oleh

Pater Ande ‘Lotu’ Boko, Sosok Pengayom yang Tegas dalam Prinsip

PATER Ande. Nama lengkapnya Andreas Boko Nahak. Sejak Minggu (21/03/2021) siang, nama ini menghiasi dinding-dinding facebook. Baik keluarga, sahabat dan handai tolan. Sudah pasti di handphone pula.

Mereka mengucapkan turut berdukacita atas meninggalnya Pater Ande. Sekaligus doa, biar Pater Ande bahagia di Surga.

Kepergian Pater Ande untuk selamanya itu meninggalkan duka yang sangat mendalam. Baik bagi keluarga, sahabat maupun handai tolan.

Yanuarius Boko, adik kandung Pater Ande yang ditemui di rumah orangtuanya, Minggu (21/03/2021) malam, mengaku, keluarga sangat kehilangan. Sebab, bagi keluarga, Pater Ande itu sosok pengayom dan sangat tegas dalam prinsip.

Lahir dari pasangan ayahnya yang pensiunan guru Yohanes Boko Nahak dan mamanya yang ibu rumah tangga Theresia Abuk, Pater Ande bernama manis Lotu. Nama inilah yang disematkan pada nama lengkap Pater Ande sejak kecil. Sebab, menurut adiknya Yanuarius, Ande kecil lahir prematur. Sehingga, tubuhnya sangat kecil.

Saat dimandikan mama Theresia Abuk, biasanya tubuh si Ande kecil melorot turun melalui cela kedua kaki mama. Maklum, di masa-masa itu, mama Theresia memandikan Ande kecil sebagaimana para ibu sekampung memandikan anak-anaknya dengan meletakkan anak di atas kedua kakinya yang dalam posisi lurus.

“Kami panggil dia (Pater Ande, red) Lotu. Karena memang badannya kecil sekali. Itu nama panggilan manis keluarga”, kata Yanuarius, sang adik.

Menurut Yan, begitu akrabnya Yanuarius, Pater Ande adalah sosok yang cukup mengayomi dan tegas dalam prinsip. Dia orangnya hidup enjoy. Tidak ada masalah. Baik-baik dengan semua orang.

Kalau ada masalah, maunya cepat selesai. Tidak mau berlama-lama. Kamauannya yang demikian, membuat bapak mama, semua bersaudara dan keluarga besar tidak bisa menerka perasaannya. Apakah dia sedang marah, tidak suka atau bagaimana.

Hanya ketika marah, kata Yan, dia gigit-gigit jari. “Kadang tidak tahan marah, dia (Pater Ande, red) pergi tinggalkan kita”, kata Yan.

Yan berkisah, sifat Pater Ande yang mengayomi terwaris dari mama kandung Theresia Abuk. Sedangkan sifat tegas dalam prinsip itu terwaris dari bapak kandung Yohanes Boko Nahak.

Karena prinsipnya yang tegas itu, “Kalau Pater sudah omong, kami yang adik-adik semua diam. Tidak ada yang omong, tidak ada yang protes. Kalau dia sudah bilang A, ya, A. Kami semua ikut”.

Baca Juga:  Mantan Ketua MPR RI Harmoko Meninggal Dunia, Bamsoet: Partai Golkar Kehilangan Putera Terbaiknya

Yan ingat benar. Yang selalu dikatakan Pater Ande semasa hidupnya adalah dia ingin meninggal dalam usia muda. Sampai-sampai dia bilang saat meninggal tidak mau buat repot bapak mama dan bersaudara semua. Bahkan, bersaudara semua tidak akan rugi satu rupiah pun.

Mengapa Pater Ande selalu bilang begitu, Yan yang adalah adik kandung ketiga tidak tahu alasannya. Sebab, Pater Ande yang adalah kakak keduanya, tidak pernah menyampaikan alasan itu.

Yan terakhir kali berkomunikasi dengan Pater Ande melalui telepon seluler pada Jumat, 19 Maret 2021, siang. Pada malam harinya, Yan mendapat telepon dari Pastor Paroki Oecussie Pater Dominikus Leki kalau Pater Ande jatuh sakit.

Menurut Yan, kakaknya Pater Ande sudah punya riwayat sakit lama. “Dia (Pater Ande, red) jatuh hari Jumat itu. Tadi siang jam 11.00 wita (Minggu, 21/03, red), saya mendapat informasi dari Pastor Paroki Oecussie Pater Domi Leki. Katanya Pater Ande sudah meninggal. Dia meninggal setelah memimpin misa penutupan rekoleksi persiapan Paskah”, kata Yan.

Yan menjelaskan, saat jatuh Jumat itu, dia bersama kakak-adik yang lain tidak cerita kepada mama Theresia. Tetapi, namanya juga orangtua. Apalagi mama. Pasti punya firasat. Sebab, mama Theresia sempat bilang, “Kamu jangan sembunyi untuk saya. Saya tahu. Pater sakit”.

Meski mama Theresia tahu Pater Ande sakit, menurut Yan, mereka bersaudara berusaha menyembunyikannya. Mereka kuatir mama Theresia pikiran dan sakit. Sebab, mama Theresia sudah tua.

Bagi Yan, Pater Ande adalah sosok familiar. Pengayom, teguh prinsip dan berintegritas. Hidup kemasyarakatannya juga kuat. Sebab, dia bergaul dengan siapa saja, tua maupun muda. Anak-anak juga menjadi teman mainnya.

Di dalam keluarga, Pater Ande memperlakukan adik-adik seperti teman. “Jadi, kita bicara apa saja tidak ragu-ragu. Sebab, apa yang kita bicarakan disampaikan dengan penuh canda-tawa. Saudara rasa teman”, kata Yan berapi-api.

Saat bincang-bincang dengan Yan, keluarga dan tetangga terus berdatangan melayat di rumah duka. Inilah rumah orangtua Pater Ande. Terletak di Dusun Bolan B Desa Fahiluka Kecamatan Malaka Tengah Kabupaten Malaka Propinsi Nusa Tenggara Timur (NTT).

Keluarga utama Pater Andreas Boko Nahak di Dusun Bolan B Desa Fahiluka Kecamatan Malaka Tengah Kabupaten Malaka pose bersama di ruang duka, Minggu (21/03/2021) malam. (Foto: Cyriakus Kiik/Timorline.com).

Theresia, mama kandung Pater Ande terlihat terus berada di sisi tempat tidur. Meski sudah tua, dia terlihat tegar. Aktif menyambut tetangga, keluarga dan basodara yang datang melayat.

Baca Juga:  Kebakaran di Lembata Berlanjut, 101 Rumah Adat di Desa Jontona Terancam

Tempat tidur diberi spray putih. Di atasnya dibentang pula sebuah jubah putih milik Pater Ande. Ada sebuah stola miliknya warna bunga-bunga hitam. Di kepala tempat tidur ada pigura foto Pater Ande.

Di belakang pigura fotonya ada piala milik Pater Ande. Ada pula lilin bernyala. Beberapa bungkus lilin terlihat di sana.

Sebuah lemari keluarga berdiri terhimpit dengan tembok. Isinya, selain beberapa perabot kecil, ada pula bunga hias buatan, dua Patung Bunda Maria dan satu Salib. Di sisi lain pendopo ini ada dua stel kursi sofa.

Di halaman depan, ada tenda dan kursi. Tetangga dan keluarga terus berdatangan untuk melayat. Mereka datang menggunakan kendaraan roda dua dan empat. Bahkan, banyak yang datang berjalan kaki.

Pater Ande sendiri lahir pada 12 Maret 1967. Sehingga, pada 12 Maret 2021 lalu, dia tepat berumur 54 tahun. Ayah-ibunya adalah Yohanes Boko Nahak-Theresia Abuk. Dia menjalani pendidikan Sekolah Dasar (SD) di SDK Tahak, SMP Swasta Santo Ignasius Loyola Bolan dan SMA Seminari Lalian Atambua. Selanjutnya, pendidikan Filsafat dan Theologi di STFTK Ledalero-Maumere, Flores.

Dia ditahbis imam pada 29 September 1997. Sehingga, sebetulnya keluarga sedang mempersiapkan Pesta Perak 25 Tahun Syukuran Imamatnya pada 2022 mendatang.

Seusai ditahbis, pastor yang memiliki bakat bola sepak ini menjalani masa persiapan ke tanah misi selama dua tahun di Irlandia. Selanjutnya, Pater Ande bermisi di Kenya Nairobi). Dari sana, Pater Ande masuk ke negara Timor Leste. Dia bermisi di Persekolahan Katolik Collegio Maliana Distrik Bobonaro, lalu ke Balibo dan Dili.

Selain sebagai misionaris, Pater Ande dikenal juga di Timor Leste sebagai Sosiolog dan Filsuf karena mengasuh mata kuliah Sosiologi dan Filsafat pada beberapa universitas terkemuka di Dili.

Saat menghembuskan nafas terakhir, Minggu (21/03/2021) pukul 11.00 wita, Pater Ande masih berada di tanah misi Oecusse Distrik Ambeno negara Timor Leste.

Dia ditahbis bersama-sama dengan dua teman imam lainnya, yakni Romo Herry Naibobe, Pr dan Pater Yohanes Be, SVD pada 29 September 1997. Dari tiga imam angkatan tertahbis, kini tinggal Pater Yohanes Be yang menjadi misionaris di Spanyol. Sedangkan dua lainnya, yakni Herry Naibobe meninggal pada 2020 dan Pater Ande meninggal dua hari lalu, tepatnya 21 Maret 2021 di Oecussie, ibukota Distrik Ambeno di bagian barat Timor Leste.

Baca Juga:  Bhayangkari Dikriminalisasi Oknum Aparat, Ibarat Harimau Makan Anaknya Sendiri

Kampung halaman Pater Ande tepatnya di Dusun Bolan B Desa Fahiluka Kecamatan Malaka Tengah Kabupaten Malaka. Daerah ini termasuk wilayah pastoral Paroki Bolan Dekenat Malaka Keuskupan Atambua.

Sejak berdiri, Paroki Bolan sudah kehilangan tiga pastor yakni Romo Stanis Kapu, Pr yang meninggal pada 1997, Pater Yoseph Seran, MSC pada 1998 dan Pater Ande 21 Maret 2021.

Kampung ini jauhnya empat kilometer dari Betun, ibukota Kabupaten Malaka. Jalan rayanya dihotmix. Semua jenis kendaraan bisa melintas di sini. Untuk sampai di kampung ini hanya butuh waktu lima menit. Tak jauh dari sini, ada salah satu destinasi wisata bahari yang cukup diminati para pelancong, yakni Pantai Motadikin.

Dari pantai ini, dalam hitungan waktu sembilan setengah jam perjalanan menggunakan kapal motor bisa mencapai Distrik Covalima, wilayah negara Timor Leste di bagian selatan.

Biodata Singkat :

Nama : Andreas Boko Nahak, SVD
TTL : Bolan, 12 Maret 1967
Pendidikan: SDK Tahak, SMP Swasta Santo Ignasius de Loyola Bolan, SMA Seminari Lalian-Atambua dan STFK Ledalero-Maumere, Flores.

Keluarga :
Ayah : Yohanes Boko Nahak (almarhum)
Ibu : Theresia Abuk

Saudara-saudari kandung :
1. Gregorius Boko
2. Vinsensius Boko
3. Herlinda Boko
4. Yanuarius Boko
5. Oktovianus Boko
6. Antonius Boko

Penulis/Editor: Cyriakus Kiik

Komentar