oleh

Gadis TTU Dianiaya di Rumah Jabatan Bupati lalu Disetubuhi di Areal Kebun Pepaya

KEFAMENANU, TIMORline.com-Seorang gadis dianiaya dan mengalami pelecehan seksual di Rumah Jabatan Bupati Timor Tengah Utara (TTU) Raymundus Sau Fernandes, Senin (04/01/2021).

Sudah begitu, gadis ini malahan dibawa dan disetubuhi pelaku di areal kebun pepaya milik bupati tersebut.

Gadis itu berinisial BWA, warga Kelurahan Maubeli Kecamatan Kota Kefamenanu. Sedangkan pelakunya adalah Le Ray, warga Kelurahan Benpasi Kecamatan Kota Kefamenanu.

Dugaan kuat, peristiwa penganiayaan dan pelecehan seksual itu dipicu api cemburu. Sebab, korban diduga kuat berteman dengan Frids, salah satu pengelola akun Suluh Desa.

Akibat penganiayaan tersebut, korban mengalami bengkak pada wajah, luka di kepala dan mulut, serta luka bakar dan lebam di sekujur tubuhnya.

Perbuatan pelaku ini sudah dilaporkan di Polres TTU. Kini, sedang dalam penyelidikan.

BWA selaku korban didampingi ibunya kepada wartawan di kediamannya, Selasa (05/01/2021), menjelaskan, awalnya korban berteman dengan pengelola akun Suluh Desa bernama Frids. Selama ini dia tinggal kontrak di rumah mertua Yosep Tanu, mantan calon Wakil Bupati TTU dalam Pilkada TTU 2020 lalu, beralamat di Pasar Baru Kelurahan Benpasi Kecamatan Kota Kefamenanu.

Pada Senin (04/01) siang, Frids menghubungi korban melalui pesan WhattsApp. Dia meminta korban berkunjung ke kontrakannya. Namun, korban menolak karena merasa sungkan. Setelah Frids meyakinkan korban bahwa di kontrakan tersebut ada rekannya Gesta dan Rinto, korban langsung memutuskan untuk berkunjung ke kontrakan Frids.

Setibanya di sana, korban bersama Frids, Gesta dan Rinto memasak dan makan siang bersama. Setelah makan siang, korban bersama Frids, dan rekan-rekannya duduk santai di ruang kerja Frids.

Saat itu, Frids tengah mengetik di laptop. Sementara korban mengisi waktu luang dengan mendownload dan menonton film pada laptop lainnya. Tak lama kemudian, Frids mengeluh tangannya pegal karena lama mengetik. Mendengar hal itu, korban menawarkan bantuan untuk memijat pergelangan tangan korban.

Baca Juga:  Di Malaka, PMT Dioptimalkan untuk Cegah Stunting

Selang dua menit kemudian, pelaku, Le Ray tiba bersama rekannya Nuel Uskono. Tanpa basa-basi, pelaku langsung memukuli kepala korban
pakai sebuah kursi. Kursi tersebut patah di kepala korban.

Korban yang diserang secara tiba-tiba langsung sempoyongan. Tak hanya sampai di situ. Pelaku secara bertubi-tubi memukul korban di bagian kepala dan wajah. Bahkan, korban secara bengis membenturkan korban ke tembok dan pintu.

Pelaku kemudian menarik korban keluar ke halaman depan rumah dan memaksa korban untuk ikut dengannya. Namun, korban yang merasa dirinya terancam, enggan memberitahukan di mana kunci motornya disimpan. Pelaku juga merampas telepon genggam korban.

“Dia (pelaku) menanyakan kunci motor saya. Saya bilang kunci tidak ada. Karena marah, dia pukul saya dan tarik saya sampai ke jalan raya”, aku BWA.

Diperlalukan demikian, korban BWA berteriak minta tolong ke orang-orang yang lewat. Tapi tidak ada orang yang tolong korban. Pelaku kemudian menarik korban kembali ke dalam rumah dan ancam mau bunuh. Frids yang coba membela, malahan dilempari pelaku pakai gelas aqua.

Karena tidak mampu melawan, korban akhirnya pasrah dan mengikuti pelaku naik motor korban. Awalnya, pelaku mengaku hendak mengantar pulang korban ke rumah korban. Sayangnya, pelaku malah tancap gas dan membawa korban menuju ke Rumah Jabatan Bupati TTU Raymundus Sau Fernandes. Keduanya masuk melalui pintu samping yang dalam keadaan terbuka dan langsung menuju dapur.

Pelaku lalu memarkir motor di belakang dapur. Dia membuka salah satu kamar di rumah jabatan tersebut. Korban BWA lalu didorong pelaku masuk ke kamar tersebut.

Di dalam kamar yang terkunci, pelaku langsung menganiaya korban dengan cara memukuli kepala, badan, kaki, dan tangan korban, mencekik dan meludahi. Pelaku memukul mulut korban hingga pecah dan berdarah. Darah dari mulur korban tercecer di atas tempat tidur dan lantai kamar.

Baca Juga:  Uskup Mgr Philip 'Orang Muda' Saklil, Pr Meninggal Dunia

Pelaku kemudian merobek baju dan pakaian dalam korban dan kembali menganiaya korban. Tak hanya itu, pelaku semakin membabi buta dan membakar tubuh korban pakai puntung rokok. Korban pun dipaksa membuka celananya dan pelaku menusuk kemaluan korban pakai gagang sapu.

“Dia ikat saya punya tangan pakai tali rafia. Dia bilang lu kurang ajar, buat saya sakit hati, saya bunuh lu. Kemudian dia paksa saya buka celana dan dia videokan kondisi saya sambil menghina saya,” ujar korban BWA.

Sekira pukul 20.30 Wita, pelaku mengeluarkan korban dari kamar. Pelaku membawa korban ke perkebunan pepaya milik Bupati TTU di Naen. Di sana, mereka bertemu dengan penjaga kebun. Pelaku lalu menyetubuhi korban secara paksa di areal belakang kebun yang gelap.

Setelah peristiwa itu, pelaku mengembalikan telepon genggam korban dan pergi buang air. Kesempatan itulah yang digunakan korban untuk menghubungi keluarganya dan melaporkan kejadian tersebut ke pihak kepolisian.

Kapolres TTU AKBP Nelson Filepe Diaz Quintas melalui Kasat Reskrim AKP Sujud Alif Yulamlam mengaku telah menerima laporan polisi dari korban berinisial BWA.

Atas laporan tersebut, pihaknya telah mengambil keterangan dan melakukan visum et repertum terhadap korban.

Pihak kepolisian juga telah mengamankan barang bukti berupa satu buah kursi plastik berwarna biru yang digunakan pelaku memukul korban di wilayah sekitar Pasar Baru Kelurahan Benpasi. Sedangkan pelaku buron dan saat ini sedang dalam pengejaran polisi.

“Kita sudah menerima laporan polisi dan korban sudah divisum. Tadi kita sudah ambil keterangan korban. Tetapi korban dalam keadaan tidak sehat secara jasmani. Sehingga, kita hentikan sementara atas permintaan korban”, kata Kasat Sujud Alif sebagaimana dikutip victorynews.id, Selasa (05/01/2021).

Baca Juga:  Besok, Nasib Kades Webriamata Ditentukan Tim Gakkumdu Malaka

Selain itu, pihak Polres TTU juga menyita barang bukti berupa kursi, sambil menunggu hasil visum.

Editor: Cyriakus Kiik   Sumber: victorynews.id

Komentar