oleh

GMNI Kutuk Penembakan Pendeta di Papua

JAKARTA, TIMORline.com-Dewan Pimpinan Pusat (DPP) Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI) mengutuk oknum-oknum yang melakukan penembakan dan menewaskan Pendeta Yeremias Zanambani di Papua.

Bagi GMNI, lingkaran setan kekerasan di Papua itu bermula dari kebijakan rezim Soeharto yang tunduk pada kepentingan modal asing, perusahaan tambang Amerika Freeport, namun sangat represif terhadap warga Papua.

Yeremias Zanambani adalah Pendeta Gereja Kemah Injil Indonesia (GKII) sekaligus tokoh Suku Moni. Dia tewas ditembak di Distrik Hitadipa, Kabupaten Intan Jaya, Papua.

Informasi resmi dari Gereja Kemah Injil Indonesia (GKII) menyebutkan, Pendeta Yeremias Zanambani terkena tembakan pasukan oknum TNI yang sedang melakukan operasi militer di wilayah tersebut. Sedangkan menurut versi pihak TNI, penembakan dilakukan Kelompok Kriminal Bersenjata (KKB) atau separatis.

Kekerasan itu relatif tak berhenti meski Soeharto sudah jatuh dari kekuasaan pada 1998. Pendekatan keamanan masih dipandang pemerintah sebagai cara efektif dalam menyelesaikan permasalahan Papua.

Padahal, problem pokok di Papua itu adalah ketidak-adilan dan pengabaian yang dirasakan banyak warga Papua. Persoalan itu tidak akan selesai oleh pendekatan keamanan.

GMNI menilai, persoalan ketidakadilan dan pengabaian yang dialami warga Papua harus segera disudahi. Apabila tidak, lanjut Yoel, lingkaran setan kekerasan pun tak bisa disudahi. Ketika lingkaran setan kekerasan tidak dapat disudahi, berbagai pihak bisa masuk. Misalnya, pihak asing bisa memanfaatkan situasi demi kepentingan mereka sendiri.

Atas dasar itulah GMNI mendesak Pemerintah untuk segera menyudahi ketidak-adilan dan pengabaian terhadap masyarakat Papua. Caranya, lakukan pendekatan kultural secara intensif dan melibatkan lembaga agama dan kultural yang ada di Tanah Papua seluas mungkin, hargai kearifan lokal, dan hentikan peminggiran terhadap warga lokal dalam berbagai aspek, khususnya ekonomi, sosial dan budaya.

Ketua Bidang Organisasi DPP GMNI Yoel Finse Ulimpa menegaskan, pembunuhan terhadap Pendeta Yeremias Zanambani merupakan bagian dari lingkaran setan kekerasan di Tanah Papua puluhan tahun lamanya.

Tetapi, anak asli Papua ini mengingatkan, bangsa ini pernah punya pengalaman baik dalam menuntaskan secara damai konflik Aceh, Ambon dan Poso yang juga telah berlangsung bertahun-tahun. Karena itu, sudah seharusnya penyelesaian serupa juga dilakukan terhadap Papua.

“Mengapa untuk konflik Aceh, Ambon dan Poso bisa diselesaikan secara damai, tapi Papua tidak? Memang karakteristik konflik antara ketiga daerah itu dengan Papua berbeda, namun esensinya adalah menggunakan penyelesaian damai dan pendekatan kultural.  Itu akan berhasil dibandingkan pendekatan keamanan yang militeristik,” ujar Yoel.

Ia menegaskan, Pemerintah Pusat dalam hal ini Presiden Republik Indonesia Joko Widodo mestinya segera menghentikan operasi militer di Tanah Papua. Jika pemerintah masih tetap melakukan pendekatan militer maka masalah Papua tidak akan selesai.

GMNI pun meminta Pemerintah  segera mengungkap secara transparan kasus penembakan Pendeta Yeremias Zanambani. GMNI mendesak dibentuknya Tim Investigasi Independen yang melibatkan perwakilan masyarakat sipil seperti Gereja, Lembaga Adat dan organisasi kemasyarakatan.

“Tindak secara hukum, siapapun pelaku penembakan tersebut. Agar jangan ada yang merasa kebal hukum di Papua. Sehingga, masyarakat Papua tak ada lagi yang menjadi korban,” demikian Yoel.

Editor: Cyriakus Kiik

Komentar