oleh

Tim Buser Polres TTU Ciduk Le Ray di Perbatasan Timor

KEFAMENANU, TIMORline.com-Tim Buru Sergap (Buser) Polres Timor Tengah Utara (TTU) menciduk Le Ray di Perbatasan Timor. Tepatnya di Desa Halibate Kecamatan Lasiolat Kabupaten Belu Propinsi Nusa Tenggara Timur (NTT).

Le Ray adalah warga Kelurahan Benpasi Kecamatan Kota Kefamenanu. Ia diduga kuat melakukan penganiayaan berat dan kekerasan seksual terhadap BWA (32), warga Kelurahan Maubeli Kecamatan Kota Kefamenanu pada Senin (04/01/2021).

Kasat Reskrim Polres TTU AKP Sujud Alif Yulamlam kepada wartawan di Kefamenanu, Rabu (6/1/2020), membenarkan pencidukan Le Ray.

Menurut Kasat Sujud, usai melakukan penganiayaan terhadap korban, terduga pelaku langsung melarikan diri ke wilayah Kabupaten Belu.

Tim Buser berhasil menciduk terduga pelaku dalam kurun waktu 2 × 24 jam, pasca menerima laporan polisi korban.

“Saat ini pelaku sedang diamankan di Polres TTU untuk kepentingan pemeriksaan,” ujarnya.

Saat ditangkap, kata Kasat Sujud, terduga pelaku bersembunyi di rumah salah satu kerabatnya. Tepatnya di Desa Halibate Kecamatan Lasiolat. Dia berniat menyeberang ke negara Timor Leste.

Tetapi, niat itu diurungkan anggota Tim Buser Polres TTU yang terdiri dari Bripka Polikarpus Ikun Fahik, Brigpol Gregorius Haki Taslulu dan Brigpol Muhamad Nur BM.

Tindakan penganiayaan berat dan kekerasan seksual yang dilakukan Le Ray terhadap BWA diduga kuat dipicu rasa cemburu yang berlebihan. Sebab, Le Ray dan BWA sebenarnya teman lama.

Belakangan, BWA diduga kuat berteman dengan Frids, pemilik Portal Berita Suluh Desa.

Akibat perbuatan terduga pelaku, korban mengalami bengkak pada wajah, luka di kepala dan mulut, serta luka bakar dan lebam di sekujur tubuhnya.

Peristiwa itu semula terjadi di Rumah Jabatan Bupati TTU Raymundus Sau Fernandes dan berlanjut di areal kebun pepaya milik Bupati Raymundus.

Baca Juga:  Advertorial: Mencari Pemimpin Kabupaten Belu Lima Tahun Mendatang di Masa Pandemi Covid-19

Hal ini bersesuaian dengan keterangan BWA selaku korban saat didampingi ibunya memberi keterangan kepada wartawan di kediamannya, Selasa (05/01/2021), sebagaimana diberitakan TIMORline.com sebelumnya, Selasa (05/01/2021).

Dikisahkan, terduga pelaku secara paksa membawa korban mendatangi rumah jabatan Bupati Raymundus. Setiba di sana, terduga pelaku langsung membuka salah satu kamar. Pelaku secara paksa mendorong korban masuk ke kamar tersebut.

Di dalam kamar yang terkunci, pelaku diduga menganiaya korban dengan cara memukuli kepala, badan, kaki, dan tangan korban, mencekik dan meludahi. Bahkan, pelaku memukul mulut korban hingga pecah dan berdarah. Darah dari mulur korban tercecer di atas tempat tidur dan lantai kamar.

Pelaku kemudian merobek baju dan pakaian dalam korban dan kembali menganiaya korban. Tak hanya itu, pelaku semakin membabi buta dan membakar tubuh korban pakai puntung rokok. Korban pun dipaksa membuka celananya dan pelaku menusuk kemaluan korban pakai gagang sapu.

“Dia ikat saya punya tangan pakai tali rafia. Dia bilang lu kurang ajar, buat saya sakit hati, saya bunuh lu. Kemudian dia paksa saya buka celana dan dia videokan kondisi saya sambil menghina saya,” ujar korban BWA.

Sekira pukul 20.30 Wita, pelaku mengeluarkan korban dari kamar. Pelaku membawa korban ke perkebunan pepaya milik Bupati Raymundus di Naen. Di sana, mereka bertemu dengan penjaga kebun. Pelaku lalu menyetubuhi korban secara paksa di areal belakang kebun yang gelap.

Setelah peristiwa itu, pelaku mengembalikan telepon genggam korban dan pergi buang air. Kesempatan itulah yang digunakan korban untuk menghubungi keluarganya dan melaporkan kejadian tersebut ke pihak kepolisian.

Penulis/Editor: Cyriakus Kiik

Komentar