oleh

Jejak Munarman dalam Jaringan ISIS

Catatan: Petrus Selestinus, Ketua Tim Task Force Forum Advokat Pengawal Pancasila

PERNYATAAN Achmad Aulia (30), terduga teroris Jaringan Jamaah Ansharut Daulah (JAD) yang ditangkap Densus 88, beberapa waktu lalu, mengaku sebagai anggota FPI atau eks anggota FPI (pasca bubar), bahwa pada saat dirinya dkk dibaiat masuk jaringan teroris ISIS di Jln. Sungai Limboto, Makasar, Sulsel, pada 2015, hadir juga petinggi FPI Munarman.

Namun mantan Sekretaris Umum FPI Munarman membantah keras tudingan itu meski banyak Saksi mengungkap fakta kehadiran Munarman dalam acara baiat tersebut.

Fakta lain tak terbantahkan mengungkap jejak kehadiran Munarman saat acara Tabligh Akbar dan baiat anggota FPI ke dalam jaringan ISIS pertengahan 2015. Hal ini terungkap dalam putusan Pengadilan Negeri Jakarta Utara pada 2019, di halaman 6, 18, 57 dan 70 yang bersumber dari keterangan Terdakwa Ade Supriadi, selaku terdakwa Teroris.

Pengakuan Terdakwa Teroris
Ade Supriadi dalam keterangannya sebagai Terdakwa, menyatakan, awalnya sekitar pertengahan 2015 mendapat undangan di grup BBM untuk datang di acara tabligh akbar FPI yang diadakan di Markas FPI  di Jln. Sungai Limboto, Makassar, sekitar jam 09.00 WIT. Saat itu hadir sekitar 500-700 anggota FPI. Di antaranya hadir Ustad Fauzan Anshori, Ustad Basri dan Munarman dari pengurus FPI Pusat.

Dalam Tabligh Akbar tersebut Ustad Fauzan Anshori, Ustad Basri dan Ustad Munarman sebagai Pengurus Pusat FPI memberikan materi tentang: “Saat ini sudah tegaknya Kilafah Islam (sudah tegaknya negara Islam) di bawah pimpinan Abu Bakar Albahdadi. Kilafah yang dimaksud adalah ISIS yang ada di Syriah”.

Selain itu juga ada ajakan kepada umat Islam untuk bergabung dengan Kilafah Islam ISIS di bawah kepemimpinan Abu Bakar Albahdadi, sebagaimana dapat dibaca dalam Putusan Pengadilan NegeriJakarta Utara dalam perkara teroris No. 459/Pid.Sus.Teroris/2019 (halaman 6, 18, 57 dan 70 putusan).

Baca Juga:  Fosil Gajah Purba Berusia 700 Ribu Tahun Ditemukan di Nagekeo-Flores

Cekal dan Tangkal Munarman
Untuk memastikan seberapa jauh peran dan keterlibatan Munarman sebagai Sekjen FPI dalam aksi-aksi terorisme jaringan kelompok Jamaah Ansharut Daulah (JAD) yang sudah dibaiat ke dalam jaringan ISIS, dan apa saja peran penting Rizieq Shihab dalam proses baiat anggota FPI ke dalam jaringan teroris JAD dan ISIS, maka Densus 88 perlu segera melakukan pencekalan, tangkap dan tahan Munarman.

Untuk itu diperlukan suatu penyelidikan dan penyidikan secara menyeluruh dan konprehensif terhadap seluruh aktivitas FPI di masa lalu dengan pendekatan UU Pemberantasan Tindak Pidana Terorisme. Sebab, sejak berlakunya UU No.17 Tahun 2013 Tentang Ormas, aktivitas ormas-ormas Intoleran dan Radikal mendapatkan keleluasaan, hingga tindakan-tindakan yang mengancam eksistensi Pancasila, NKRI, Bhinneka Tunggal Ika dan UUD 1945.

Pendekatan menggunakan instrumen UU Pemberantasan Tindak Pidana Terorisme, karena rangakain peristiwa yang berupa ancaman kebencian, permusuhan antara golongan masyarakat dan narasi yang berisi ancaman kekerasan yang menimbulkan perasaan takut secara meluas, koheren dengan aksi terorisme yang akhir-akhir diduga di dalamnya ada anggota FPI.

Ceramah Rizieq Shihab
Selama 10 tahun terakhir, ceramah Rizieq Shihab mengandung narasi ancaman kekerasan dan menebar kebencian sehingga menimbulkan suasana teror atau rasa takut yang meluas, sementara berdasarkan temuan Densus 88 di lapangan, diperoleh fakta mencengangkan bahwa sejumlah terduga teroris yang adalah anggota FPI, telah masuk ke dalam jaringan JAD dan dibaiat masuk ke dalam jaringan ISIS, di situlah terdapat jejak FPI.

Karena itu sangat beralasan hukum jika terhadap Rizieq Shihab dan Munarman dilakukan suatu penyelidikan dan penyidikan menggunakan UU No. 5 Tahun 2018 Tentang Pemberantasan Tindak Pidana Terorisme.

Terakhir, Densus 88 menangkap 26 terduga teroris jaringan Jamaah Ansharut Daulah (JAD) di Sulawesi Selatan dan Gorontalo, 19 orang merupakan anggota FPI di Makassar, mengaku sempat berbaiat masuk ke dalam kelompok teroris ISIS pimpinan Abubakar Al-Baghadadi di Markas FPI di Jln. Sungai Limboto, Makassar, yang turut dihadiri Munarman dan pengurus FPI Makassar lainnya. (*)

Komentar