oleh

SMK, Penjamin Mutu Pendidikan COE di Perbatasan Timor

SEKOLAH Kejuruan menjadi pendidikan unggulan di ini negeri. Inilah kerinduan semua anak bangsa. Tak hanya di ibukota negeri dan kota-kota besar lainnya. Impian itu pun menjadi impian semua anak bangsa di Perbatasan Timor, sebuah pulau kecil dari ratusan pulau di Indonesia yang “pecah” menjadi dua negara: Indonesia dan Timor Leste.

Bertaruh cerdas di Kabupaten Belu, wilayah Indonesia di Propinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) yang berbatasan langsung dengan negara Timor Leste, Direktorat Sekolah Menengah Kejuruan pada Direktorat Jenderal Pendidikan Vokasi di Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia mengadakan Sosialisasi Pembelajaran dan Penjaminan Mutu Pendidikan SMK COE (Center of Excellence) bagi Kepala Sekolah dan para guru SMK Kusuma Atambua di Aula Susteran SSpS Atambua, belum lama ini.

Pendamping Pusat SMK COE (Center Of Excellence) Sektor Hospitality Direktorat Sekolah Menengah Kejuruan pada Direktorat Jenderal Pendidikan Vokasi di Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia Dr. Frans Masse Pakpahan, mengungkapkan, tujuan pendidikan kejuruan untuk menghasilkan tenaga kerja trampil yang memiliki kemampuan sesuai dengan tuntutan kebutuhan dunia usaha atau industri. Selain itu, untuk mengembangkan potensi diri dalam mengadopsi dan beradaptasi dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi.

“SMK itu merupakan salah satu peluang untuk masuk ke dalam dunia usaha, dunia kerja dan dunia industri”, kata Frans di hadapan Kepala Sekolah dan para guru di Sekolah Menengah Kejuruan Katolik Kusuma Atambua.

Selain itu, menurut Frans, kehadiran SMK COE dimaksudkan untuk meningkatkan kualitas pendidikan dan kependidikan untuk menjamin mutu pendidikan di SMK dalam mekanisme yang sistematis, terintegrasi dan berkelanjutan guna memastikan bahwa proses penyelenggaraan pendidikan telah sesuai dengan standar mutu.

Karena itulah, di dunia praktis, sekolah kejuruan akan selalu bekerjasama dengan dunia usaha dan dunia industri yang dikenal dengan naman IDUKA (Industri Dunia Usaha dan Dunia Kerja ).

Baca Juga:  Ketua Umum DPN PPWI Lantik DPC PPWI Kota Sawahlunto-Sumbar

Menurut Frans, ada empat hal dalam pengembangan pendidikan Sekolah Menengah Kejuruaan, yakni:
Pertama, Sumber Daya Manusia; Kedua, Pendidik dan tenaga pendidik; Ketiga, kerjasama; Keempat, Kelulusan.

Idealnya, urai Frans, kurikulum selalu terupdate sehingga apa yang dibutuhkan di dunia kerja atau dunia usaha harus diterjemahkan dalam kurikulum agar dapat bekerjasama dengan dunia industri dan dunia kerja.

Bagi tenaga pendidik untuk Sekolah Menengah Kejuruan, seorang pendidik atau guru dalam mendidik anak muridnya harus profesional sesuai dengan kompetensi dan kemampuannya. Tidak hanya gurunya tetapi juga Kepala Sekolah-nya. Kepala Sekolah sangat berperan dalam menentukan keberhasilan mutu pendidikan pada sekolah kejuruan itu.

Sementara itu, Kepala Bidang Pembinaan Pendidikan Menengah Propinsi NTT Mathias M. Beeh, SSTP.Par mengungkapkan, Pemerintah Propinsi NTT akan selalu mendampingi Sekolah Kejuruan yang ada di NTT dalam mengembangkan dan meningkatkan mutu pendidikan.

Hari ini kita berada di SMK Katolik Kusuma Atambua untuk mengekspos keberhasilan di dunia pendidikan dalam kaitan dengan percepatan mutu yang didorong terus oleh Pemerintah Propinsi di bawah kepemimpinan Gubernur Viktor Bungtilu Laiskodat dan Wakil Gubernur Josef Nae Soi lewat Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Propinsi NTT untuk terus mengawal mutu di tingkat persekolahan SMK sebagai salah satu bagian dari tugas pengontrolan kualitas mutu pendidikan.

“Kita ajukan untuk terus berkembang. Dari sekian banyak SMK, SMK Kusuma Atambua terpilih menjadi salah satu Central Of Excellence (SMK COE)”, jelas Mathias.

Dengan menjadi SMK CEO, kata Mathias, pihak kementerian memetakan SMK Kusuma menjadi sebuah SMK Model yang menjadi pusat perhatian pengembangan mutu. Pengembangan mutu ini dimulai dari sisi pembelajarannya maupun dukungan sarana prasarana atau pun fasilitas pendukung lainnya.

Kehadiran beberapa narasumber baik dari pusat maupun dari dunia usaha dan dunia kerja di NTT seperti Sotis Hotel, Teddy’s Travel dan Kadin, membuktikan adanya dukungan yang sangat positif terhadap perkembangan SMK ke depan. Sebab, SMK menjadi pusat keunggulan pendidikan. Sehingga, dengan sendirinya akan menjadi pusat kelulusan yang memberi kontribusi bagi masyarakat.

Baca Juga:  Kaban Antonio: PTSL Kabupaten Belu Tersebar di 14 Desa

“Semua ini berjalan baik oleh karena pola pendidikan yang dikembangkan dalam manajemen persekolahan”, kata Mathias.

Mathias berharap, dengan pemilihan SMK Katolik Kusuma Atambua menjadi SMK COE (Central Of Excellence) akan mendorong percepatan mutu. Dengan demikian, ada aliansi kolaborasi dari industri tetapi juga akan menggandeng SMK-SMK lain yang ada di NTT untuk ikut berkontribusi dalam posisi yang sama.

Dalam situasi pandemi Covid-19 lewat surat edaran yang diberikan Gubernur NTT, secara teknis di Dinas Pendidikan dan Kebudayaan dilakukan pola buka tutup dalam kaitan dengan pembelajaran dalam masa pandemi Covid-19.

Buka tutup ini kita lakukan ketika wilayah tertentu dikatakan zonanya hijau maka pembelajaran bisa dilakukan secara offline sedangkan kalau zona merah maka pembelajaran dilakukan secara online”, tandas Mathias.

Kepala SMK Katolik Kusuma Atambua Sr. Agustina Bete Kiik, SSpS mengucapkan terimakasih kepada Direktorat Sekolah Menengah Kejuruan pada Direktorat Jenderal Pendidikan Vokasi Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan yang telah berkontribusi terhadap pengembangan pendidikan di SMK Katolik Kusuma Atambua.

Kepala SMK Katolik Kusuma Atambua Sr. Agustina Bete Kiik, SSpS. (Foto: Diskominfo Kabupaten Belu).

Dengan menjadikan SMK Katolik Kusuma Atambua sebagai salah satu sekolah pusat keunggulan di sektor hospitality, Sr. Agustina berharap, semua sekolah kejuruan bangkit untuk menjadi sekolah yang mampu bersaing dengan dunia industri. Ini sesuai dengan Instruksi Presiden Nomor 9 Tahun 2016 tentang Revitalisasi SMK Meningkatkan Kualitas dan Daya Saing Sumber Daya Manusia Indonesia.

“Inpres tersebut mengamanatkan perlunya revitalisasi SMK secara komprehensif untuk menghasilkan lulusan SMK yang berdaya saing dan siap menghadapi tantangan dan dinamika perkembangan nasional maupun global”, ungkap Sr Agustina.

Sr. Agustina juga membeberkan, pada 2019, SMK Kusuma masuk dalam 500 SMK se-Indonesia yang terpilih untuk revitalisasi. Tahun 2020 ini realisasinya sehingga SMK Katolik Kusuma pun terpilih sebagai sekolah COE sektor hospitality jurusan tata boga dan akomodasi perhotelan.

Baca Juga:  Kadis Dukcapil Malaka Sosialisasi Protokol Kesehatan Covid-19 Bagi Warga

Dengan menjadi sekolah COE, ke depannya SMK Katolik Kusuma diharapkan mampu menjadi pusat training dan memiliki otorisasi untuk mensertifikasi guru dan siswa serta dapat menghasilkan produk barang dan jasa yang dapat diserap di industri atau pasar langsung.

Untuk itulah pihaknya akan kerjasama dengan dunia industri dan dunia kerja baik dalam penyelarasan kurikulum guru tamu dari IDUKA, tempat magang guru dan tempat praktek siswa serta penyerapan lulusan oleh IDUKA agar tujuan dari COE dapat tercapai.

“Sosialisasi ini untuk memberi gambaran dan langkah-langkah yang tepat yang harus dilaksanakan sekolah maupun industri dan dunia kerja atau IDUKA dalam mewujudkan SMK Kusuma tumbuh menjadi sekolah COE di NTT khususnya di Kabupaten Belu,” demikian Sr. Agustina.

Penulis/Editor: Cyriakus Kiik (Layanan Publik ini terselenggara atas kerjasama TIMORline.com dengan Dinas Komunikasi dan Informatika Kabupaten Belu).

Komentar