oleh

Kasus Kepulangan CPMI Asal Sumba-NTT perlu Diselidiki

KUPANG, TIMORline.com-Kasus kepulangan Calon Pekerja Migran Indonesia (CPMI) perlu diselidiki dan menjadi atensi publik khususnya para penggiat anti human trafficking bersama pers.

Penyelidikan itu perlu dilakukan untuk membongkar proses perekrutan yang dilakukan Perekrut Lapangan (PL) bersama Disnakertrans SumbaTimur dan Sumba Barat Daya.

Hal ini disampaikan Dewan Pembina Pelayanan Advokasi untuk Perdamaian dan Keadilan (PADMA) Imdonesia Gabriel Goa dalam rilisnya yang diterima TIMORline.com, Senin (19/04/2021) malam.

Gabriel mempertanyakan apakah para CPMI itu benar direkrut perusahaaan Angkatan Kerja Antar Daerah (AKAD) untuk bekerja di wilayah NKRI atau oleh Perusahaan Pengerah Pekerja Migran Indonesia (P3MI) untuk bekerja di luar megeri?

Apkah mereka sudah dipersiapkan kompetensinya di Balai Latihan Kerja (BLK) dan diproses resmi melalui LTSA (Layanan Terpadu Satu Atap) sesuai amanat UU 18 Tahun 2017 tentang Pelindungan Pekerja Migran Indonesia?

Pertanyaan lainnya, apakah di Sumba sudah ada BLK PMI dan LTSA yang dibangun Pemerintah sesuai amanat UU No.18 Tahun 2017 tentang Pelindungan Pekerja Migran Indonesia? Apakah Gugus Tugas Pencegahan dan Penanganan Tindak Pidana Perdagangan Orang dan Migrasi Non Prosedural sudah terbentuk di Sumba?

“Fakta membuktikan bahwa angka Human Trafficking dan PMI Non Prosedural asal NTT khususnya Sumba terus meningkat. Ini menunjukkan belum ada keseriusan Pemerintah khususnya Pemerintah Propinsi NTT dan Pemkab se-Sumba mencegah dan menangani PMI”, tandas Gabriel.

Atas kenyataan itu, Gabriel mengaku terpanggil untuk menyelamatkan korban bujuk rayu Mafiosi Human Trafficking dan Migrasi Non Prosedural. Karena itulah, melalui lembaga PADMA Indonesia yang dipimpinnya membuat desakan sebagai berikut :

Pertama, mendesak Menaker dan Pemkab se-Sumba untuk mengoptimalkan BLK PMI dan LTSA di Letekonda-Tambolaka di Kabupaten Sumba Barat Daya;

Baca Juga:  Jumlah ODP Covid-19 di NTT 165 Orang

Kedua,mendesak Korban Tenaga Kerja asal Sumba yang mengalami kekerasan fisik dan psikhis di Jambi bersama keluarga memroses secara hukum pelaku dan jaringannya;

Ketiga, mengingatkan Calon Pekerja Migran asal NTT mematuhi aturan perundang-undangan dan tidak terjebak bujuk rayu jaringan Mafiosi Human Trafficking.

Penulis/Editor: Cyriakus Kiik

Komentar