oleh

Maroko dan Amerika Serikat Prakarsai Konferensi 40 Negara Dukung Otonomi Khusus Sahara Barat

RABAT, TIMORline.com-Pemerintah Kerajaan Maroko dan Amerika Serikat memrakarsai Konferensi Tingkat Menteri  sedikitnya 40 negara dalam mendukung Otonomi Khusus  bagi wilayah Sahara Barat di bawah Kerajaan Maroko.

Konferensi  itu berlangsung secara virtual di Rabat, ibukota Kerajaan Maroko, Senin (15/01/2021).

Seperti dikutip RadarTenggara.co.id, dari 40 negara yang hadir,  konferensi tersebut menghasilkan risalah resmi, yang pada intinya menyatakan sebagian besar peserta  mendukung prakarsa Otonomi Maroko sebagai satu-satunya dasar untuk penyelesaian yang adil dan langgeng atas perselisihan regional ini.

Sebagian besar peserta juga mengapresiasi Pernyataan Resmi Amerika Serikat 10 Desember 2020, berjudul “Pengakuan Kedaulatan Kerajaan Maroko atas Sahara Barat,” yang menegaskan kembali dukungan terhadap Proposal Otonomi Maroko yang serius, kredibel dan realistis sebagai satu-satunya dasar untuk solusi yang adil dan langgeng atas sengketa wilayah Sahara Barat.

Pernyataan Resmi Amerika Serikat itu juga mendesak para pihak untuk melakukan diskusi dalam koordinasi dengan PBB tanpa penundaan waktu.
Sebagian besar peserta juga menggarisbawahi bahwa Proklamasi Kepresidenan atau Pernyataan Resmi Amerika Serikat memberikan panduan bagi upaya melanjutkan proses politik secara eksklusif PBB yang bertujuan untuk mencapai solusi politik yang langgeng, dengan Inisiatif Otonomi Maroko sebagai satu-satunya dasar realistis untuk solusi semacam itu. Proklamasi ini akan memperkuat konsensus internasional untuk mendukung proses politik eksklusif PBB.

Konferensi tersebut menggarisbawahi keputusan dua puluh negara anggota Perserikatan Bangsa-Bangsa yang telah membuka Konsulat Jenderal di Maroko, yakni di Kota Laayoune dan Kota Dakhla.

Langkah tersebut akan mendorong terbukanya peluang ekonomi dan bisnis untuk wilayah tersebut, memperkuat pengembangan wilayah Sahara sebagai pusat ekonomi untuk seluruh benua. Hal itu juga akan memudahkan upaya-upaya mencapai solusi politik yang baik dan efektif atas perselisihan yang berlarut-larut selama  ini.

Baca Juga:  Ribka Tjiptaning Tolak Vaksin Sinovac di Rapat Menkes-DPR

Para peserta menyambut baik upaya pembangunan yang diluncurkan di wilayah tersebut termasuk untuk memrakarsai “Model Pembangunan Baru untuk Propinsi SelatanMaroko.

Para peserta berkomitmen untuk melanjutkan dukungan mereka bagi sebuah solusi, dengan berpedoman pada rencana Otonomi Maroko sebagai satu-satunya kerangka kerja untuk menyelesaikan sengketa Sahara Barat.

Berikut 40 Negara Peserta Konferensi tersebut, yakni  Zambia, Gabon, Gulnee, Comores, Bambia, Guinee Bissau, Equartolale Guinee, Malawi, Central Africa Republic, Togo, Liberia
Sao Tome et Principe, Benin, Bahrein, United Arab Emirates, Sainte-Lucia, Antigua dan Barbuda.

Hadir  pula Haiti, Guatemala, Dominica Republic, Barbados, Jamaica, Maldives, Salvador, Senegal, Qatar, Saudi Arabia, Cote d’Ivoire, Djibouti Eswatini, Republic of Congo Jordan, Oman, France, Yunani, Paouasle New Guinee, Tonga, Kuwait, Yaman dan Burkina Faso.

Selama puluhan tahun, wilayah Sahara Barat menjadi konflik Kerajaan Maroko dan Israel.  Upaya-upaya perdamaian dilakukan Amerika Serikat. Amerika Serikat menginginkan kemerdekaan penuh bagi wilayah Sahabat Barat. Sementara hubungan diplomatik Israel dengan Kerajaan Maroko terus dilakukan.

Kerajaan Maroko di bawah kepemimpinan Raja Mohammed VI malahan sempat menolak kemerdekaan Sahara Barat. Raja Mohammed VI menginginkan Sahara Barat diberi Otonomi Khusus.

Hingga saat ini Kerajaan Maroko dipimpin Raja Mohammed VI.

Editor: Cyriakus Kiik
Sumber: radartenggara.co.id/persisma.org

Komentar