oleh

BP PAUD Dikmas NTT dan Disdikbud Kabupaten Belu Adakan Workshop Pencegahan Stunting

BALAI Pengelola Pendidikan Anak Usia Dini (BP PAUD) dan Pendidikan Masyarakat (Dikmas) Propinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) bekerjasama dengan Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Kabupaten Belu mengadakan Workshop Pencegahan Stunting di Aula Kantor Disdikbud Kabupaten Belu, Atambua, Jumat (13/11/2020).

Kegiatan workshop ini dibuka secara resmi oleh Kepala Dinas (Kadis) Dikbud  Kabupaten Belu Jonisius R. Mali, SH. Pesertanya terdiri dari para Pengelola PAUD, Tutor PAUD, Bunda PAUD dan para pengelola lembaga-lembaga pendidikan PAUD.

Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Belu Jonisius Manek saat membuka secara resmi kegiatan Workshop Penanganan Stunting di Aula Kantor Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kanupaten Belu, Atambua, Jumat (13/11/2020). (Foto: Istimewa).

Kadis Dikbud  Kabupaten Belu Jonisius R. Mali, SH saat membuka secara resmi kegiatan tersebut mengatakan,  kegiatan workshop itu ditujukan bagi para tutor dan pengelola PAUD yang ada di kecamatan dan desa untuk dapat memahami dan mengerti tentang masalah stunting yang terjadi pada anak-anak PAUD.

Melalui kegiatan workshop ini, peserta memiliki kecakapan, ketrampilan dan wawasan yang luas terkait stunting dan menjadi ujung tombak atau menjadi sumber informasi bagi masyarakat dalam penanggulangan stunting di Kabupaten Belu.

“Tujuan kita adalah   menurunkan angka prevalensi stunting di Kabupaten Belu”, tandas Kadis Jonisius.

Kadis Joni, begitu akrabnya, menjelaskan, masalah stunting sangat kompleks.  Berdasarkan data global intervensi penanganan stunting,  dari aspek kesehatan 30 persen,  sementara 70 persen dipengaruhi asupan gizi.

Oleh karena itu, mengutip Keputusan Presiden tentang Pencegahan dan Penanggulangan Stunting, Pemerintah Indonesia di bawah kepemimpinan Presiden Joko Widodo  meminta prevalensi stunting di Indonesia menurun pada 2024 mendatang menjadi 14 peesen.

Suasana peserta Workshop Penangaman Stunting di Aula Kantor Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Belu, Atambua, Jumat (13/11/2020). (Foto: Istimewa).

Salah satu pendekatan pemerintah yang dilakukan untuk mencegah stunting, sebut Kadis Joni, adalah pendekatan pendidikan. Karena  itulah, pemerintah melalui Kementerian Pendidikan  memberi perhatian khusus pada PAUD yang selama ini menjadi program unggulan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan.

Baca Juga:  30 Lulusan STKIP Sinar Pancasila Betun Terima Ijazah

Bahkan, PAUD Holistik Integratif menjadi  pilar utama dalam pencegahan dan penanggulangan stunting.

Di Kabupaten Belu sendiri saat ini terdapat 215 PAUD dan 15 PAUD Holistik Integratif.

Di hadapan seluruh peserta kegiatan workshop, Kadis Joni berkomitmen untuk mengarahkan pengelolaan PAUD di Kabupaten Belu menjadi PAUD Holistik Integratif.

“Pengelolaan dan pengembangan PAUD Holistik Integratif akan menjadi perhatian kita di Kabupaten Belu”, tandas Kadis Joni.

Dijelaskan, seribu  hari pertama kehidupan yang dihitung dari masa kehamilan sembilan bulan kemudian setelah 23 bulan lahir,  pada saat itu anak-anak berada dalam  periode emas.

“Penanganan stunting dimulai sejak usia emas”, kata mantan Asisten III Sekkab Belu ini.

Selanjutnya, kata Kadis Joni, pencegahan dan penanganan stunting dilakukan di lembaga pendidikan PAUD. Untuk itu, para pengelola PAUD terutama PAUD Holistik Integratif harus memiliki sensitivitas gizi.

Suasana dialog saat Workshop Penanganan Stunting di Aula Kantor Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Belu, Jumat (13/11/2020). (Foto: Istimewa).

Kadis Joni menekankan, penanganan stunting harus korelatif, tidak bisa diselesaikan  satu dinas tetapi harus bersama dinas terkait. Antara lain,  Dinas Kesehatan dan   Dinas Pemberdayaan Masyarakat Desa (PMD) berkaitan dengan tanah desa, BKKBN berkaitan dengan pengembangan pertumbuhan anak dan orangtua.

“Jadi, kita butuh kerjasama yang baik dalam menurunkan angka stunting di Kabupaten Belu. Upaya kita harus dilakukan  terus-menerus. Semua upaya ini berkaitan dengan perkembangan psikologi dan pertumbuhan pada anak usia dini”, tandas Kadis Joni.

Untuk workshop ini,  Kadis Dikbud Kabupaten Belu Jonisius R. Mali, SH tampil sebagai pemateri,  membawakan materi tentang Kebijakan Program PAUD.

Pemateri lainnya adalah Kepala Seksi Pelayanan Sosial Dasar pada Dinas PMD Kabupaten Belu Alexsander Ariyanto Mau, SKM, membawakan materi tentang Peran Pemerintah Desa dalam Upaya Pencegahan Stunting.

Sedangkan Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Belu dr. Joice M. M. Manek, MPH membawakan materi tentang Strategi Dinas Kesehatan dalam Mengatasi Stunting dan Pengenalan Makanan Pendamping ASI (MPASI).

Baca Juga:  Hina Gadis Bajawa, Ketua PMKRI Kupang: Oknum Anggota Polres Sikka Jangan Jadi 'Serigala Bengis'

Materi lainnya dibawakan Bunda Regina Wunda, BSc tentang Peranserta Orangtua dalam Pencegahan Stunting.

Editor: Cyriakus Kiik/Layanan Publik ini terselenggara atas kerjasama media online TIMORline.com dengan Dinas Komunikasi dan Informatika Kabupaten Belu.

Komentar