oleh

PERLU TAHU!!! Biaya Perawatan Pasien Covid-19 Ternyata Capai Ratusan Juta

Jakarta, TIMORline.com-Biaya perawatan pasien Covid-19 sangat mahal, capai ratusan juta. Kalau begitu, apa yang harus dilakukan masyarakat Indonesia untuk mencegah pandemi ini?

Selama ini, Pemerintah melalui Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19 terus mengimbau masyarakat untuk mematuhi protokol kesehatan guna menekan penyebaran Covid-19. Protokolnya seperti apa?

Sesuai aturan World Health Organization (WHO) dan anjuran Pemerintah Indonesia, yang harus dilakukan untuk mencegah Covid-19 adalah mencuci tangan pakai sabun dan air mengalir, pakai masker, jaga jarak dan  tidak berkerumun.

Tetapi, ada-ada saja alasan sebagian masyarakat Indonesia untuk tidak menaati aturan Covid-19 itu. Kalau pakai masker terus dibilang napas sesak atau tidak bisa bernapas. Atau tidak bebas.

Soal cuci tangan pakai sabun, sebagian masyarakat bilang dari leluhur dan nenek moyang pun tidak cuci tangan. Apalagi cuci tangan pakai sabun. Mereka makan dengan tangan kotor pun tetap sehat. Bahkan berumur panjang. Kenapa di generasi hari ini baru ada aturan cuci tangan? Pakai sabun segala. Toh, anak-cucu hidup beranak-pinak hingga saat ini.

Soal jaga jarak, sebagian masyarakat Indonesia bertanya balik, memangnya suami-istri perlu bercerai. Soalnya tidak tahu, kapan pandemi Covid-19 berakhir. Berkendara juga tidak boleh berboncengan, termasuk membawa anak-anak. Apakah anak-anak harus dibuang?

Soal berkerumun, masyarakat dilarang buat pesta nikah. Termasuk acara adat. Bahkan, ke gereja pun dibatasi. Tetapi, coba lihat di pasar-pasar tradisional, mall dan super market. Kerumunan tak bisa dikendalikan.

Di jalanan, orang ditilang atau didenda karena tidak pakai masker. Tetapi, coba tanya pak polisi atau polisi pamong praja, berapa orang pedagang atau pengunjung pasar tradisional, mall dan supernmarket yang ditilang atau didenda karena tidak pakai masker atau berkerumun?

Sebagian masyarakat malahan terheran-heran bercampur bingung. Soalnya, sejak akhir 2019 pandemi Covid-19 mendera dunia, para ahli di dunia belum menemukan obatnya.

Baca Juga:  Wabup Belu Serahkan BLT-DD bagi 242 KK Desa Silawan-Tastim

Setahun kemudian, setelah jutaan manusia meninggal,  barulah dunia  mulai ribut soal vaksin sinovac. Vaksin ini diyakini dapat mencegah dan membuat  tubuh imun terhadap Covid-19.

Protokol kesehatan Covid-19 jelas. Vaksin  juga didatangkan. Tetapi, sebagian  masyarakat masih melawan. Enggan taat dan divaksin. Ada anggapan kalau pemerintah Indonesia dan dunia  sedang membisniskan Covid-19. Soalnya, pada pertengahan 2020, pandemi Covid-19 diketahui mulai reda.

Tetapi, di akhir 2020 dan awal 2021 Covid-19 muncul lagi. Malahan, pemerintah Indonesia terbaca mulai kuatir akan ancaman Covid-19 ini. Soalnya, grafik pasien reaktif semakin tinggi dan semakin naik tinggi. Biaya perawatannya di rumah sakit juga mahal sekali. Kalau perawatan di rumah sakit saja mahal, sapa mo help kalau berobat pakai uang pribadi?

Dikutip dari Kompas, Menteri BUMN Erick Thohir menyebut, biaya perawatan Covid-19 paling murah untuk satu orang sekira Rp105 juta.

“Kalau kita lihat dari data-data, kena Covid-19 itu per orang bisa Rp105 juta. Kalau yang ada penyakit tambahan Rp215 juta kalau nggak salah. Mahal banget,” kata Erick Thohir dalam sebuah diskusi virtual, belum lama ini.

Karena itulah, Menteri BUMN meminta masyarakat tetap disiplin dan terus menaati protokol kesehatan selama situasi new normal.

Masih dilansir dari Kompas, Ketua Satgas Covid-9 Ikatan Dokter Indonesia (IDI) Zubairi Djoerban mengakui kalau biaya perawatan pasien Covid-19  memang sangat mahal. Menurutnya, biaya yang dikeluarkan bisa sampai ratusan juta rupiah.

Zubairi menjelaskan, biaya perawatan pasien infeksi coronavirus  mahal karena ada beberapa tahapan pemeriksaan yang harus dilalui pasien. Di samping itu,  biaya ketersediaan alat medis juga tidak murah.

“Itu tidak gratis. Kalau orang dengan Covid-19 itu dites dulu positif, menunggu polymerase chain reaction-nya (PCR), biasanya dalam sekali tes habis satu juta rupiah,” ujar Zubairi.

Baca Juga:  12 Orang Ambil Formulir Pendaftaran Balon Kada dan Wakada di PDIP Malaka

“Sekarang ini, yang rutin diberikan bagi yang rawat inap adalah ⁹obat anti-pembekuan darah, tapi ada juga yang molekuler itu yang lumayan mahal. Sekali suntik Rp300 ribu sampai Rp400 ribu dalam satu obat, belum obat-obatan yang lainnya,” kata Zubairi.

Untuk pasien yang dirawat di ruang ICU dengan sejumlah alat penunjang kesehatan, umumnya akan mengeluarkan biaya yang semakin besar lagi. Terlebih jika pasien mengalami kondisi kesehatan serius, misalnya seperti gagal fungsi organ jantung, ginjal, atau otak.

Selain obat dan biaya perawatan pasien, kebutuhan tenaga medis yang membutuhkan alat pelindung diri (APD) juga harus dihitung.

Beban biaya pengadaan APD tenaga kesehatan umumnya  ditanggung  pasien dan keluarga, alias tidak dibiayai pemerintah.

Dalam suasana kegaulan masyarakat seperti itu, beredar Surat Menteri Keuangan RI Sri Mulyani Nomor S-275/MK 02/2020 Tanggal 6 April 2020.

Perlu Anda tahu!!! Dalam surat tersebut, ada aturan dan besaran biaya perawatan pasien Covid-19. Biaya ini mencakup pasien yang dirawat di rumah sakit dan rawat jalan:

Biaya Pasien ODP/PDP/Konfirmasi tanpa kormobid/komplikasi:
1. Ruang ICU dengan ventilator: Rp15,5 juta per hari.
2. Ruang isolasi tanpa ventilator: Rp12 juta per hari.
3. Ruang isolasi tekanan negatif dengan ventilator: Rp10,5 juta per hari.
4. Ruang isolasi tekanan negatif tanpa ventilator: Rp7,5 juta per hari.
5. Ruang isolasi non tekanan negatif dengan ventilator: Rp10,5 juta per hari.
6. Ruang isolasi non tekanan negatif tanpa ventilator: Rp7,5 juta per hari.

Biaya pasien Covid-19 yang memiliki komplikasi atau penyakit lain seperti jantung, diabetes, paru-paru, dan ginjal, dan lainnya:

1. Ruang ICU dengan ventilator: Rp16,5 juta per hari.
2. Ruang ICU tanpa ventilator: Rp12,5 juta per hari.
3. Ruang isolasi tekanan negatif dengan ventilator: Rp14,5 juta per hari.
4. Ruang isolasi tekanan negatif tanpa ventilator: Rp9,5 juta per hari.
5. Ruang isolasi non tekanan negatif dengan ventilator: Rp14,5 juta per hari.
6. Ruang isolasi non tekanan negatif tanpa ventilator: Rp9,5 juta per hari.

Baca Juga:  Mendagri Soroti Tiga Hal Ini Saat Berkunjung di NTT

Asumsinya, jika seorang pasien dirawat selama 14 hari, maka pemerintah menanggung biaya sebesar Rp105 juta sebagai biaya paling rendah.

Sedangkan untuk pasien komplikasi, pemerintah menanggung biaya Rp231 juta per orangnya.

Tidak hanya perawatan, untuk biaya pemulasaran atau pemakaman pasien Covid-19, totalnya sekira Rp3,36 juta per jenazah. Detailnya sebagai berikut:

1. Pemulasaran Jenazah: Rp550.000.
2. Kantong Jenazah: Rp100.000.
3. Peti Jenazah: Rp1.750.000.
4. Plastik Erat: Rp260.000.
5. Disinfektan Jenazah: Rp100.000.
6. Transport Mobil Jenazah: Rp500.000.
7. Disinfektan Mobil Jenazah: Rp100.000.

Bila biaya perawatan Covid-19 di rumah sakit  ini disodorkan kepada pasien, mungkin saja dia akan taat protokol kesehatan.  Tetapi, pasien akan menggerutu. Lebih baik mati daripada berobat atau dirawat di rumah sakit.

Bahkan, keluarga pasien akan sumpah serapah tenaga kesehatan. Sebab, jika dibiayai pakai uang pribadi, pasti akan membuat orang kapok berobat di rumah sakit.

Editor: Cyriakus Kiik
Sumber: klikdokter.com/kompas

Komentar