Indonesia Jadikan Rumah Baca Pilot Project Pendidikan di Pelosok NTT

BETUN, TIMORline.com-Tais Indonesia sebagai komunitas literasi yang dibidani sejumlah anak muda asal Kabupaten Malaka di Jakarta saat ini gencar berkampanye tentang program literasi.

Para pegiatnya bergerak dari kampung ke kampung dan dari desa ke desa. Mereka ingin membangun dan memiliki rumah baca di sana. Program ini diyakini dapat membebaskan masyarakat Indonesia khususnya masyarakat pelosok Propinsi NTT dari buta aksara.

Komitmen Tais Indonesia adalah menjadikan rumah baca sebagai pilot project literasi di pelosok NTT.

Pada akhir April 2021 lalu, di bawah arsitek rumah baca Tais Indonesia, Adhy Hane, anak-anak muda itu menghadirkan sebuah rumah baca di Desa Builaran Kecamatan Sasitamean Kabupaten Malaka.

Desa ini, dalam catatan Kementerian Pariwisata dan Kebudayaan Indonesia, termasuk desa adat. Sehingga, desa ini harus menjadi perhatian khusus pemerintah baik pemerintah pusat, propinsi maupun kabupaten.

Ruangan yang dipinjamkan warga Desa Builaran untuk dijadikan sebagai Rumah Baca Tais Indonesia. (Foto: Istimewa).

Tanpa berprasangka buruk akan ditetapkannya Desa Builaran sebagai desa adat, Adhy memulai project literasi di sana. Dengan bekal prasarana meminjam ruangan, Adhy dan kawan-kawan mendirikan sebuah rumah baca.

Maklum, kebetulan ayahnya, Frans Hane, seorang guru sekolah dasar. Frans menjadi pengasuh rumah baca ini. Ternyata, kehadiran rumah baca ini sangat diminati anak-anak Desa Builaran. Mereka antusias mendatangi rumah baca ini. Selain membaca, mereka juga meminjam buku.

“Kami sangat terharu dan bahagia melihat antusiasme anak-anak mendatangi rumah baca ini”, kesan Adhy melalui akun WhatsApp-nya kepada TIMORline.com, Senin (03/05/2021) malam.

Karena itulah, masih dalam suasana Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas), Adhy secara pribadi menyampaikan terimakasih sebesar-besarnya atas niat baik dan tulus dari semua donatur. Sebab, para donatur itulah yang diakui telah memungkinkan terbentuknya sebuah rumah baca sederhana di Desa Builaran.

Baca Juga:  Mako Polres Malaka-NTT mulai Dibangun
Anak-anak di Desa Builaran Kecamatan Sasitamean yang antusias membaca di Rumah Baca Tais Indonesia. (Foto: Istimewa).

Adhy kenudian bercerita tentang latar belakang munculnya pikiran untuk membuat rumah baca sederhana itu:

Hampir setengah tahun, saya di Builaran waktu pandemi, sebelum Nopember 2020 kembali ke Jakarta. Saat di kampung, saya melihat adik-adik saya masih sangat kurang literasi.

Bahkan ada beberapa yang sudah sekolah namun masih sangat sulit membaca. Timbul niat untuk mendirikan perpustakaan kecil.

Puji Tuhan akhirnya bisa. Ini berkat bantuan dari orang orang baik. Tais Indonesia berharap semoga dengan rumah baca ini menambah wawasan dan gairah belajar adik-adik tercinta di pelosok sana. Dibimbing oleh ayahanda yang juga merupakan guru sekolah dasar, Bapak Frans Hane.

Kami Tais Indonesia juga berkomitmen untuk menjadikan project rumah baca anak ini sebagai pilot project untuk beberapa daerah di pelosok NTT yang sulit terjangkau.

Saat ini, untuk tempat rumah baca, kami meminjam ruangan.
Setiap harinya, sekitar 20-an anak mengunjungi rumah baca dan meminjam buku-buku di sini.

Kami juga masih menerima donasi buku bacaan, buku tulis, permainan huruf dan permainan anak-anak lainnya.

Untuk lokasi drop point dan konfirmasi, dapat menghubungi narahubung Adhy Hane di No. Kontak: 081213421407.

Mengutip kata-kata Nelson Mandela, Adhy bilang, “Pendidikan adalah senjata yang paling kuat di dunia, karena dengan pendidikan, Anda mampu mengubah dunia”.

Selamat Hari Pendidikan.

Penulis/Editor: Cyriakus Kiik

Komentar