oleh

Polres Malaka Serius Tangani Kasus Pencemaran Nama Baik Bupati Malaka

Kapolres Malaka AKBP Albert Neno saat memberi keterangan kepada wartawan. (Foto: Dok/Timorline.com).

BETUN, TIMORline.comKapolres Malaka AKBP Albertus Neno mengaku serius menangani kasus pencemaran nama baik Bupati Malaka dr Stefanus Bria Seran, MPH.

Hal itu disampaikan Kapolres Albert kepada wartawan di Betun, ibukota Kabupaten Malaka, Jumat (23/10/2020).

Kasus itu sendiri dilaporkan  Tim Kuasa Hukum Pemerintah Kabupaten  Malaka Stefanus Matutina, SH, beberapa waktu lalu. Sedangkan sebagai terlapor adalah Alfred Baun, Ketua Aliansi Rakyat Anti Korupsi atau ARAKSI NTT.

Hal yang mencemarkan nama baik Bupati Malaka Stefanus Bria Seran adalah adanya pernyataan Alfred Baun dalam  pemberitaan media online Sepang Indonesia. Dalam pernyataan itu, Alfred   menyebut  Bupati Malaka Stefanus Bria Seran mengorupsi uang negara melalui proyek pengadaan bawang merah senilai Rp10,9 miliar.

Menurut Kapolres Albert, selama ini penyidik dan penyidik pembantu Polres Malaka sudah melakukan  langkah-langkah untuk memenuhi syarat  unsur formil perkara tersebut.

Tetapi, penyidik mengalami  kendala. Kendalanya adalah   salah satu saksi belum diperiksa, yakni saksi wartawan Sepang Indonesia.

Menurut Kapolres Albert, saat ini yang bersangkutan ada di Jawa. Penyidik sudah berusaha memanggil yang bersangkutan tetapi belum memenuhi panggilan penyidik.

Karena itulah, untuk kepentingan penyidikan, penyidik Polres Malaka akan melakukan terobosan. Caranya, penyidik Polres Malaka akan melakukan  koordinasi dengan penyidik tempat di mana saksi bekerja atau berdomisili terakhir. Sehingga, saksi dari media online Sepang Indonesia dapat dimintai keterangan untuk proses hukum kasus pencemaran nama baik Bupati Malaka Stefanus Bria Seran sebagaimana dilaporkan kuasa hukum Pemkab Malaka, Stefanus Matutina, SH, beberapa waktu lalu.

Apakah itu berarti dalam waktu dekat saksi wartawan Sepang Indonesia diperiksa, Kapolres Albert secara singkat diplomatis  mengatakan, “Kita upayakan”.

Penulis/Editor: Cyriakus Kiik

Komentar