oleh

Wawancara Eksklusif Imajiner Benyamin Mali Michael dengan Anaknya di Negeri Antahberantah

SEBUAH wawancara eksklusif imajer terjadi antara Benyamin Mali Michael dengan anaknya di Negeri Antahberantah. Kali ini, thema wawancaranya tentang PECAT.

Thema ini dipilih keduanya karena pemecatan terjadi di seluruh negeri. Baik di kalangan birokrasi pemerintahan maupun swasta. Semula, keduanya mencoba mencari tahu definisi tentang PECAT dan DIRUMAHKAN. Ternyata, baik PECAT maupun DIRUMAHKAN itu maknanya sama: TIDAK BEKERJA.

Di pertengahan wawancara, keduanya mengungkap alasan-alasan: PECAT dan DIRUMAHKAN. Ditemukan narasi berpikir, tindakan PECAT dan DIRUMAHKAN dilakukan rezim yang sombong, tamak dan sok kuasa.

Bahkan, kadang suka bersumpah palsu untuk menguatkan rezimnya. Seolah rezimnya kekal. Ternyata rapuh sekali. Rakyat hidup berantakan. Negerinya kacau-balau. Lalu, jadilah negeri itu Negeri Antahberantah.

Berikut hasil wawancara imajiner itu:

PECAT

Ada-ada saja pertanyaan anakku.
Malam ini dia tanya soal PECAT.
Gara-gara dua teman kantornya di-rumah-kan
Lantaran perusahaan terus merugi di masa Covid ini
Dan tak mampu lagi menggaji banyak karyawan
Ada pengurangan karyawan!

“Apa bedanya di-RUMAH-kan dan di-PECAT, pak?
Bukankah keduanya sama maknanya?” tanya anakku
“Di-RUMAH-kan berarti ‘jangan dulu masuk kantor,
Tapi masih terbuka peluang untuk dipekerjakan lagi.
Di-PECAT berarti diberhentikan sama sekali dari kerja,
Dan tertutup peluang untuk dipekerjakan lagi’” jawabku
“Masih mending di-RUMAH-kan daripada di-PECAT
Tapi lihat saja perkembanganya nanti
Di-RUMAH-kan bisa berubah di-PECAT,” sambungku

Orang Indonesia itu ‘kan ahli menghaluskan bahasa
Untuk memaknai sesuatu yang buruk dan memalukan
Pelacur dikatai tuna susila, pekerja seks komersial
Lelaki nakal dikatai pria hidung belang
Pencuri dikatai panjang tangan
Koruptor dikatai tikus negara
Tikus rumah dikatai tuan-rumah
Buaya dikatai kakek-raja
PECAT dkatai di-rumah-kan,” kataku lebih lanjut

“Kenapa orang DIPECAT, pak?” tanya anakku
“Macam-macamlah alasan dan sebabnya
Tergantung sikon,” jawabku pendek
“Sikon apa saja, pak?” tanya anakku lagi
“Macam-macamlah sikonnya!
Ada sikon arogansi karyawan yang membahayakan lembaga
Ada sikon redupnya loyalitas karyawan
Ada sikon arogansi pimpinan lembaga, pemegang kekuasaan
Ada sikon kebencian dan penilaian sepihak pimpinan lembaga
Ada sikon persaingan dan intrik di dalam lembaga
Ada sikon perbedaan pandangan antara karyawan dan pimpinan lembaga
Dan macam-macam sikon lainnya,” jawabku

“Semua sikon itu melahirkan macam-macam alasan pemecatan:
Ada alasan besar, ada alasan remeh-temeh
Ada alasan rasional, ada alasan irasional
Ada alasan wajar, ada alasan tidak wajar
Ada alasan kebencian, ada alasan hasutan
Ada alasan terang-benderang, ada alasan kabur-air
Ada alasan pelanggaran aturan, ada alasan kebencian pribadi
Ada alasan politis, ada alasan ekonomis
Ada alasan SARA, ada alasan iri
Ada alasan superioritas, ada alasan inferioritas
Semua itu membentuk satu rangkaian sebab-akibat yang bertali-temali
Ujungnya adalah pemecatan,” jawabku merinci

“Bila tempat kerja itu: perusahaan keluarga,
Orang yang dipecat hanya bisa nrimo sambil elus dada
Bila tempat kerja itu: Lembaga Negara,
Lihat dulu aturan Undang-Undang
Seorang ASN, misalnya, tidak bisa sembarang dipecat pimpinan,” sambungku

“Mungkin masih ada hal lain yang perlu aku tahu, pak?” tanya anakku
“Ya, ada-lah!” jawabku sambil seruput kopi pahit kesukaanku
“Ada sesuatu lain dari negeri antahberantah yang bisa dijadikan renungan
Kisahnya entah beneran atau bo’ongan,
Tapi menarik untuk dikisahkan,” sambungku

“Dikisahkan bahwa di negeri itu:
Ada yang dipecat, ada yang diangkat, lengkap dengan surat resmi
Yang dipecat jelas kerjanya, sedang yang diangkat kabur-air kerjanya
Yang dipecat sangat professional, sedang yang diangkat amatiran
Yang dipecat expert, sedang yang diangkat ‘aduh kasihan!’
Yang dipecat punya program kerja, sedang yang diangkat tergantung sikon
Yang dipecat bekerja untuk Negara dan digaji Negara
Sedang yang diangkat digaji Negara,
Tapi tak jelas untuk siapa dan apa mereka bekerja
Aneh bin ajaib bin lucu!
Aneh bin ajaibnya ialah
koq berani-beraninya memecat dan mengangkat dengan surat resmi
Lucunya ialah pelakunya tampak tidak peduli aturan hukum
Padahal dia seharusnya melek hukum dan taat hukum
Tampaknya
DIA HILANG AKAL DAN HATI
Lalu menjadi:
RAJA-TEGA
AROGAN
TIDAK MANUSIAWI
TIDAK ADIL DAN BERADAB
MAIN HAKIM SENDIRI
SEWENANG-WENANG
Inilah cerita dari negeri antahberantah
Entah beneran atau bo’ongan
Namun bermakna dan ber’nas
Ambillah hikmahnya buat menata masa depanmu,” sambungku menasihati anakku

Mendengar semua itu, anakku diem merenung
Mungkin dia mengingat nasib kedua kawannya yang di-rumah-kan si Boss

“Kunasihati anakku sejauh bisa dengan mengutip nasihat Tuhan dan para Orang Kudus:
“Jangan takut akan manusia,
sebab semua manusia punya kelemahan,” kata Santo Yoh. Paulus II
“Ora et Labora: Bekerjalah dan berdoalah,” kata Santo Benediktus
“Berdoalah … Berharaplah … dan Jangan khawatir,” kata Santo Padre Pio
“Janganlah khawatir akan hidupmu,
akan apa yang hendak kamu makan dan minum
dan janganlah khawatir pula
akan apa yang hendak kamu pakai,” kata Yesus
“Bila Yesus kaujadikan SAHABATmu,
Apa yang harus kaukhawatirkan, Tidak ada!” sambungku meneguhkan anakku

Anakku menjadi teduh lalu pamit untuk beristirahat
Kutandai dahinya dengan SALIB TUHAN:
Dalam Nama Bapa dan Putra dan Roh Kudus. Amin.
Lalu kulanjut dengan bersimpuh di hadapan Tuhan
Sambil berdoa untuk berbagai intensi.
Semoga Trinitas Mahakudus tetap menyertai kami
dan Gereja Sejagat di seluruh dunia.

Syalom
Jakarta, 12 Februari 2021
Selamat Hari Raya Imlek
bagi semua yang merayakannya. (*)

Baca Juga:  Partai Hanura Siap Menangkan Paslon Stefanus Bria Seran-Wendelinus Taolin

Editor: Cyriakus Kiik

Komentar