oleh

Bertahan di Tengah Pandemi Covid-19

LARANTUKA, TIMORline.com-Di tengah pandemi Covid-19 yang mulai menerpa negeri ini Maret 2020 lalu. Banyak usaha mulai gulung tikar. Kalaupun ada usaha yang masih bertahan, setidaknya manajemen melakukan pemutusan hubungan kerja (PHK) atau merumahkan untuk sementara sejumlah karyawannya, sambil menunggu badai Covid-19 mereda.

Namun tidak demikian dengan usaha pertanian organik yang dikelola Maya yang tetap eksis di tengah pandemi Covid-19. Ia bahkan mengaku, tiga bulan pertama (Maret-Juni) setelah pandemi Covid menyerang Indonesia, bisnis yang digelutinya malah mengalami kenaikan omset hingga dua kali lipat. Meski saat ini omsetnya sedikit mengalami penurunan, namun usahanya tetap berjalan normal.

Penurunan omset usahanya ini karena ia melihat semakin banyak orang mulai beralih profesi menjadi petani, ketika perusahan tempat kerja mereka sebelumnya memberlakukan pemutusan hubungan kerja (PHK) karena tidak mampu membiayai karyawan di tengah negeri ini masih dilanda wabah Covid-19.

“Yah, kalau soal omset memang sedikit mengalami penurunan. Hal ini karena banyak orang saat ini mau jadi petani ketika mereka berhenti dari tempat kerja mereka sebelumnya. Karena itu secara otomatis omset kami sedikit menurun,” jelas Maya.

Bagi Maya, menurunnya omset karena harus berbagai rejeki dengan orang lain bukan masalah baginya, karena di bawah payung Twelve’s Organic mereka memiliki strategi sendiri. Satu di antaranya adalah dengan memiliki pasar manistream sejak t 2015 dan pasar rumah tangga sejak 2016. Hal inilah yang membuat mereka tetap bertahan di tengah pandemi Covid-19.

“Untuk sayuran daun kami panen delapan kali per bulan, dan sekali panen kami mendapatkan 100-120 kg sayur dengan harga Rp 35.000/kg, maka bisa dikalikan sendiri omset per bulannya berapa. Belum termasuk buah,” urai Maya.

Tidak Sendirian
Bagi Maya Stolastika, sukses yang dia gapai saat ini melalui usaha pertanian organik tidak semata merupakan keberhasilannya seorang diri. Namun juga campur tangan dan dukungan kuat dari teman-temannya sejak awal.

Pada awalnya, usaha ini dijalankan bersama 4 orang temannya. Namun seiring perjalanan waktu, satu persatu dari teman-temannya memutuskan keluar dan beralih profesi hingga menyisakan dirinya dan Wita yang bertahan hingga mendirikan Twelve’s Organic sebagai brand usaha yang mereka jalani dan sukses saat ini.

Perempuan yang menyelesaikan pendidikan sekolah dasarnya di dua tempat berbeda, yakni di Waiwerang Flores Timur, NTT dan Trawas Mojokerti, Jawa Timur ini, mengaku, bersama temannya Wita, pernah mengorbankan kenyamanan dan menanggung rasa lapar. Ini semua terjadi karena modal yang mereka miliki untuk mengembalikan usaha tersebut setelah sempat gagal mulai menipis.

“Kita pernah tiga kali gagal hingga tidak bisa makan. Jadi kita itu puasa, karena kita susah beli beras. Uang yang tersisa tinggal Rp1 juta,” ujar Maya mengenang masa-masa sulit merintis usaha.

Ia juga tak lupa mengimbau masyarakat, kalau organik bukanlah sebuah produk, melainkan suatu sistem produksi yang menekankan pada keberlanjutan kesehatan tanah, ekosistem dan manusia. Karena itu bila ada yang nawarin produk dan disebut organik, itu bukan produknya yang dipegang bolak-balik atau dibanting sekedar untuk meyakinkan keorganikan produk. Akan tatapi cari tahulah bagaimana produk itu dihasilkan supaya tidak mudah terjebak dengan slogan atau kata-kata yang tertera pada kemasan.

Lebih baik lagi, demikian Maya, kalau konsumen datang langsung ke kebunnya dan lihat langsung prosesnya juga kenali petaninya. Ini yang selalu ditekankan sehingga membuat banyak pelanggan datang dan membeli langsung di lokasi pertanian Twelve’s Organic.

“Jadi jangan salah kaprah dengan produk yang disebut organik, tapi cari tahu pada proses untuk menghasilkan produknya,” demikian Maya. (*)

Penulis: Mansetus Balawala (Larantuka)
Editor: Cyriakus Kiik

Komentar