oleh

Gugatan Santy Taolin kepada Mama Kandung Memasuki Pokok Perkara di PN Atambua

ATAMBUA, TIMORline.com-Gugatan Santy Taolin kepada mama kandungnya memasuki pokok perkara di Pengadilan Negeri (PN) Atambua.

Perkara yang didaftar dengan Nomor: 06/Pdt.G/2021/PN. Atb tanggal 22 Februari 2021 melalui kuasa hukum Santy Taolin yakni Helio Moniz Araujo, SH, MH, Ferdinand Ba’e, SH dan Kornelius Dominggus Talok, SH telah memasuki pokok perkara setelah sidang mediasi gagal mendamaikan anak dan mama.

Gugatan Santy Taolin yang copiannya diterima TIMORline.com, Sabtu (24/04/2021), mengungkapkan,  gugatan itu mengenai perbuatan memasuki dan menyuruh orang lain memasuki pekarangan dengan merusakan pekarangan, menaruh alat-alat kerja, material-material, melakukan aktivitas kerja, dan mendirikan bangunan tambahan di atasnya secara tanpa hak dan tanpa seizin yang berhak sehingga merupakan perbuatan melawan hukum.

Menurut Santy Taolin, tanah miliknya itu berasal dari bapak kandungnya Dominggus Taolin (alm). Penolakan warisan pun sudah dilakukan mama kandungnya Kristina Lazakar dan kedua adik kandungnya Ervina Taolin dan Hanny Oktvian Taolin. Penolakan ini diperkuat dengan putusan Pengadilan Negeri Atambua Nomor: 13/Pdt.G/2016/PN.Atb jo. Putusan Pengadilan Tinggi Kupang Nomor: 155/PDT/2016 PT.KPG.

Dalam sidang mediasi Santy Taolin memilih tidak hadir di Pengadilan sampai mediasi dinyatakan gagal oleh Hakim Mediator Pengadilan Negeri Atambua dalam perkara ini.

Kristina Lazakar saat dihubungi TIMORline.com, Sabtu (24/4/2021) membenarkan adanya gugatan dari anak kandungnya kepada mama kandungnya di PN Atambua.

“Iya, benar. Saya digugat anak kandung, namanya Santy Taolin. Santy itu anak sulung saya, dia yang paling besar. Saya sudah tua dan tidak mengerti hukum. Jadi, perkara ini saya serahkan kepada kuasa hukum saya dari Firma Hukum ABP untuk menghadapi gugatan anak kandung saya Santy Taolin”, kata Kristina Lazakar.

Baca Juga:  Adi Nesi punya Keterbatasan Fisik, Tak Disentuh Bantuan Apa pun Tapi Berkelimpahan Kasih Tuhan

Kristina menjelaskan, sebagai anak sulung, Santy yang gugat. Semua harta ini hanya dia yang menguasainya.

Lalu bagaimana kedua adiknya Ervina Taolin dan Hanny Oktavia Taolin, apa mereka tidak memiliki hak warisan dari bapaknya itu?

“Karena rumah ini saya yang tinggal, kemudian Santy Taolin gugat agar saya keluar dari rumah ini. Saya sebagai mama ingin agar harta ini dibagi adil dengan kedua adiknya. Saat dia (Santy Taolin, red) buat surat penolakan warisan saat itu, adiknya Hanny Taolin masih di bawah umur, waktu itu Hanny Taolin masih berumur 11 tahun. Saya serahkan semua ini pada kuasa hukum saya karena saya tidak mengerti hukum”, jelas Kristina Lazakar.

Rizal Simon Thene, SH, MHum selaku kuasa hukum Kristina Lazakar di Kupang, Minggu (25/04/2021), menjelaskan, perkara ini sudah memasuki pokok perkara. Selaku kuasa hukum sudah siap menghadapi gugatan Santy Taolin.

Gugatan Santy Taolin telah dijawab pada Kamis, 22 April 2021. Repliek Santy Taolin sesuai jadwal akan diberikan Majelis Hakim pada Senin, 3 Mei 2021.

Menurut Rizal, mengajukan gugatan itu hak Santy Taolin. Soal benar atau salah tergantung pembuktian di sidang Pengadilan dan penilaian Majelis Hakim.

Hanya saja, saat dibuat surat-surat warisan tersebut, posisi Hanny Taolin belum cukup umur. Sehingga, secara hukum belum cakap melakukan perbuatan hukum.

“Jika belum cakap melakukan perbuatan hukum maka anak tersebut berada di bawah pengawasan orang tua. Jika di bawah pengawasan orangtua dan hendak mengalihkan hak-hak warisan maka harus atas ijin Pengadilan”, kata Rizal.

Rizal juga menjelaskan, Kristina Lazakar dan anak-anaknya adalah warga negara Indonesia keturunan Tiong Hoa. Sehigga, untuk membuat surat-surat warisan harus dengan akta yang dibuat di hadapan Notaris/PPAT. Tetapi, bila pribumi, surat-surat warisan dapat dibuat menggunakan akta di bawah tangan.

Baca Juga:  Mitra Tidak Hadir, RDP DPRD Malaka Batal

Soal Putusan Pengadilan Tinggi Kupang Nomor:155/PDT/2016/PT. KPG jo. Putusan Pengadilan Negeri Atambua Nomor: 13/Pdt.G/2016/PN.Atb yang disinggung dalam gugatan Santy, menurut Rizal, justru putusan Pengadilan itu membatalkan surat-surat warisan yang dibuat Santy Taolin saat itu.

Menurut Rizal, surat-surat itu oleh Pengadilan dinyatakan batal demi hukum karena tidak memiliki kekuatan hukum mengikat dalam pertimbangan hukumnya.

Tidak ada amar putusan Pengadilan yang memberikan hak warisan tunggal kepada Santy Taolin atas harta peninggalan almarhum Dominggus Taolin”, katanya.

Alumnus Fakultas Hukum Universitas Nusa Cendana Kupang ini mengungkapkan, Santy Taolin tanpa hak melakukan balik nama atas sertifikat tanah. Atas perbuatannya, Penyidik Polres Belu sudah menetapkan Santy menjadi Tersangka.

Karena tidak terima penetapannya menjadi tersangka, Santy Taolin mengajukan Praperadilan terhadap Polres Belu tapi Praperadilan Santy Taolin ditolak PN Atambua.

“Ini perkara anak dan mama kandung bukan mama tiri”, demikian Rizal.

Penulis/Editor: Cyriakus Kiik

Komentar