oleh

TPDI Apresiasi Pencopotan Baliho Rizieq Shihab yang Dilakukan TNI

KUPANG, TIMORline.com-Tim Pembela Demokrasi Indonesia (TPDI) mengapresiasi pencopotan baliho Rizieq Shihab secara serentak di seluruh Jakarta yang dilakukan TNI di bawah perintah Pangdam Jaya Mayjen TNI Dudung Abdurrachman.

Hal itu diungkapkan Ketua TPDI Petrus Selestinus dalam rilisnya yang diterima redaksi TIMORline.com, Jumat (20/11/2020).

Petrus mengatakan, penempatan baliho Rizieq Shihab di seluruh Jakarta  itu sangat mengganggu kenyamanan publik dan merusak keindahan kota.

Baliho itu juga  memajang wajah  sosok  seseorang yang dibenci publik karena tutur katanya kasar, ucapannya menghina pihak lain, bahkan teror.

Dalam pandangan Petrus, pemasangan baliho Rizieq Shihab yang dilakukan secara liar, tidak resmi dan tanpa membayar pajak sejatinya Anie Baswedan tidak layak disebut sebagai Gubernur DKI Jakarta tetapi Gubernur FPI dan Rizieq Shihab.

Selain itu, pencopotan baliho Rizieq Shihab membuktikan bahwa Satpol PP sebagai organ Pemda DKI di bidang ketertiban tidak berdaya melakukan penindakan ketika berhadapan dengan FPI.

“Apakah hal ini terjadi karena  ketidakberdayaan Sat Pol PP atau karena Anies Baswedan terlalu partisan ke FPI atau karena kalah nyali sama FPI, sebaiknya Anies Baswedan yang menjawab atau jelaskan sendiri ke publik”, tandas Petrus.

Baginya, pencopotan baliho Rizieq Shihab dilakukan TNI di bawah perintah Pangdam Jaya di seluruh pelosok Jakarta pertanda kepemimpinan Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan tidak berwibawa. Sebab, Gubernur Baswedan lemah dalam menegakkan aturan dan disiplin hidup bermasyamarakat.

“Kelompok masyarakat yang tidak taat aturan dan tidak tertib bermasyarakat tentu sangat mengancam posisi Jakarta sebagai Ibukota Negara dan Kota Internasional”, tulis Petrus.

Menurut Petrus, sebetulnya pencopotan baliho Rizieq Shihab bukan tugas pokok atau tugas tambahan TNI. Tetapi, dampak buruk yang ditimbulkan akibat pesan-pesan atau konten dalam baliho Rizieq Shihab itu justru tidak mencerminkan sosok penyejuk.

“Pesan-pesan baliho itu membawa semangat memecah-belah, anti kebhinekaan, tidak mencerminkan nilai kebangsaan dan kecintaan kepada NKRI. Di sini TNI harus bertindak sebagai pengawal kedaulatan NKRI”, demikian Petrus.

Editor: Cyriakus Kiik

Komentar