oleh

Kajari Belu Musnahkan Barang Bukti 46 Perkara senilai Rp5,5 Miliar

KEPALA Kejaksaan Negeri (Kajari) Belu bersama anggota Forum Komunikasi Pimpinan Daerah (Forkompimda) Belu lainnya berkumpul di kantor itu, Rabu (02/12/202).

Selain Kajari Alfons Loe Mau, ada juga  Danyon 744/SYB sekaligus  Dansatgas RI-RDTL, Ketua Pengadilan Negeri  Kelas IIB Atambua, Kepala Bea Cukai Kabupaten Belu, Administrator  PLBN  Motaain, Kepala Imigrasi Kelas II Atambua,Tokoh Agama, Tokoh masyarakat, Tokoh Pemuda, Kaban Kesbangpol Kabupaten Belu, dan pejabat lainnya.

Mereka  melakukan pemusnahan barang bukti penyitaan Kejaksaan Negeri (KejariBelu di halaman kantor tersebut senilai Rp5,5 miliar.

Kajari Belu Alfons Loe Mau memberi sambutan saat pemusnahan barang bukti perkara-perkara yang sudah tuntas pelaksanaan eksekusinya, Rabu (02/12/2020). (Foto: Diskominfo Kabupaten Belu).

Kepala Kejaksaan Negeri (Kajari) Belu Alfons Loe Mau menjelaskan,  pemusnahan barang bukti ini merupakan pelaksanaan tugas rutin dari jaksa selaku eksekutor terhadap putusan perkara pidana baik  pidana umum maupun pidana khusus yang telah mempunyai kekuatan hukum tetap.

“Suatu penanganan perkara dianggap telah selesai jika telah dilaksanakan eksekusi terhadap putusan perkara  berupa eksekusi baik  dimasukkan ke penjara maupun eksekusi mati berupa hukuman mati dengan cara ditembak”, kata Kajari Alfons.

Kajari Alfons mengatakan, penanganan sebuah  perkara tuntas apabila sudah selesai eksekusi terhadap terpidana dan barang buktinya.

“Kalau hanya kita eksekusi  terpidana, sedangkan barang buktinya kita tidak eksekusi itu dikatakan belum tuntas penanganan perkaranya. Sehingga,  keduanya harus tuntas secara administrasi maupun secara hukum”, katanya.

Selain itu, dijelaskan,   pelaksanaan eksekusi merupakan wujud tanggungjawab jaksa selaku  eksekutor untuk mempertanggungjawabkan kepada masyarakat terutama kepada korban dan pelaku kejahatan bahwa penanganan terhadap kasusnya sudah tuntas.

“Ini merupakan  bentuk transparansi kepada publik dan  bentuk pertanggungjawaban pelaksanaan tugas kita sebagai eksekutor”, kata Kajari Alfons.

Lebih jauh Kajari Alfons berpesan kepada masyarakat tidak melakukan tindakan-tindakan yang melanggar hukum.  Khusus para pelaku kejahatan  supaya tidak lagi mengulangi perbuatan mereka. Sebab, perbuatan-perbuatan itu merugikan banyak orang.

Baca Juga:  Ketua NU Malaka Pimpin Anggota Amankan Jalan Salib Hidup Umat Katolik

Dalam kegiatan ini, barang bukti yang dimusnahkan terdiri dari barang bukti 46 perkara pidana, yakni 44 perkara pidana umum dan   dua perkara pidana khusus yang dihimpun dari 2019 sampai dengan 2020.

Barang bukti  perkara tindak pidana umum yang dimusnahkan berupa senjata tajam, yakni panah, pisau, parang dan alat-alat lain yang digunakan para pelaku kejahatan. Sedangkan  barang bukti perkara tindak pidana khusus ada dua perkara berupa 229 i_Phone 6s dan alat penguat sinyal yang diseludupkan warganegara Cina melalui perbatasan RI-RDTL.

Dua perkara pidana ini, kata Kajari Alfons, telah diputuskan dan pelakunya dijatuhi hukuman dua tahun penjara oleh Pengadilan Tinggi NTT. Selain itu, pelaku didenda Rp100 juta.

Barang bukti dirampas untuk dimusnahkan dan pelakunya  sudah dieksekusi. Dendanya pun sudah dibayar dan sudah disetor ke kas negara”, katanya.

Kajari Alfons menjelaskan, barang bukti   putusan suatu perkara  bervariasi. Sebagai misal,  dalam perkara penyelundupan barang bekas,  barang buktinya  dieksekusi  dengan beberapa cara sesuai dengan putusan pengadilan.

Sesuai putusan pengadilan,  kata Kajari Alfons, barang bukti itu dikembalikan kepada yang berhak. Sehingga, barangnya  dikembalikan kepada yang berhak.

“Kalau barang bukti itu berdasarkan putusan dinyatakan dirampas untuk negara maka akan dilelang dan hasil lelangnya akan disetor ke kas negara”, tandas Kajari Alfons.

Untuk pemusnahan barang bekas, urai Kajari Alfons, diambil sampelnya sekira dua karung dengan cara dibakar. Sedangkan sisanya sementara dikoordinasikan dengan PT Semen Kupang untuk selanjutnya dilakukan pemusnahan dengan cara pembakaran di sana. Sebab,   bila barang bekas  tidak dibakar atau ditimbun, akan muncul persoalan baru.

Kapal yang digunakan untuk memuat pakaian bekas ini, menurut Kajari Alfons, berdasarkan putusan pengadilan dirampas oleh negara. Sehingga,  pihak Kejari Belu juga sudah melakukan pelelangan dan kapal tersebut sudah terjual.

Baca Juga:  Kadinsos Malaka Usulkan Bidang Penanganan Fakir Miskin dan 12 Pendamping ke Kemensos

Hasil penjualan kapal pun sudah disetor ke kas negara  senilai Rp350 juta. Ada pula barang bukti yang dikembalikan, yakni barang bukti bendera Timor Leste. Setelah dikoordinasikan dengan konsulat Timor Leste yang ada di Belu, bendera Timor Leste dikembalikan ke Timor Leste.

Setelah dikalkulasikan, barang bukti yang dimusnahkan untuk iPhone kira-kira nilainya Rp500 juta, pakaian bekas jumlahnya sekarung 100 kg itu mencapai Rp4-5 juta per karung. Kalau dikalikan dengan jumlah 1.200 kg maka nilainya sekira Rp5 miliar lebih.

Ada pun barang bukti  tindak pidana khusus yang dimusnahkan  berupa 229 unit i_phone 6s, satu buah koper tanpa merk, satu buah koper merk Menyugongci, 6 unit WiFi portable merk TP.Link, 2 unit 60 port multible HD-350-60D, 1 unit 60 port multible USB merk JQE dengan kisaran harga 500 juta, dan pakaian bekas sebanyak 1.200 kg dengan kisaran harga mencapai Rp5 miliar.

Penulis/Editor: Cyriakus Kiik/Advertorial (Layanan Publik ini terselenggara atas kerjasama TIMORline.com dengan Dinas Komunikasi dan Informatika Kabupaten Belu).

Komentar