oleh

Bermula dari Lesatnya Rasa Sayur dan Buah Organik

LARANTUKA, TIMORline.com-Kisah ketertarikan perempuan kelahiran Waiwerang, 35 tahun silam ini menjadi petani organik bermula ketika ia merasakan lesatnya buah dan sayur organik yang dihidangkan di rumah gurunya, tempat ia berlatih Yoga di Denpasar Bali pada 2007 silam.

Dari sinilah ia mulai mengenal tanaman organik dan tertarik untuk bertani. ”Saya mengenal tanaman organik ini di Bali ketika berkunjung ke rumah guru yoga saya. Kebetulan beliau adalah seorang vegetarian dan dialah yang mengenalkan kepada saya produk buah dan sayuran hasil pertanian organik. Rasanya memang beda karena organik. Dari sinilah awal ketertarikan saya sesungguhnya,” jelas Maya.

Dikisahkan, karena guru yoga tempat berlatih adalah seorang vegetarian maka selama dua minggu mengikuti kegiatan kemahasiswaan di Bali itu, mau tidak mau mereka juga mengikuti pola makan guru yoga, dengan mengonusmi buah dan sayur organik.

“Karena kita menginapnya di kediaman guru yoga, ya suka tidak suka, kalau tuan rumah menghidangkan makan seperti itu kita makan saja, sesuai dengan makanan yang disiapkan,” kisahnya.

Selain mengenal sistem pertanian organik dari rasa, Maya juga mengenalnya dari sisi filosofis. Menurutnya, filosofi dari pertanian organik adalah memberikan kebaikan, di mana semesta ada untuk kehidupan manusia tanpa diminta.

Karena itu, untuk mewujudkan impian menjadi petani organik, setahun kemudian, tepatnya pada 2008, bersama rekannya bernama Wita, mulai menerapkan pertanian organik secara terbatas hingga berkembang menjadi lebih maju saat ini.

Berkat kerja keras bersama timnya, maya pernah menjadi Duta Petani Muda 2016, dan mendapat penghargaan Semangat Astra Terpadu untuk (SATU) Indoenesia Bidang Lingkungan 2019.

Alasan lain Maya menekuni bisinis ini juga karena baginya semesta membutuhkan keseimbangan, antara mengambil dan mengembalikan kebaikan pada alam, termasuk seimbang antara yang membutuhkan pangan dan penyedia pangannya. Karena itu, dengan menjadi petani dirinya merasa dekat dengan tujuan di mana dapat bermanfaat bagi banyak orang dan juga alam semesta.

Menurut alumna UNESA ini, sebelum memutuskan menjadi petani, dirinya telah menekuni beberapa pekerjaan. Namun yang paling bisa membuat dirinya nyaman dan bahagia adalah dengan menjadi petani.

“Ketika bekerja di kebun, saya bisa menjadi diri saya sendiri, menuangkan imajinasi dalam ide-ide kreatif dan mengerjakan segala hal dengan sepenuh hati. Bagi banyak orang, pekerjaan sebagai petani adalah pekerjaan yang remeh-remeh yang hanya mengandalkan kekuatan fisik semata. Namun yang saya rasakan justru sebaliknya.

Menjadi petani pun dituntut harus memiliki kemampuan mengelola dan melahirkan ide-ide kreatif, juga menuntut mental yang kuat,” jelas perempuan yang lahir dari pasangan Dominikus Boleng dan Melania Suntyas ini diplomatis.

Karena itu, dalam mengelola usahanya, Maya tidak hanya melihat petani sebatas kemampuan mereka bercocok tanam. Melainkan lebih dari itu. Salah satu hal yang bisa dilakukan adalah petani harus mau belajar memahami mekanisme dan akses pasar. Karena dengan mengetahui itu, petani menjadi tidak hanya sekedar menghasilkan produk saja, tetapi juga bisa langsung mengakses pasar. Dengan demikian, ketergantungan petani pada tengkulak dengan rantai distribusi yang panjang pun bisa ditekan.

Penulis: Mansetus Balawala (Larantuka)
Editor: Cyriakus Kiik

Komentar