oleh

Warga Lasiana-Kota Kupang Pertanyakan Tindaklanjut Kasus Penganiayaan dan Pengrusakan Rumahnya

KUPANG, TIMORline.com-Melky Metboki, warga RT 11/RW 03 Kelurahan Lasiana Kecamatan Kelapa Lima Kota Kupang Propinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) mempertanyakan tindaklanjut kasus penganiayaan dirinya dan pengrusakkan rumahnya pada enam bulan lalu.

Melky yang adalah Ketua RT 11 di kelurahan tersebut yang ditemui di rumahnya, Jumat (15/01/2021), menjelaskan, penganiayaan dirinya dan pengrusakkan rumahnya dilakukan sekelompok orang. Dia mengenal beberapa orang di antara para pelaku. Tetapi, jumlah mereka banyak. Sehingga, dia tidak bisa berbuat banyak saat itu. Bahkan, di antara mereka ada yang membawa benda tajam seperti parang.

“Pelakunya lebih dari lima orang. Ada yang keroyok saya di dalam rumah. Sedangkan lainnya lempar rumah. Kaca-kaca jendela hancur semua. Dinding dipukul dan ditolak sampai sebagian besar jatuh”, ungkap Melky.

Sudah begitu, kata Melky, dia diancam untuk tidak memperbaiki rumahnya. “Mereka ancam, kalau saya perbaiki rumah, mereka akan datang dalam jumlah lebih banyak untuk rusakkan rumah itu lagi”, kata Melky mengutip ancaman para pelaku.

Jendela rumah milik Melky Metboki yang dirusakkan sekelompok orang pada 30 Agustus 2020 ditempel-ganti pakai triplex dan seng bekas. Hingga saat ini tidak jelas tindaklanjutnya. Kasusnya sendiri sudah dilaporkan Melky ke Polres Kupang Kota setelah kejadian. Gambar diambil, Jumat (15/01/2021). (Foto: Cyriakus Kiik/Timorline.com).

Melky menduga dia dianiaya dan rumahnya dirusakkan terkait masalah tanah di wilayahnya. Dia dianggap memihak pemilik tanah yang tidak tepat. Anggapan ini berangkat dari beberapa kasus yang terjadi di wilayahnya.

Di wilayahnya, saat warga membangun rumahnya, Melky selaku Ketua RT 11 diminta hadir. “Saya hadir sebagai pimpinan wilayah atau Ketua RT. Soal pemilikan lahan itu urusan mereka”, tandas Melky.

Bagi Melky, bila ada masalah tanah, sebaiknya diselesaikan baik-baik. Jangan pakai kekerasan. “Kita ini bersaudara. Sebagai Ketua RT, saya berusaha menjaga kerukunan warga di sini. Tetapi, saya dianggap memihak pemilik tanah yang tidak tepat”, tandas Melky.

Tindakan penganiayaan dirinya dan pengrusakkan rumahnya sudah dilaporkan Melky ke pihak Polres Kupang Kota sesaat setelah kejadian 30 Agustus 2020. Semula, dia hendak membuat laporan polisi di Mapolda NTT. Tetapi, dari sana, dia diarahkan ke Polres Kupang Kota.

Baca Juga:  Walikota Beri Hak Atas Tanah Bagi Warga Kota Kupang itu Tindakan Administrasi Negara

Atas laporan polisi yang dibuatnya, anggota Polres Kupang Kota turun ke Tempat Kejadian Perkara (TKP). Selain melakukan identifikasi, anggota juga membuat garis polisi di rumahnya.

Saat TIMORline.com mendatangi Melky di kediamannya, Jumat (15/01/2021) pagi, tampak garis polisi masih terikat mengelilingi rumahnya. Kaca jendela yang rusak ditempel-ganti pakai triplex dan seng bekas. Beberapa bagian dinding yang terbuat dari bebak itu sudah digantinya.

“Garis polisi masih ada. Tapi, tindaklanjut laporan polisinya seperti apa, tidak jelas. Ini yang saya pertanyakan. Sebab, selain saya dianiaya dengan cara dikeroyok, rumah saya juga dirusakkan. Padahal, kejadiannya sudah dari enam bulan lalu, 30 Agustus 2020”, demikian Melky.

Penulis/Editor: Cyriakus Kiik

Komentar