oleh

KRF: Aksi Terorisme di Sigi Jangan Meluas, perlu Due Process of Law

KUPANG, TIMORline.com-Ketua Presidium Kongres Rakyat Flores (KRF) Petrus Selestinus mengharapkan aksi terorisme, radikalisme dan intoleransi yang terjadi di Dusun Lewonu Desa Lembon Tongoa Kecamatan Palolo Kabupaten Sigi Propinsi Sulawesi Tengah pada 27 Nopember 2020 tidak meluas.

Aksi itu sangat keji, tidak berperikemanusiaan dan sangat biadab. Sebab, orang-orang yang dibunuh itu satu keluarga, orang-orang yang tidak bersalah, lalu membakar rumah tinggalnya”, tandas Petrus dalam rilisnya yang diterima redaksi TIMORline.com di Kupang, Selasa (01/12/2020) siang.

Lebih jauh Petrus meminta negara segera memulihkan rasa trauma masyarakat setempat agar konflik-konflik horizontal yang pernah terjadi pada masa lampau seperti Peristiwa Kerusuhan Poso I dan Poso II pada 1999 dan 2002,  tidak terjadi lagi, apalagi berkembang ke kabupaten tetangga di Propinsi Sulawesi Tengah atau tempat lain.

“Ini jelas aksi  tindak pidana terorisme terkait radikalisme dan intoleransi atas dasar Suku, Agama, Ras dan Antargolongan atau SARA. Sebab, satu keluarga yang dibunuh dan enam rumah warga berikut satu tempat ibadah yang dibakar, berasal dari umat berbeda agama”, tandas Petrus.

Advokat Peradi senior itu mendesak, seharusnya ada kebijakan dan keputusan politik negara bagi Polri dan TNI untuk memberi rasa aman bagi warga setempat.

“Polri dan TNI harus menjamin aksi itu tidak terulang dan tidak meluas sekaligus menangkap dan memroses hukum kelompok pelaku yang membunuh secara sadis warga korban yang tidak bersalah di Sigi”, kata Petrus.

Menurut Petrus, Peristiwa Sigi membuka lagi memori publik Indonesia tentang konflik neraka Poso I, Poso II dan Poso III pada 1998, 1999 dan 2000.

“Konflik itu adalah konflik horizontal dan komunal atas dasar SARA di Poso Propinsi Sulawesi Tengah. Sehingga, Pemerintah jangan bersikap setengah hati menghadapi aksi terorisme sebagai tindak pidana di wilayah mana pun di Indonesia”, katanya.

Baca Juga:  Dinas PMPTSP NTT dan Belu Serahkan Izin Usaha Angkutan Tiga Perusahaan

Secara organisasi, Kongres Rakyat Flores atau KRF mendesak Polri mengusut tuntas peristiwa biadab berupa pembunuhan dan pembakaran rumah di Sigi itu.

“Perlu penyelidikan due process of law apakah peristiwa biadab ini terkoneksi dengan ceramah Rizieq Shihab beberapa hari lalu tentang ancaman penggal kepala di jalanan bagi siapa saja yang menghina Islam, Ulama dan Nabi atau tidak”, demikian Petrus.

Penulis/Editor: Cyriakus Kiik

 

 

Komentar