oleh

Lulusan Sastra Inggris Sukses Jadi Petani Organik

LARANTUKA, TIMORline.com-Menjadi petani sukses tidak semata dominasi mereka yang berlatar pendidikan sarjana pertanian. Setidaknya, hal itu dibuktikan Maya Stolastika. Perempuan kelahiran 11 Juni 1985 ini sukses menjadi petani organik hanya dengan lahan sewaan. Kini omset usaha yang dirintisnya mencapai Rp33,6 juta per bulan.

Sukses yang dialami perempuan kelahiran Waiwerang, Flores Timur, Nusa Tenggara Timur (NTT) ini bukan terjadi begitu saja, melainkan dirintisnya dari titik nol.

Dikisahkan, menekuni pekerjaan sebagai seorang petani, bukan hal yang mudah baginya. Apalagi melihat latar belakang pendidikan dengan apa yang dikerjakan ibarat jauh panggang dari api. Hal ini sangat ia rasakan pada awal meniti karir sebagai petani organik. Ia pernah menjadi korban permainan harga sayur yang menurutnya tidak adil di pasaran.

Ini terjadi ketika hasil panen perdana yang dirintis bersama kelompok tani dampingannya dibeli dengan harga yang sangat murah di tengkulak. Padahal, saat itu produk organiknya yang terdiri dari sayur, buah dan bumbu dapur sudah mulai dikenal orang.

Awal meniti karir sebagai petani organik pada 2008, Maya masih berstatus sebagai mahasiswa aktif semester enam pada Universitas Negeri Surabaya (UNESA). Bersama sejumlah temannya, mereka mengumpulkan modal usaha dengan berjualan pulsa, chocolatos di lingkungan kampus, juga memanfaatkan potensi mereka sebagai guru bimbingan belajar (Bimbel).

Dari hasil jualan dan honor sebagai guru Bimbel, mereka gunakan sebagai modal untuk menyewa lahan kosong, dan mengajak para petani sekitar Dusun Mligi Desa Celaket Kecamatan Pecet Kabupaten Mojokerto Jawa Timur untuk bergabung mengembangkan sistem pertanian organik.

Kini, lahan yang diolah Stolastika bersama kelompok dampingannya terus bertambah hingga menjadi 11 titik, dari satu titik di awal usaha. Dari 11 titik lahan yang diolah, masing-masing titik memiliki luas 500-3.000 meter persegi. Dalam satu lahan terdapat empat hingga lima anggota yang mengelolanya, dan itu didominasi kaum ibu.

Mengajak kaum ibu untuk bergabung dalam pertanian organik, diakui Maya sebagai langkah meregenerasi para petani. Selain kaum ibu dilihatnya sebagai stimulus bagi orang lain agar tertarik, bisa bergabung pula dalam usaha pertanian organik.

Alasan lainnya yang membuat ia memilih untuk mengajak kaum ibu bergabung di usaha yang ia rintis, karena pandangan umum masyarakat yang beranggapan bahwa bekerja di sektor pertanian itu hanya laki-laki.

Selain itu, kepemilikan lahan biasanya adalah laki-laki. Pandangan ini bagi Maya sangat bias gender. Sementara fakta lapangan, justru laki-laki banyak beralih ke profesi lain, sedangkan yang menjalankan roda pertanian yang full adalah perempuan atau istri.

Rupanya, metode yang dilakukan Maya dengan menjadikan ibu-ibu untuk menstimulasi minat orang ikut bertani cukup jitu. Hal ini terbukti dengan berkembangnya kelompok dampingan yang sebelumnya hanya dua kelompok menjadi empat kelompok. Begitupun halnya dari 20 jenis sayuran dan buah yang ditanam, kini berkembang menjadi 40 jenis tanaman yang terdiri dari: selada, bayam, kangkung, kacang merah, kacang panjang dan tanaman lainnya. Sementara untuk tanaman buah, masih fokus pada buah berry dengan berbagai jenis.

Lahan yang ditanami sayur dan buah merupakan milik warga yang ia sewa. Makhlum, Maya sendiri tidak memiliki lahan pertanian karena latar belakang keluarganya bukan dari keluarga petani.

“Semua lahan itu kami sewa. Saya sendiri tidak memiliki lahan, karena latar belakang keluarga saya bukan petani,” jelas perempuan berdarah campuran Flores-Jawa ini dari balik telpon ketika media ini menghubunginya Kamis malam (10/09/2020) lalu sekira jam 19.00 Wita.

Dikisahkannya, di awal usaha ini dirintis, mereka langsung berhasil melakukan panen perdana dan menembus Pasar Induk Surabaya.
Kendati demikian, minimnya pengalaman dan bisnis di industri pertanian membuat usaha Maya tidak berjalan lancar, ditambah minimnya modal usaha di saat permintaan pasar sedang meningkat. Ia bahkan tidak hanya sekali gagal, melainkan hingga tiga kali, ia dan teman-temannya mengalami kegagalan.

Mengalami kegagalan hingga tiga kali karena kesalahan menerapkan strategi bisnis membuat Maya dan teman-temannya memutuskan untuk menghentikan usaha yang digeluti, tapi tidak untuk selamanya, melainkan untuk sementara waktu sambil mencari pengalaman dan mengumpul modal usaha.

Penulis: Mansetus Balawala (Larantuka)
Editor: Cyriakus Kiik

Komentar