oleh

Tekad Indonesia Sehat dari Tepian Negeri ‘Belu’ Tanpa Batas

SETIDAKNYA tercatat, empat kabupaten di Pulau Timor berbatasan langsung dengan negara Timor Leste. Dikenal dengan Perbatasan Republik Indonesia-Republik Demokratik Timor Leste (RI-RDTL). Karena batas itu membelah Pulau Timor atau Timor vs Timor, saya sering menulisnya dengan Perbatasan Timor.

Empat kabupaten itu adalah Kabupaten Belu berbatasan dengan Distrik Bobonaro di bagian utara, Kabupaten Malaka berbatasan dengan Distrik Covalima di bagian selatan, Kabupaten Timor Tengah Utara (TTU) dan Kabupaten Kupang berbatasan dengan Distrik Ambeno di bagian barat.

Kabupaten Belu sebagai bagian dari wilayah Indonesia di Propinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) sering dijuluki tepian negeri. Sebab, letaknya berbatasan langsung dengan negara Timor Leste. Tetapi, gerak pembangunannya terus dipacu. Kabupaten Belu tak mau ketinggalan dengan negara Timor Leste yang baru merdeka 18 tahun lalu.

Di bidang kesehatan, misalnya, ada komitmen seluruh anak bangsa untuk Menuju Indonesia Sehat. Hal ini terlihat dari thema Hari Kesehatan Nasional (HKN) ke-56 yang jatuh pada 12 Nopember 2020.

Dalam sambutan Menteri Kesehatan RI Letjen TNI (Purn). Dr. dr. Terawan Agus Putranto, Sp.Rad (K) yang dibacakan Pjs. Bupati Belu Drs. Zakarias Moruk, MM mengatakan, Hari Kesehatan Nasional ke-56 Tahun 2020 ini merupakan momentum untuk bersyukur di era pandemi dan mengingatkan semua anak bangsa akan pentingnya kesehatan.

Thema HKN tentang Satukan Tekad Menuju Indonesia Sehat merupakan upaya bagaimana membangun masyarakat yang produktif dan aman Covid-19 di era adaptasi kebiasaan baru melalui sub thema: Jaga Diri, Keluarga dan Masyarakat, Selamatkan Bangsa dari Pandemi Covid-19.

Menkes Terawan mengimbau seluruh masyarakat dan tenaga kesehatan agar selalu disiplin dalam menerapkan protokol kesehatan untuk mencegah paparan Covid-19. Sekuat apapun upaya pemerintah tidak akan cukup apabila tidak didukung masyarakat dengan mematuhi protokol kesehatan.

“Seluruh jajaran kesehatan yang melaksanakan berbagai kegiatan dalam rangkaian peringatan HKN tahun ini merupakan wujud dan tekad bersama masyarakat Indonesia untuk sehat,” tandas Menkes Terawan.

Lebih lanjut jenderal itu berterimakasih dan menyampaikan penghargaan setinggi-tingginya kepada segenap jajaran kesehatan, lintas sektor di pusat dan daerah serta seluruh lapisan masyarakat yang telah bahu-membahu berjuang tanpa mengenal lelah di semua lini dalam melaksanakan pembangunan kesehatan sebagai sebuah perjuangan bersama untuk menyelamatkan bangsa dari pandemi Covid-19 dan mewujudkan indonesia semakin sehat.

Di lingkup Pemerintah Kabupaten Belu, momentum HKN ini diwarnai dengan penyerahan piagam penghargaan kepada pemenang lomba parade budaya, lomba tebe, lomba peregangan tradisional dan lomba kampanye ayah hebat antarpuskesmas se-Kabupaten Belu dan penyerahan video CD peregangan sehat tradisional Belu oleh Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Belu kepada Pjs Bupati Belu.

Penyerahan Video CD Peregangan Tradisional ini dimaksudkan untuk dijadikan peregangan sehat seluruh Organisasi Perangkat Daerah (OPD) se-Kabupayen Belu dan seluruh masyarakat setiap hari pada pukul 10.00 wita pagi dan pukul 14.00 wita.

Selain itu, ada pula penyerahan piagam penghargaan kepada Kelurahan Tulamalae Kecamatan Atambua Barat sebagai Kelurahan Sanitasi Total Berbasis Masyarakat (STBM) Tahun 2020; Desa Dualaus Kecamatan Kakuluk Mesak sebagai Desa STBM 2020 dan Kelurahan Beirafu Kecamatan Atambua Barat sebagai Kelurahan Stop Buang Air Besar Sembarangan 2020.

Tentu, masyarakat Kabupaten Belu termasuk para petugas kesehatan tidak hanya dibuat senang dengan Perayaan HKN yang sifatnya seremonial belaka.

Tetapi, kesejahteraan para petugas medis di semua tingkatan dalam kapasitas apa pun harus nyata. Sehingga, pemerintah omong negerinya sehat tetapi pelaku-pelakunya juga harus sejahtera.

Kisah-kisah memilukan di kalangan petugas media (dalam keterbatasan pemahaman saya: mantri, bidan, perawat dan dokter) sesegeranya terhenti.

Ada contoh kisah, seorang bidan mengaku melamar dan diterima kerja pada salah satu Puskesmas di Kabupaten Belu. Status kepegawaian sukarelawan. Saat ini, sudah delapan tahun kerja. Tetapi, sambil menahan tangis, sang bidan bilang, “Saya bertahan kerja di Puskesmas itu karena gengsi. Hanya untuk menepis cap sosial: “sekolah tinggi tapi tidak ada kerja; sekolah capai-capai hanya tinggal di rumah jadi orang kampung”.

Lalu, berapa gajinya, si bidan bilang, “Gajinya hanya cape”. Gajinya cape karena memang tidak ada gaji. Dia hanya bisa kerja, kerja dan kerja. Yang bisa dia lakukan itulah yang dinamakannya kerja. Ngepel lantai. Lem surat. Agendakan surat keluar-masuk. Siram bunga. Bantu dokter. Bantu bidan PNS.

Untuk datang kerja, dia menggunakan jasa ojek. Pergi-pulang Rp20.000. Dari mana dia dapat uang ojek, awalnya dari hasil kiriman suaminya yang saat ini ada di Kalimantan, kerja di kebun kelapa sawit. Tetapi, sejak dua tahun lalu, kiriman suaminya terhenti. Belum tahu apa alasannya. Soalnya, sudah tidak ada kabar dari suaminya.

Untuk memenuhi kebutuhan keseharian bersama dua anaknya, si bidan harus tenun, tanam sayur-mayur di sekeliling rumah dan kebunnya yang dekat kali.

Ini kisah salah satu bidan. Mungkin masih banyak bidan-bidan lainnya yang bernasib serupa. Lalu, apa yang bisa dilakukan pemerintah untuk kesejahteraan para petugas medis di Kabupaten Belu, negeri tepian tanpa batas Indonesia? (*)

Penulis/Editor: Cyriakus Kiik/Layanan masyarakat ini terselenggara atas kerjasama TIMORline.com dengan Dinas Komunikasi dan Informatika Kabupaten Belu.

Komentar