oleh

Publik Menunggu Giliran Yahya Waloni dan Rizieq Shihab dkk Diproses Hukum

JAKARTA, TIMORline.com-Kapolri Jenderal Polisi Listyo Sigit Prabowo membuat gebrakan memukau. Tanpa tedeng aling-aling, Jozeph Paul Zhang ditetapkan sebagai Tersangka dan memasukkan namanya dalam Daftar Pencarian Orang (DPO). Ia diduga telah melakukan tindak pidana penodaan agama.

Namun, tindakan ini dinilai dapat berdampak negatif dalam penegakkan hukum Indonesia bila tindakan kepolisian ini hanya berhenti pada Jozeph Paul Zhang.

Penilaian itu datangnya dari Ketua Tim Task Force Forum Advokat Pengawal Pancasila (FAPP) Petrus Selestinus dalam rilisnya yang diterima TIMORline.com, Rabu (21/04/2021).

Menurut Petrus, Kapolri harus menjadikan kebijakan penegakan hukum berupa “terhadap setiap pelaku kejahatan penistaan atau penodaan agama”, seperti pada kasus Jozeph Paul Zhang, menjadi sebuah kebijakan yang permanen dan berlaku terhadap siapapun  yang melakukan kejahatan penodaan agama dan terhadap agama manapun juga yang menjadi korban.

“Ini sangat urgen dalam negara mewujudkan tujuan nasional, yaitu merawat kebhinekaan”, tandas Petrus.

Petrus mengatakan, jika tindakan kepolisian ini hanya bersifat sporadis dan insidentil, langkah Polri hanya akan menjadi sebuah langkah yang bersifat politis dan kontra produktif yang nampak sebagai politik diskriminasi dalam penegakan hukum.

Sebab, Polri hanya mengejar pelaku penodaan agama tertentu. Itupun hanya karena tekanan opini publik dan tekanan massa. Sementara pelaku lain yang ada di depan mata dibiarkan tanpa ada tindakan kepolisian apapun.

Rizieq Shihab dan Yahya Waloni dkk
Sudah lama publik menanti, apa kebijakan permanen dari Pimpinan Polri terhadap pelaku kejahatan penodaan agama dan ujaran kebencian yang semakin marak dan berpotensi mengganggu harmonisasi kehidupan beragama, berbudaya dan berbangsa dalam merawat kebhinekaan sebagai bangsa yang merdeka dan berdaulat dalam negara hukum.

Dalam kasus penodaan agama, sikap Polri seakan-akan negeri ini tidak ada hukum dan tidak ada polisi. Sebab, kenyataannya sejumlah orang yang selama ini terus-menerus melakukan perbuatan yang diduga menista agama Islam, Kristen, Hindu, Budha dll, seperti Jozeph Paul Zhang, Uztads Yahya Waloni, Rizieq Shihab dll, tidak dilakukan penindakan, sebelum ada tekanan massa dan opini publik.

Baca Juga:  Sinergi dengan Media, Kajari Pulang Pisau-Kalteng Terima Piagam dari PPWI Pusat

Padahal, menurut Petrus, di dalam Kitab Undang-undang Hukum Pidana (KUHP) dan UU Informasi dan Transaksi Elektronik (ITE) yang merupakan sarana hukum dan/atau hukum positif, bisa diterapkan.

Polri sendiri sudah pernah menerapkan Pasal 156a KUHP dan Pasal 28 ayat (2) UU ITE ini terhadap kasus penodaan agama yang dituduhkan kepada Ahok, dan sekarang terhadap Jozeph Paul Zhang, tetapi tidak terhadap Yahya Waloni, Rizieq Shihab dll.

Hentikan Pola Diskriminasi
Pola tebang pilih, atau pola di mana Polri baru bertindak ketika ada tekanan opini dan tekanan massa, akan berdampak negatif bagi Penegakkan Hukum di Indonesia. Sebab, Polri dinilai tengah membangun budaya penegakkan hukum dalam kasus penistaan agama, setelah ada tekanan opini dan tekanan massa.

“Ini tentu dengan membeda-bedakan pelakunya dari agama mana dan agama apa yang dihina”, kata Petrus.

Mengutip penjelasan Kepala Biro Penerangan Masyarakat Divisi Humas Mabes Polri Brigadir Jenderal Rusdi Hartono, Petrus bilang, Jozeph Paul Zhang sudah ditetapkan menjadi tersangka “penodaan agama”.

“Ketika Polri memasukkan Jozeph Paul Zhang ke dalam daftar pencarian orang (DPO), patut kita apresiasi dengan harapan agar segera ditangkap, namun publik juga berharap agar Polri kejar terduga pelaku penodaan agama yang lainnya, yakni Yahya Waloni dan Rizieq Shihab dkk”, tandas Petrus.

Menurut Advokat Peradi ini, langkah bertindak Polri yang cepat dan tepat terhadap pelaku penodaan agama Jozeph Paul Zhang akan menjadi sia-sia dan tidak berdampak merawat kebhinekaan bila Polri hanya berhenti pada menjadikannya tersangka tetapi tidak mengejar terduga pelaku lain seperti Yahya Waloni, Rizieq Shihab dkk.

“Kasusnya sudah lama dilaporkan ke pihak Polri tetapi belum ada penindakan”, demikian Petrus.

Baca Juga:  Jejak Munarman dalam Jaringan ISIS

Penulis/Editor: Cyriakus Kiik

Komentar