oleh

Kehadiran Munarman Melegitimasi Baiat Anggota FPI menjadi Teroris JAD-ISIS

JAKARTA, TIMORline.com-Publik percaya dan memberikan dukungan penuh kepada Penyidik Densus 88 Bareskrim Polri mengungkap dugaan keterlibatan Munarman dalam peristiwa pidana yang saat ini sudah dikualifikasi sebagai tindak pidana terorisme dan memastikan Munarman sebagai tersangkanya.

Peran dan posisi Munarman hingga dilakukan penyidikan dan ditetapkan sebagai Tersangka, antara lain karena kehadiran, peran dan posisinya dalam baiat anggota FPI di tiga tempat terpisah yaitu di UIN Jakarta, Makasar dan di Medan.

“Kehadiran Munarman dalam baiat anggota FPI di tiga itu melegitimasi hubungan FPI dengan jaringan teroris JAD-ISIS di mata para Anshor Daulah”, tandas Ketua Tim Pembela Demokrasi Indonesia (TPDI) Petrus Selestinus.

Dalam rilisnya yang diterima TIMORline.com, Sabtu (01/05/2021) malam, Petrus mengatakan, apapun komentar Fadli Zon dkk mestinya tidak boleh keluar dari pakem perkembangan hasil penyidikan Densus 88, bukan sebaliknya menggunakan ruang publik dengan pengetahuan yang dangkal tentang Hukum dan HAM serta tanpa bukti menyangkal  keterlibatan Munarman dalam dugaan tindak pidana terorisme, bahkan memuji Munarman bagai Malaikat.

Konsekuensi Baiat
Petrus mengungkapkan, dari fakta-fakta sosial yang beredar, terungkap Munarman hadir di beberapa tempat dalam acara baiat anggota FPI ke dalam jaringan terorisme JAD-ISIS, terutama dalam acara Tabligh Akbar FPI 2015 di Markas FPI di Jln. Sungai Limboto, Makassar. Di situ Munarman memberikan ceramah tentang konspirasi Amerika terhadap dunia dan ingin menguasai negara muslim.

Kehadiran Munarman di Makassar ini diperkuat pengakuan Achmad Aulia (30), terduga teroris Jaringan Jamaah Ansharut Daulah (JAD) yang ditangkap Densus 88 beberapa waktu lalu dan keterangan terdakwa teroris Ade Supriadi dalam putusan perkara Pidana Terorisme No. : 459/Pid.Sus.Teroris/2019/PN.Jkt.Utr. tanggal 30 Juli 2019 di Pengadilan.

Baca Juga:  Perintah Gubernur VBL Bongkar Portal di Jalan, di Malaka Tidak Ada

“Kehadiran Munarman dalam segala kapasitasnya, yaitu Sekjen FPI, dalam baiat anggota FPI masuk ke dalam jaringan teroris JAD-ISIS, secara hukum harus dipandang bahwa Munarman telah melegitimasi dan mengikat anggota FPI menjadi bagian dari Anshor Daulah JAD-ISIS dengan segala akibat hukumnya, termasuk terikat kepada seruan dan perintah Anshor Daulah JAD-ISIS”, kata Petrus.

Seruan Bermuatan Tindak Pidana
Menurut Petrus, Munarman dan FPI harus ikut bertanggungjawab terhadap segala akibat perbuatan para Anshor Daulah yang baru dibaiat di UIN Jakarta, Makasar dan Medan. Sebab, Munarman dan FPI secara langsung dan tidak langsung telah mengikat FPI dalam JAD-ISIS dengan baiat anggotanya dalam aktivitas terorisme yang diperintahkan Daulah ISIS, sehingga memenuhi unsur-unsur pasal Tindak Pidana Terorisme.

Petrus yang Advokat Peradi ini menyebutkan, ada empat seruan atau perintah Daulah ISIS yang mengikat para Anshor Daulah dan dipastikan bermuatan tindak pidana terorisme, yakni:

a. Agar berhijrah dari darul kufar seperti Indonesia ke darul Islam yaitu ISIS di Syuriah atau ke Marawi, Filipina;
b. Bunuhlah warga negara yang mengirimkan tentaranya menyerang ISIS di Syuriah seperti Amerika, Prancis, Rusia, Inggris, Arab Saudi, dan lain-lain, di manapun para Anshor Kilafah berada;
c. Buatlah ladang jihad di daerah masing-masing dengan cara memerangi negara dan aparatnya yang tidak menggunakan hukum Islam seperti Indonesia;
d. Persiapkan diri secara fisik dan kemampuan dana dalam rangka kegiatan yang diserukan oleh Amir ISIS.

“Yang berwenang mencari dan menemukan bukti-bukti materil untuk divalidasi menjadi bukti hukum guna membuktikan kesalahan Munarman adalah Penyidik Densus 88, Jaksa Penuntut Umum dan Majelis Hakim dalam persidangan Pengadilan Negeri di wilayah hukum yang berwenang, bukan pada nyinyiran Fadli Zon dkk di Youtube atau Sosmed”, demikian Petrus.

Baca Juga:  Industri Manufaktur Waru Tetap Eksis di Masa Pandemi

Penulis/Editor: Cyriakus Kiik

Komentar