oleh

Kuasa Hukum SBS-WT: Aparat Kepolisian Bersikap Dingin Tanggapi Laporan Masyarakat

BETUN, TIMORline.com-Tim Kuasa Hukum Pasangan Calon (Paslon) Bupati dan Wakil Bupati Nomor Urut 2 dr Stefanus Bria Seran, MPH dan Wendelinus Taolin menilai aparat Kepolisian Malaka bersikap dingin menanggapi laporan/pengaduan masyarakat/korban/pelapor.

Sikap dingin aparat Kepolisian Malaka itu ditunjukkan dengan tidak memberikan pelayanan hukum yang proporsional kepada masyarakat korban pengancaman.

“Ada oknum Kepolisian Resort Malaka yang berusaha menghilangkan unsur perbuatan pidana laporan klien kita”, kata Primus Seran Taek, SH, MH melalui akun WhatsApp-nya, Senin (16/11/2020).

Menurut Primus, laporan atau pengaduan klien yang dimaksudkannya adalah korban pengancaman di Desa Maktihan Kecamatan Malaka Barat Kabupaten Malaka pada Minggu (15/11) sekira pukul 17.30 wita.

Saat itu, korban sedang dalam perjalanan konvoi bersama-sama dengan teman-teman lain menggunakan kendaraan roda empat dari Besikama menuju Sekretariat SBS-WT di Dusun Haitimuk Desa Haitimuk Kecamatan Weliman.

Dalam kejadian itu, jelas Primus, seorang pelaku langsung ditangkap aparat kepolisian di Tempat Kejadian Perkara (TKP). Sementara pelaku lain yang menggunakan senjata tajam berupa kelewang belum ditangkap.

Tetapi, Advokat yang yang biasa dipanggil Imus itu mengatakan, saat melakukan pengaduan/laporan di Polres Malaka, ada oknum kepolisian yang berusaha menggiring dan menghilangkan keterangan yang berkaitan dalam keterangan korban/pelapor yang merupakan satu kesatuan peristiwa tersebut.

Dalam hal tersebut, kata Imus, pihaknya sebagai kuasa hukum sempat memperhatikan dan membaca isi laporan kliennya sebelum ditandatangani.

Imus bahkan sempat menanyakan kliennya apakah semua keterangan tertulis yang diberikan kepada polisi sesuai dengan keterangan yang disampaikan kepadanya selaku kuasa hukum atau tidak.

Sebab, menurut Imus, ada unsur perbuatan pelaku pertama yang ditangkap itu dihilangkan dalam Laporan polisi.

Hal ini sempat dijelaskan Imus selaku Pengacara SBS-WT di dalam ruang Kanitreskrimum. Sebab, perbuatan pidana yang ditimbulkan pelaku pertama dan pelaku lainnya sebetulnya merupakan satu kesatuan peristiwa hingga tertangkapnya Pelaku Pertama.

Tetapi, kata Imus, sepertinya ada unsur-unsur perbuatan pidana yang dihilangkan oknum kepolisian yang mengambil keterangan Laporan Polisi tersebut.

Imus sendiri berusaha menjelaskan keterkaitan kedua peristiwa itu kepada oknum anggota Polres Malaka berinisial AD. Tetapi, AD kemudian mengeluarkan kalimat yang bernada menyerang tugas seorang Pengacara dalam mendampingi klien.

“Oknum polisi itu bilang, pengacara hanya mendampingi. Tidak ada urusan dengan Laporan Polisi”, kata Imus.

Mendengar pernyataan AD, sesaat kemudian Imus langsung keluar meninggalkan Ruang Kanitreskrim. Sedangkan AD berusaha menggiring korban dengan berbagai pertanyaan. Antara lain, apakah unsur perbuatannya bisa dipidanakan?Apakah ini cocok untuk pasal sesuai UU yg berlaku?

Mendengar pertanyaan-pertanyaan itu, Imus selaku Pengacara kemudian meminta ijin untuk membawa pulang kliennya. Sebab, hak hukum kliennya tidak sesuai peristiwa yang terjadi.

“Untuk menjaga kemitraan dan keharmonisan sesama aparat penegak hukum, kita akan membuat laporan polisi ke tingkat yang lebih tinggi jika tidak dilayani dengan baik dan benar”, demikian Imus.

Penulis/Editor: Cyriakus Kiik

 

 

 

Komentar