oleh

Ditanya Penjabat Bupati Malaka Sudah Mandi atau Belum, Si Bocah: Belum

SIANG itu! Cuaca di atas Kota Betun, ibukota Kabupaten Malaka, sedikit terang. Bahkan, warga mengeluh mau terbakar saja. Soalnya, lagi panas terik. Tetapi, jauh di bebukitan sana, terlihat kabut. Kabut tebal.

Tak berselang lama, cuaca yang tadinya panas membakar berubah. Kabut tebal di bebukitan sana bergeser-bertengger di atas Kota Betun. Gerimis datang.

Cepat-cepat Penjabat Bupati Malaka Viktor Manek melepas sejumlah tanki milik Pemkab Malaka berisi air bersih di Wisma Viktori, Betun, Sabtu (03/04/2021).

Wilayah yang dituju adalah Kecamatan Malaka Tengah. Sasarannya di Desa Naimana, Fahiluka dan Lawalu. Inilah wilayah-wilayah terpapar luapan banjir Sungai Benenai sepekan terakhir.

Atas informasi Camat Malaka Tengah Eduardus Bere Atok, warga Dusun Kotun Desa Naimana di wilayahnya perlu mendapat pasokan air bersih pertama.

Dusun ini dihuni 103 kepala keluarga (KK). Mereka punya dua bak air untuk konsumsi hari-hari. Tetapi, satu bak rusak. Yang masih baik hanya satu bak. Saat hujan, barulah bak yang baik itu terisi air. Kebetulan baknya dibangun di sudut rumah warga.

Tetapi, air hujan ini digunakan hanya untuk mandi dan cuci. Untuk minum, salah satu warga Dusun Kotun Natalia de Fatima bilang, mereka harus berjalan jauh timba di sumur.

Kepada Penjabat Bupati Viktor dan para pejabat, Natalia menjelaskan, di tengah pemukiman warga ada sumur. Tetapi, sumur ini airnya asin. Mereka bisa pakai hanya untuk cuci. Untuk mandi dan minum tidak bisa.

Untuk mandi dan minum, kata Natalia, mereka timba dari sumur. Sumurnya pun jauh dari pemukiman. Sekira satu kilometer. Ukuran wadah yang dipakai pun terbatas. Paling 5-10 jerigen. Itu pun harus pergi pulang beberapa kali.

Baca Juga:  Bamsoet Buka Pameran Lukisan 'Semar Ngruwat Jagad'

Wadah penampung air di rumah juga terbatas. Syukur-syukur ada yang punya ember, bokor dan fiber kecil atau sedang. Karena itu, untuk urusan mandi, warga sedikit berhitung. Jadi nomor urut belakang. Pas hujan, ada air, ya, mandi sepuas-puasnya. Kalau tidak, mau tidak mau harus irit air.

Warga Desa Lawalu Kecamatan Malaka Tengah mendapat layanan air bersih dari Pemkab Malaka menggunakan wadah seadanya. Gambar diambil Sabtu (03/04/2021). (Foto: Cyriakus Kiik/Timorline.com).

Di sela-sela kesibukan pengisian air bersih tanki di bak air milik warga, Penjabat Bupati Viktor mendekati seorang bocah.

Viktor menarik dan memeluknya. Lalu, sedikit bercanda. Terlihat, Viktor sedikit gemas menepuk tubuh si bocah. Tepuk berulang-ulang.

Dalam pelukan eratnya, Viktor bertanya kepada si bocah. “Haris tian ka sei”, (Tetun, bahasa setempat yang artinya, “Sudah mandi atau belum”.).

Antara grogi dan takut, si bocah hanya terdiam. Karena diam, Penjabat Viktor bertanya lagi dalam keadaan gemas. Viktor berusaha agar si bocah bisa bicara. Meski hanya sepotong.

Ternyata si bocah buka suara. Tidak terkonfirmasi pasti siapa namanya. Siapa pula nama orangtuanya. Tetapi, kepada Penjabat Viktor, si bocah hanya berkata singkat, “Sei”. Bahasa lokal setempat, Tetun, yang artinya, “Belum”. Maksudnya, belum mandi.

Satu kata itu, “sei-belum” diucapkan si bocah untuk menjawab pertanyaan Penjabat Bupati Viktor tadi, “Sudah mandi atau belum”.

Pertanyaan dan jawaban itu tentu mudah diucapkan dalam situasi dan kondisi masyarakat Kabupaten Malaka khususnya masyarakat dataran saat ini. Sebab, di antara mereka, pasti ingin mandi pagi-siang-sore sebagai masyarakat sehat. Tetapi, soal air bersih bukan soal hanya mandi pagi-siang-sore.

Air bersih itu adalah hakekat hidup dan kehidupan manusia. Sehingga, air bersih harus ada, dekat dan menjadi milik semua manusia. Tetapi, ternyata slogan air su dekat sebagaimana iklan Aqua di televisi, ternyata jauh, jauh dan jauh sekali.

Baca Juga:  Lima Kecamatan Terendam Banjir, Pemkab Malaka Pasok Air Bersih Pakai Tanki

Yang diiklankan air bersih tetapi yang dimiliki masyarakat Malaka adalah air kotor, kotor dan kotor. Seakan untuk mendapatkan air bersih hanya datangnya dari Surga.

Seolah hakekat hidup dan kehidupan manusia sebagai makluk ciptaan Tuhan hanya isapan jempol manusia belaka. Tidak berarti apa-apa.

Lalu, apakah Penjabat Bupati Viktor, Sekda Donatus dan para pejabat Kabupaten Malaka yang bawa air bersih kepada masyarakat yang terpapar banjir itu Ratu Adil kah? Silahkan jawab sendiri.

Penulis/Editor: Cyriakus Kiik

Komentar