oleh

Tiga Terduga Kasus Penganiayaan dan Kekerasan Seksual di TTU perlu Dijadikan Tersangka

KEFAMENANU, TIMORline.com-Tiga terduga kasus penganiayaan dan kekerasan seksual di Kabupaten Timor Tengah Utara (TTU) Propinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) perlu dijadikan tersangka. Ketiga terduga itu adalah Frids, Gesta dan Rinto. Sebab, ketiga terduga ini diduga kuat ikut membantu dan membiarkan terjadinya penganiayaan dan kekerasan seksual.

Dalam peristiwa itu, diduga kuat sebagai terduga utama adalah Le Ray. Sedangkan korbannya adalah BWA. Terduga utama Le Ray disebut-sebut melakukan penganiayaan terhadap korban BWA di rumah kos milik Yoseph Tanu, salah satu mantan pejabat di lingkup Pemerintah Kabupaten (Pemkab) TTU. Sekaligus merupakan tempat kos Frids, salah satu terduga.

Direktur Lembaga Advokasi anti Kekerasan Masyarakat Sipil (LAKMAS) Cendana Wangi Nusa Tenggara Timur (NTT) Victor Manbait melalui akun WhatsApp-nya yang diterima TIMORline.com, Jumat (08/01/2021) siang, menjelaskan, ketiga terduga melihat dan tahu peristiwa yang dialami BWA. Tetapi, mereka membiarkan terjadinya peristiwa itu.

“Ketiga terduga itu lihat dan tahu sendiri peristiwa yang menimpa BWA. Sebab, saat kejadian, tiga terduga itu ada di TKP pertama, tepatnya di rumah kos milik Yoseph Tanu di Kelurahan Benpasi Pasar Baru Kefamenanu”, tandas Victor.

Kedatangan korban BWA di rumah kos tersebut diduga kuat setelah korban dihubungi Frids, salah satu terduga, melalui pesan WhatsApp. Setiba di sana, korban bersama Frids, Gesta dan Rinto sempat memasak dan makan siang bersama. Setelah makan siang, korban bersama Frids dan kawan-kawannya duduk santai di ruang kerjanya Frids.

“Tiga terduga di tempat kost ini pantas diperiksa sebagai calon tersangka. Mereka turut serta dan membiarkan terjadinya penganiayaan yang dilakukan pelaku terhadap korban”, jelas Victor.

Menurut Victor, saat kejadian di depan mata, tiga terduga hanya duduk diam dan menonton korban ditarik ke jalan. Korban bahkan sempat berteriak minta tolong. Tetapi, tiga terduga membiarkan pelaku Le Ray menganiaya korban BWA.

Baca Juga:  Satgas Pamtas Yonif 741/GN Bedah Rumah Warga TTU

Atas perbuatannya, sebut Victor, Le Ray selaku pelaku dapat dikenai pasal berlapis. Selain pasal penganiayaan, juga kekerasan seksual. Hal ini diatur dalam Pasal 351 dan Pasal 285 Kitab Undang-undang Hukum Pidana (KUHP).

Pasal 351 ayat (1) KUHP berbunyi: Penganiayaan diancam dengan pidana penjara paling lama dua tahun delapan bulan atau pidana denda paling banyak empat ribu lima ratus rupiah. Ayat (2) berbunyi: Jika perbuatan mengakibatkan luka-luka berat, yang bersalah diancam dengan pidana penjara paling lama lima tahun.

Sedangkan Pasal 285 KUHP berbunyi: Barangsiapa dengan kekerasan atau ancaman kekerasan memaksa perempuan yang bukan isterinya bersetubuh dengan dia, dihukum, karena memperkosa, dengan hukuman penjara selama-lamanya dua belas tahun.

Penulis/Editor: Cyriakus Kiik

Komentar