oleh

Oknum Anggota TNI Diduga Brutal, Sopir Tanki Air Babak-belur

ATAMBUA, TIMORline.com-Oknum anggota TNI diduga bertindak brutal. Kali ini, yang menjadi korban adalah sopir truk tanki air.

Tindakan brutal itu bermula dari pengaduan istri si oknum.

Dugaan penganiayaan berat itu disebut-sebut terjadi di Sumur Bor Haliwen pada Minggu (13/09/2020).

Oknum anggota TNI itu disebut-sebut bernama Nova T. Samara. Sedangkan korban adalah Debertus Tanaeb alias Key.

Korban selama ini membawa tanki air bernomor polisi EB 8206. Awalnya, korban menggunakan mobil tanki air yang dikemudikannya antri melakukan pengisian air di Sumur Bor Haliwen.

Tiba-tiba, muncul sebuah mobil avansa. Pengemudinya seorang ibu. Dia disebut-sebut istri Nova T. Samara, seorang anggota TNI pada salah satuan TNI di Kabupaten Belu.

Selang 10 menit kemudian, sang ibu itu turun dari mobilnya dan marah-marah Key.

Debertus Tanaeb (kiri) saat menjalani pemeriksaan di Rumah Sakit Tentara Atambua. (Foto: Istimewa).

Atas aksi ibu tersebut, Key langsung meminta maaf. Selanjutnya, korban menjelaskan dia hanya bisa bertanggungjawab kalau mobil avansa si ibu itu terseret atau kena tabrak. Tetapi, jarak antara mobil avansa yang dikemudikan istri tentara itu dan mobil tanki air yang selama ini dikemudikan korban justru berjarak dua meter. Sehingga korban menolak bertanggungjawab.

Mendapat permohonan maaf dan penjelasan korban, ibu itu malahan bilang korban melawan. Atas alasan melawan, sang ibu mengadu ke suaminya, Nova T. Samara

Debertus Tanaeb alias Key yang dihubungi TIMORline.com, Senin (14/09/2020) malam, menjelaskan, sebetulnya tindakan Nova T. Samara itu berawal dari salah paham antara dirinya dan istri Nova di Sumur Bor Haliwen.

Saat itu, mobil Avanza yang dikemudikan istri Nova diparkir di pinggir kiri. Tiba-tiba datang dari arah berlawanan mobil tanki yang dikemudikan Key langsung belok kanan parkir mendadak di depan mobil Avanza dalam posisi jarak dua meter.

Hal inilah yang menurut istri Nova membuatnya panik, terlebih anaknya. Sebab, dia merasa akan ditabrak. Kebetulan anaknya  penderita autisme.

Key  mengaku sempat minta maaf. Tapi, ibu itu bilang Key melawan.

“Kau melawan, kau melawan. Saya kasih tahu abang, dulu”, kata Key mengutip kata-kata istri tentara itu.

Si istri tentara itu kemudian pergi. Sekira tiga jam kemudian, dua oknum anggota tentara datang di Sumur Bor Haliwen. Salah satu di antaranya adalah Nova, suami dari ibu yang beberapa jam sebelumnya berselisih dengan Key.

Saat Nova tiba di Sumur Bor Haliwen, Key sedang tertidur pulas di balai-balai, tempat para sopir tanki air biasa istirahat.

Tanpa ba bi bu, Nova langsung bertindak brutal dengan menghantam Key menggunakan double stick. Padahal, Key sendiri sedang tertidur pulas di balai-balai.

“Saat sadar, saya pu badan penuh deng darah. Saya sampai berlutut minta maaf tetapi dia tetap pukul saya”, akui Key.

Upaya mediasi keluarga pelaku dan korban di Makodim 1605/Belu, Selasa (15/09/2020). (Foto: Istimewa).

Akibat perbuatan Nova, Key mengalami luka pada pelipis, luka robek pada telinga dan bibir, memar pada kepala dan dada.

Setelah melakukan perbuatannya, Nova diduga sempat memaksa Key dibawa ke rumah sakit untuk berobat. Tetapi, Key selaku korban menolak.

“Saya dipaksa naik ke oto untuk dibawa berobat ke rumah sakit. Tapi saya menolak. Saya bilang, biar saja. Saya berobat sendiri”, kata Key.

Karena menolak dibawa ke rumah sakit, menurut Key, dia sempat ditendang Nova di bagian dadanya.

Melihat kondisi Key, salah seorang temannya, Evan Nauf, menggunakan mobil tanki yang dikendarainya mengantar Key ke Polisi Militer (POM) Atambua untuk mengadukan perbuatan Nova. Biar diproses secara hukum.

Oleh pihak POM, Key dibawa ke Rumah Sakit Tentara Atambua untuk divisum. Dari Rumah Sakit Tentara Atambua, Key masih sempat dibawa kembali ke POM Atambua untuk dimintai keterangan.

“Petugas POM sempat minta keterangan saya. Tapi, baru diambil Berita Acara Pemeriksaan atau BAP tadi pagi (maksudnya, Senin pagi, red). Sekarang saya di rumah”, tandas Key.

Key juga mengungkap kalau pelaku memiliki satu tanki air yang setiap hari antrian di Sumur Bor Haliwen untuk melakukan pengisian air. Sopirnya bernama Mateos.

“Mateos itu teman saya. Setiap hari kami sama-sama antrian di Sumur Bor Haliwen”, tandas Key.

Bagaimana kelanjutan kasus ini, Key bilang, kasusnya diproses hukum atau damai, dia bersama keluarga di Atambua masih menunggu orangtua yang masih dalam perjalanan dari Soe ke Atambua.

“Proses hukum atau damai, nanti orangtua datang baru kami mediasi”, demikian Key.

Informasi kuat menyebutkan, oknum anggota TNI tersebut saat ini tercatat sebagai anggota Kodim 1605/Belu.

Dandim 1605/Belu Letkol Inf Wiji Untoro. (Foto: nttonlinenews.com).

Dandim 1605/Belu Letkol Inf Wiji Untoro yang dihubungi melalui akun WhatsApp-nya, Selasa (15/09/2020) malam, mengatakan, pelaku akan diproses sesuai hukum yang berlaku.

Kalau pun ada upaya damai, menurut Dandim Untoro, hanya untuk memperingan hukuman.

Sesaat sebelum berita ini diturunkan, Debertus Tanaeb alias Key selaku korban bersama keluarga dan Nova T. Samara selaku pelaku bersama keluarga sudah bertemu untuk berupaya menyelesaikan permasalahan yang terjadi secara kekeluargaan. Tetapi, setelah dilakukan mediasi, kedua belah pihak tidak mencapai kata sepakat.

Senada dengan Dandim Untoro, pihak keluarga korban melalui salah satu akun WhatsApp keluarga korban, menjelaskan, upaya mediasi kedua belah keluarga tidak mencapai kata sepakat.

“Permasalahan dilanjutkan secara hukum”, tulis pesan WhatsApp tersebut.

Penulis/Editor: Cyriakus Kiik

 

 

Komentar