oleh

YDBA Selenggarakan Jelajah Virtual UMKM

JAKARTA, TIMORline.com– Untuk mengetahui kondisi bisnis UMKM di berbagai daerah, Yayasan Dharma Bhakti Astra (YDBA) menyelenggarakan jelajah UMKM secara virtual yang dilakukan pada dua UMKM di Kalimantan Selatan, yaitu UMKM Madu Kelulut Sahabat dan UMKM Gula Semut La’ang Balangan.

Kedua UMKM tersebut merupakan binaan Lembaga Pengembangan Bisnis (LPB) Pama Banua Lima di Tabalong Kalimantan Selatan. LPB Pama Banua Lima sendiri merupakan salah satu LPB yang didirikan YDBA bersama PT Pamapersada
Nusantara untuk membina UMKM di Indonesia, khususnya di Kalimantan Selatan.

Dalam jelajah virtual ini, Pemilik Madu Kelulut Sahabat, Khair Riftia dan Pemilik Gula Semut La’ang Balangan, Rinawati bercerita mengenai bagaimana mereka menjalankan bisnisnya di masa pandemi, mengapa memilih bisnis tersebut, apa saja manfaat produknya bagi kesehatan, bagaimana tantangan yang dihadapi, serta bagaimana pandemi berdampak kepada bisnis keduanya.

Rinawati dan Khair Riftia juga memperlihatkan secara virtual bagaimana memproduksi madu kelulut serta memproduksi gula semut yang memiliki banyak varian rasa.

Hadir dalam jelajah virtual ini, yaitu Bendahara Pengurus YDBA, Handoko Pranoto serta Sekretaris Pengurus YDBA, Ida. R. M. Sigalingging.

Dalam sambutannya, Handoko menyampaikan bahwa jelajah virtual yang bertema “Industri Kuliner, Tetap Eksis di Masa Pandemi’ ini sejalan dengan kondisi industri kuliner di masa pandemi ini.

Industri kuliner menjadi salah satu industri yang menciptakan tren dan tetap eksis di masa pandemi ini, seperti produk kuliner yang mendukung kesehatan, di antaranya produk madu maupun produk gula semut.

Dalam rilis YDBS yang diterima TIMORline.com menyebutkan, UMKM Madu Kelulut menjadi salah satu produk yang saat ini banyak diminati masyarakat, terlebih madu dipercaya sebagai salah satu b0oster untuk meningkatkan daya tahan tubuh.

Baca Juga:  GMNI Kutuk Penembakan Pendeta di Papua
Proses panen madu kelulut oleh Pemilik Madu Kelulut Sahabat, Khair Riftia saat acara Jelajah Virtual UMKM. (Foto: Istimewa).

Pada 2017, salah satu UMKM binaan LPB Pama Banua Lima, Khair Riftia memutuskan untuk melakukan budidaya madu kelulut yang dimulai dengan 20 koloni/sarang dengan brand Madu Kelulut Sahabat. Seiring berjalannya waktu, permintaan akan madu semakin besar, hingga saat ini Khair sapaan akrabnya memiliki 150 koloni.

Seluruh madu yang dihasilkan dari koloni tersebut, dipasarkan oleh pria berusia 32 tahun ini ke pasar offline maupun online. Berbagai program yang diberikan oleh LPB Pama Banua Lima, seperti Pelatihan Branding dan Packaging pun mendukung Khair untuk memasuki pasar online yang omsetnya saat ini bisa meningkat 100% dari omset yang didapat di pasar offline.

Sementara itu, di 2018, YDBA bersama PT. Pamapersada Nusantara mendirikan LPB Pama Banua Lima untuk membina UMKM. Salah satunya adalah UMKM gula semut dengan brand “La’ang Balangan'” yang berarti “Gula Aren dari Balangan”.

Berbagai program pembinaan pun diikuti oleh UMKM ini, seperti Pelatihan Basic Mentality dan Kewirausahaan, Pelatihan Branding & Packaging, Pelatihan Pembukuan Sederhana, Pelatihan dan Pendampingan 5R, Pelatihan Pembuatan Produksi Gula Semut Berbasis SNI dan lainnya.

Saat ini produk La’ang Balangan memiliki 6 varian rasa antara lain gula semut original, gula semut jahe, gula semut kunyit sirih, gula semut kunyit jeruk nipis, gula semut temu lawak, dan gula semut kunyit.

Semua varian menggunakan bahan dasar air nira dari pohon aren yang dicampur dengan berbagai bahan sebagai penambah rasa seperti jahe merah, temulawak, kunyi, atau jeruk nipis.

Saat ini produk gula semut La’ang Balangan sudah dipasarkan di berbagai daerah seperti di Kalimantan Selatan, Kalimantan Timur, Yogyakarta dan Jakarta. Produk ini juga sudah masuk ke pasar online yang omsetnya mendominasi dari bisnis yang dijalankannya.

Baca Juga:  YDBA dan Kades Pasir Wetan Tandatangan MoU Pembinaan Industri  Pande Besi & Bengkel Roda 4

YDBA merupakan yayasan yang didirikan pendiri Astra, William Soeryadjaya pada 1980 dengan filosofi ‘Berikan Kail Bukan Ikan. YDBA didirikan sebagai komitmen Astra untuk berperan aktif dalam membangun bangsa, seperti yang diamanatkan dalam butir pertama filosofi Astra, Catur Dharma, yaitu “Menjadi Milik yang bermanfaat bagi Bangsa dan Negara”.

YDBA menjalankan program tanggungjawab sosial Astra dengan fokus pada pembinaan UMKM yang
meliputi UMKM manufaktur, baik terkait value chain bisnis Astra, maupun yang tidakterkait, bengkel umum roda empat dan roda dua, pengrajin dan petani.

Berlandaskan Operating Values-nya, yaitu Compassionate, Adaptive, Responsible dan Excellent, YDBA memberikan pelatihan dan pendampingan kepada UMKM untuk naik kelas dan mencapai kemandiriannya.

Pelatihan akan lebih efektif, jika dilengkapi pendampingan di lapangan melalui 13 cabang YDBA yang disebut dengan Lembaga Pengembangan Bisnis (LPB) di berbagai daerah.

Kontributor: Mansetus Balawala
Editor: Cyriakus Kiik

Komentar