oleh

SBS Hamata, WT Kampanye

BETUN, TIMORline.com-Pasangan calon (paslon) Nomor Urut 2 yang terditmri dari dr Stefanus Bria Seran, MPH-Wendelinus Taolin, Senin (05/10/2020), melakukan kampanye di Kecamatan Weliman dengan sebaran enam titik kampanye di tiga desa.

Ketiga desa itu adalah Desa Umalawain, Bonetasea dan Haliklaran.

Di enam titik kampanye itu, paslon pemilik nama perjuangan politik SBS-WT itu tidak lama-lama berorasi.

Di semua titik kampanye, setelah dibuka Ketua Tim Kampanye SBS-WT Devi Hermin Ndolu secara resmi, Juru Kampanye (Jurkam) dari enam partai pengusung Paslon SBS-WT diberi kesempatan untuk menyampaikan orasi politiknya masing-masing.

Yang mencengangkan, ketika tiba giliran SBS dan WT untuk berkampanye, mereka hanya omong sebentar.

Calon Bupati SBS (baju putih berdiri) saat ‘hamata’ keluarga pada hari ke-4 kampanye di Desa Haliklaran Kecamatan Weliman, Senin (05/10/2020). (Foto: Cyriakus Kiik/Timorline.com).

SBS bilang, dia datang ke titik-titik kampanye itu bukan untuk kampanye. Tetapi, dia hanya datang ‘hamata’ atau undang.

“Saya undang bapak, mama, om, tante dan kakak-adik semua untuk pada 9 Desember 2020 datang ke tempat pemungutan suara dan coblos Nomor Urut 2. Pilih saya dengan Pak Wande menjadi bupati dan wakil bupati Malaka”, kata calon bupati SBS berulang-ulang dari satu titik kampanye ke titik lainnya.

SBS menggunakan istilah ‘hamata’ atau undang karena memang saat ini dia sedang menjabat Bupati Malaka. Hanya untuk urusan kampanye, dia cuci jabatan selama 71 hari. Terhitung 26 September sampai dengan 5 Desember 2020. Nanti dia akan kembali bertugas pada 6 Desember 2020.

Selain itu, menurut SBS, dikatakan kampanye kalau dia baru calon bupati. Atau kalau peserta kampanye yang didatanginya adalah orang lain.

Nyatanya, saat ini SBS masih bupati tetapi hanya cuti untuk kampanye. Sedangkan peserta kampanye yang datang atau didatanginya adalah bapak, mama, om, tante, kunyadu dan kakak-adiknya.

“Buat apa saya kampanye. Saya datang ‘hamata’ atau beritahu atau undang ke TPS untuk coblos Nomor Urut 2 pada 9 Desember. Karena kami jadi bupati dan wakil bupati. Sebab, hamata berarti kita hanya jalan dari rumah ke rumah. Nanti yang kampanye itu Pak Wande”, kata SBS disambut tepuk tangan riuh peserta kampanye.

WT saat berkampanye di Dusun Umabot A Desa Umalawain, Senin (05/10/2020). (Foto: Cyriakus Kiik/Timorline.com).

Wendelinus Taolin atau WT dalam orasi politiknya menyatakan, SBS dalam memimpin Kabupaten Malaka selama hampir lima tahun terakhir sangat luar biasa. Sebab, program-programnya menyentuh langsung kebutuhan masyarakat.

Melalui program Revolusi Pertanian Malaka (RPM), lahan masyarakat dipacul gratis. Bibit, pupuk dan obat juga diberikan secara gratis kepada petani.

Pengobatan di Puskesmas dan rumah sakit pun dilakukan secara gratis dengan hanya menunjukkan kartu tanda penduduk (KTP).

“Pak dokter Stef sebagai calon bupati sudah berbuat. Sebelumnya beliau berpasangan dengan Bapak Daniel Asa almarhum. Kali ini saya yang berpasangan dengan beliau. Hari ini kami datang bertemu bapak, mama dan kakak adik di sini. Pilih kami untuk kita sama-sama melanjutkan program yang sudah berjalan”, kata WT.

Dari titik kampanye yang satu ke titik kampanye lainnya, WT menyatakan, dia tahu kalau selama ini dia belum buat apa-apa untuk daerah dan masyarakat Kabupaten Malaka.

Karena itulah, dia meminta masyarakat Kecamatan Weliman khususnya masyarakat Desa Umalawain, Bonetasea dan Haliklaran yang sudah didatangi untuk mendukung dan memilih SBS-WT dalam Pilkada 9 Desember 2020 mendatang.

“Saya belum buat apa-apa dan baru calon wakil bupati kali ini. Tetapi, saya datang tidak kosong. Saat ini banyak yang menunggu di kampung. Keluarga besar Bani-Bani, Kusa, Numponi dan kami kakak-adik yang hidup menyebar di lima kecamatan sedang menunggu. Mereka siap memenangkan Paket SBS-WT di lima kecamatan”, tandas WT meyakinkan massa peserta kampanye.

Paslon SBS-WT diusung enam partai politik dengan jumlah kursi 20 anggota di DPRD Kabupaten Malaka. Keenam partai politik itu adalah Partai Golkar (8 kursi), NasDem (3 kursi), Demokrat (2 kursi), Hanura (1 kursi), Gerindra (3 kursi) dan PDI Perjuangan (3 kursi).

Penulis/Editor: Cyriakus Kiik

 

Komentar