oleh

Pengadilan Sosial yang Menista Kepemimpinan Bupati Belu Willybrodus Lay, Sapa Mo Help?

MASA jabatan Bupati Belu Willybrodus Lay segera berakhir. Ini ditandai dengan lonceng Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) yang sudah ditabuh Komisi Pemilihan Umum (KPU) pada akhir 2019 lalu.

Pilkada ini akan mencapai puncaknya dengan Pemilihan pada 9 Desember 2020 mendatang. Siapa yang terpilih saat itu, secara de jure akan menggantikan kepemimpinan Bupati Willybrodus yang akan berakhir pada 16 Pebruari 2021.

Selama kepemimpinannya, Bupati Willybrodus bersama Wakil Bupati-nya J. T. Ose Luan telah banyak berbuat. Tetapi, seiring dengan apa yang sudah banyak mereka buat, pengadilan sosial pun berlangsung tak henti.

Pengadilan sosial ini berlangsung sejak awal kepemimpinan mereka. Stigma atau cap negatif yang dialamatkan, terutama kepada Bupati Willybrodus Lay, adalah tidak tahu omong, tidak tahu bicara, tidak bisa menyampaikan sambutan. Apalagi berpidato.

Tawaran program prioritas pertanian yang ditunjukkannya kepada masyarakat Belu adalah budidaya bawang tuk-tuk atau bawang merah dan ubi ungu.

Masyarakat Belu menyambut baik budidaya dua komoditi ini penuh antusias. Masyarakat kemudian menyiapkan lahan sebagai lokasi penanaman bawang dan ubi.

Panen perdana bawang tuk-tuk di Desa Fatuketi Kecamatan Kakukuk Mesak.

Masyarakat Desa Fatuketi dan Jenilu Kecamatan Kakuluk Mesak adalah masyarakat Belu pertama di pantai utara wilayah ini yang membudidaya bawang merah dan ubi ungu. Bahkan, panen perdana bawang merah juga dilakukan di dua desa ini.

Pihak bank, antara lain bankNTT, BRI, BNI dan Bulog juga hadir memberi semangat kepada para petani.

Teringat, ada petani dan Ketua Kelompok Tani bilang, untuk memulai budidaya bawang merah di Desa Fatuketi, kesulitan pertama yang mereka hadapi adalah air. Di samping lahan bawang yang dipersiapkan, ada kali tapi kali kering. Tidak ada air. Kali ini baru ada air saat musim hujan.

Lalu bagaimana mereka menghadirkan air di dusun ini untuk memulai budidaya bawang merah?

Dikisahkan, Willybrodus Lay waktu itu belum menjadi Bupati Belu dan masih aktif sebagai pengusaha. Dia mendengar rintihan warga akan air untuk kepentingan pertanian.

Karena itulah Willybrodus Lay hadir memberi solusi. Willy, begitu akrabnya Willybrodus Lay, mengerahkan alat berat yang dimilikinya untuk gali air di sepanjang kali mati itu. Air itulah yang digunakan petani dan kelompok tani membudidaya bawang merah.

Tak jauh dari lahan penanaman bawang merah ini, petani setempat membudidaya ubi ungu. Pihak perbankan dan Bulog NTT diajak ke lahan ini. Mereka terkagum-kagum.

Bupati Willy mengawali kepemimpinannya dengan mendatangi langsung petani yang pernah dimintainya air. Sekalian menghadirkan pihak perbankan .

Artinya, Bupati Willy tahu kalau dia tidak bisa berjalan sendirian. Dia harus berkarya dan mengabdi negeri bersama orang lain. Antara lain, petani dan pemodal. Dia tahu kesulitan rakyat dan solusi yang seharusnya diberikan kepada rakyat.

Tetapu, komitmen Bupati Willy ini dilawan melalui Pengadilan Sosial. Apa itu Pengadilan Sosial? Pengadilan Sosial adalah sistem peradilan di luar pengadilan negara. Sistem peradilan ini berupa leluri atau cerita dari mulut ke mulut. Sistem ini tidak berujung. Tidak diketahui pasti sumbernya. Pun tidak diketahui siapa yang memulai dan siapa yang mengakhiri.

Ada pula Pengadilan Sosial melalui media sosial facebook baik pribadi maupun grup, baik asli maupun palsu.

Kontennya pun berupa fitnah dan hoax. Program, Visi, Misi dan kinerja Bupati Willy disoroti. Programnya dianggap gagal. Kerja-kerjanya dinilai jauh dari Visi dan Misi kepemimpinannya. Padahal, untuk program-programnya, anggaran miliaran dialokasikan.

Ada pula Pengadilan Sosial melalui media mainstream baik media cetak, elektronik maupun media online. Indikasi konten yang bernada fitnah dan hoax dari media-media ini dapat dilihat dari tidak dipenuhinya azas perimbangan pemberitaan.

Lebih sering, pemberitaan media mengabaikan hak jawab Bupati Willy. Bahkan, ada media yang cenderung membangun beberapa narasi berbeda untuk menghantam Bupati Willy.

Konten cerita dan pemberitaannya berupa cercaan, fitnah dan hoax. Lebih banyak mengumbar hal-hal yang dianggap buruk atau jelek dari Bupati Willy. Karena itulah, dalam Pengadilan Sosial ini, sebagian masyarakat Kabupaten Belu, facebooker, wartawan atau pemilik media tertentu berusaha menjelek-jelekkan Bupati Willy dan Wabup Ose dengan membangun narasi yang melawan realita kepemimpinan Bupati Bupati dan Wabup Ose.

Seseorang menjadi polisi sekalian menjadi jaksa, hakim dan pengacara. Tidak biasa dalam Pengadilan Negara. Terbaca sebagai penistaan keji terhadap kepemimpinan Bupati Willy dan Wabup Ose. Kalau sudah begini, sapa mo help (siapa mau tolong?)

Sebab, yang disasar sekaligus menjadi korbannya adalah Bupati Willy. Bupati Willy ditempatkan sebagai orang yang tidak bisa memimpin. Tetapi, Bupati Willy sangat tegar menghadapi semua cercaan dan fitnah. Dia terus melaju memimpin Kabupaten Belu.

Patung Bunda Maria di Teluk Gurita.

Dalam urusan Program Kerja, Bupati Willy dikatai hanya memberi janji. Janji yang tidak pernah ditepati sejak masa kampanye Pilkada hingga masa jabatan hampir rampung.

Tetapi, Bupati Willy tetap tegar. Berlangkah pasti memimpin Kabupaten Belu. Di tengah cercaan, fitnah dan tersebarnya hoax tentang kepemimpinan Bupati Willy dan Wabup Ose, beberapa prestasi dapat diurai di sini.

Di bidang pendidikan, banyak sekolah yang dibangun, mulai dari Sekolah Dasar (SD) sampai dengan Perguruan Tinggi. Sepanjang sejarah Kabupaten Belu, pemerintahan Willy-Ose dalam kemitraan dengan legislatif merekrut 226 guru kontrak daerah.

Dalam hal budaya, Tarian Likurai ditampilkan di Pembukaan Asian Games, Istana Negara dan keliling dunia. Tais Belu bahkan sudah keliling dunia dan diminati orang. Pengrajin tenun ikat pun semangat dan bangkit.

Di bidang Parawisata, Fulan Fehan yang hanya berupa sebuah padang sabana, dikenal di dunia. Bahkan, tiga tahun terakhir berturut-turut diadakan Festival Fulan Fehan di padang ini. Ribuan orang datang ke sana. Bahkan, para pejabat negara juga datang ke sana.

Patung Bunda Maria dibangun di Teluk Gurita Kecamatan Kakuluk Mesak. Diandalkan jadi destinasi wisata rohani terbesar di Pulau Timor.

Yang mencengangkan, di era kepemimpinan Bupati Willy dan Wakil Bupati Ose, sebuah gedung dibangun di pusat Kota Atambua yang diberi nama Plaza Pelayanan Publik Timor-Atambua. Plaza ini melayani 63 urusan perizinan. Semua urusan dokumen kependudukan diurus di sini. Izin berusaha, AMDAL, IMB, dan lainnya juga diurus di sini.

Di bidang Pemerintahan, Kabupaten Belu mendapat opini Badan Pemeriksa Keuangan Wajar Tanpa Pengecualian (WTP) dua kali berturut-turut untuk 2019 dan 2020.

Ada pula penghargaan Pelayanan Publik Terbaik dari Ombudsmen RI dan Penghargaan Kabupaten dengan Pencegahan Korupsi Terbaik di NTT.

Di bidang Kesehatan, 16.000 masyarakat Kabupaten Belu tidak mampu diberikan Jamkesda. Fasiltas dan Gedung RSUD Mgr Gabriel Manek, SVD Atambua ditambah guna meningkatkan kualitasnya pelayanannya kepada masyarakat. Lebih dari itu, komitmen Bupati Willy adalah menjadikan RSUD mgr Gabriel Manek, SVD sebagai rumah sakit rujukan untuk beberapa kabupaten tetangga.

Lalu, apakah prestasi ini masih juga dianulir Pengadilan Sosial? Cerita leluri, status di media sosial dan pemberitaan yang tidak berimbang, cenderung penuh fitnah dan hoax jelas tidak memberi solusi.

Solusinya adalah duduk bersama, bicara bersama dan berbuat bersama. Kearifan lokal nilai-nilai hakneter dan hafolin malu mesti dijunjung tinggi dalam membangun Rai Belu tanpa memandang suku, agama, ras dan antargolongan (SARA). Keberagaman dan solidaritas harus menjadi kekuatan bersama dalam seluruh aspek pembangunan.

Bupati Willy dan Wakil Bupati Ose tetap yang terbaik. Sesedikit apa pun yang mereka buat dan berikan kepada masyarakat Kabupaten Belu, itulah yang sudah mereka buat dan berikan kepada rakyat.

Terimakasih Pak Bupati Willy dan Pak Wakil Bupati Ose. Bapak berdua tidak pernah menanyakan negara apa yang negara buat dan berikan kepada bapak berdua tapi negara mencatat apa yang bapak berdua lakukan dan berikan kepada negara. (*)

Editor: Cyriakus Kiik (Layanan Publik ini terselenggara atas kerjasama TIMORline.com dan Dinas Komunikasi dan Informatika Kabupaten Belu).

Komentar