oleh

YKS Lepas 30 Kurungan Jaring Apung Bantuan Kedutaan New Zaeland

Kurungan jaring apung rumput laut hasil inovasi Yayasan Kesehatan unyuk Semua NTT siap dilepas di laut. (Foto: Mansetus Balawala/Timorline.com).

LEWOLEBA, TIMORline. com-Setelah hampir sebulan dirakit,  kini 30 kurungan jaring apung sebagai media pemeliharaan rumput laut dilepas  Yayasan Kesehatan untuk Semua (YKS)  bersama kelompok dampingan, Kamis (24/09/2020).

Pelepasan kurungan jaring apung ini dilakukan di Pantai Neren Desa Dulitukan Kecamatan Ileape,  Kabupaten Lembata Propinsi Nusa Tenggara Timur (NTT),  pada jarak sekitar 200 meter dari garis pantai.

Dalam setiap kurungan jaring apung dilepas 10 kg bibit rumput laut yang nantinya akan dipanen dalam waktu satu bulan ke depan. Dengan demikian, sekira 300 kg bibit rumput laut yang dipelihara dalam 30 kurungan jaring apung.

Salah seorang tim teknis dari Dinas Perikanan dan Kelautan Kabupaten Lembata, Amandus,  yang ikut hadir dalam pelepasan kurungan jaring apung itu mengatakan, dari 10 kg bibit yang dilepas dalam satu kurungan diperkirakan akan menghasilkan 60 kg rumput laut basa atau setara dengan 7,5 rumput laut kering.

“Jadi, dari total 30 kurungan yang dilepas akan menghasilkan 1.800 kg rumput laut basah atau sekira 226 kg rumput laut kering. Bila ditaksasi dengan harga rumput laut kering di pasaran saat ini yakni Rp15.000/kg,  kelompok akan menghasilkan Rp3.390.000,00 dalam sekali panen,” jelas Mandus yang sejak awal ikut mendampingi kelompok.

Penanggungjawab YKS Mansetus Balawala menjelaskan, kurungan jaring apung ini merupakan salah satu inovasi yang awalnya dilakukan Prof. Ma’ruf Kasim, SPi, MSi, PhD, salah seorang dosen pada Fakultas Perikanan Universitas Halu Oleo, Kendari.

Inovasi ini sudah diujicoba di beberapa daerah dan berhasil melindungi rumput laut dari serangan hama yang selama ini menjadi penyebab gagalnya usaha budidaya rumput laut oleh masyarakat.

“Mudah-mudahan dengan adanya inovasi ini bisa mengembalikan kejayaan  rumpu laut dan menggairahkan  animo masyarakat Ileape untuk melakukan budidaya rumput laut secara massal agar ekonomi mereka  kembali bergairah sebagaimana pada 10-15 tahun lalu,” ujar Balawala.

Balawala lebih jauh menjelaskan,  dirinya mengetahui inovasi teknologi kurungan jaring apung ini ketika diikutsertakan dalam ajang The AusAID Indonesian Social Innovator Award 2013 yang digelar Yayasan Kopernik  dengan Australian Agency for International Development (AusAID) di Denpasar, Bali.

Ajang ini merupakan kompetisi bagi individu berjiwa entrepreneur yang ingin mengaplikasikan inovasi sosial untuk berbagai masalah sosial di Indonesia.

“Jadi, saya tahu inovasi ini sejak 2013 ketika inovasi ini diikutsertakan dalam ajang itu. Kebetulan saya waktu itu mendaftarkan inovasi Ambulans Motor. Dari situ saya kenal beliau (Ma’ruf Kasim, Red) karena kami sama-sama presentasi inovasi masing-masing,” jelas Balawala.

Kurungan jaring apung diangkut menggunakan perahu ke tengah laut. (Foto: Mansetus Balawala/Timorline.com).

Ia menambahkan,  sejak lama ketika melihat masyarakat Ileape mulai mengalami gagal panen berkepanjangan dalam usaha budidaya rumput  laut karena serangan hama. Karena itulah, dirinya selalu berpikir untuk membantu masyarakat dengan menerapkan teknologi kurungan apung, namun baru  terealisasi berkat dukungan Kedutaan New Zaeland.

“Kami sangat berterimakasih kepada Kedutaan New Zaeland atas dukungan mereka sehingga kami bisa memenuhi harapan masyarakat menerapkan teknologi kurungan jaring apung ini. Kami berharap kerjasama ini terus ditingkatkan untuk kelompok masyarakat lain di wilayah ini, ” harap Balawala dan merincikan untuk 30 kurungan apung ini,  pihaknya mengadakan bibit rumput laut sebanyak 480 kg.

“Dari 480 kg itu yang dibudidaya sebanyak 450 kg,  30 kg lainnya itu perkiraan penyusutan karena harus disortir. Yang batang tua tidak digunakan sebagai bibit, ” tambah Balawala.

Ia berharap pemerintah desa bisa membantu masyarakatnya dengan mereplikasi inovasi yang ada menggunakan dana desa. Apalagi, di saat pandemi covid-19 yang masih mewabah,  setidaknya masyarakat merasa terbantu.

Sebab, Ileape adalah daerah kering, sehingga sumber daya alam di darat sangat minim bahkan hampir tidak ada,  mengingat masyarakat selalu gagal panen setiap tahun. Untuk saat ini sebagian besar dari hasil laut yang menjadi harapan hidup.

“Ketika melakukan sosialisasi, Kepala Desa Dulitukan Rifan Labi sudah menyatakan kesediaannya mereplikasi inovasi ini bila kelompok ini berhasil melakukan budidaya dengan kurungan jaring apung.

Tahun ini, lanjut Balawala, Pemerintah Desa Dulitukan telah mengalokasikan dana desa untuk kegiatan budidaya rumput laut tapi masih dengan cara manual. Mereka bisa mengalihkan dana itu untuk pengadaan kurungan bila pilot project ini berhasil. Itu janji kepala Desa Dulitukan, Rifan Labi, karena anggaran yang dialokasikan belum dieksekusi,” jelas Balawala.

Pantauan media ini di lapangan,  terlihat 30 kurungan apung itu diangkut menggunakan perahu ke tengah laut . Pada kedalaman sekira 10 meter baru diapungkan.  Setelah semua kurungan dilepas,  barulah perahu kembali ke darat mengangkut bibit rumput laut untuk dimasukkan dalam setiap kurungan. Rencananya kegiatan ini berlangsung selama dua hari yakni hari ini dan besok.

Penulis: Mansetus Balawala (Flores Timur/Lembata)
Editor: Cyriakus Kiik

 

Komentar