oleh

Berburu Modal Hingga ke Denpasar

LARANTUKA, TIMORline.com-Gagal dengan usaha pertanian organiknya karena minim pengalaman dan kesalahan menerapkan strategi bisnis ditambah modal usaha yang kecil, Maya pun akhirnya memutuskan untuk merantau ke Denpasar. Tujuannya tidak lain dan tidak bukan, selain mencari pengalaman kerja, juga mencari modal usaha untuk kembali menekuni usaha yang sama.

Di Pulau Dewata, Maya bekerja di sebuah perusahan green building materials, sebuah perusahaan kontraktor yang menggunakan material ramah lingkungan.

Tidak butuh waktu lama, hanya enam bulan lamanya. Ia lalu kembali ke Mojokerto dan melanjutkan pertanian organik yang sudah dirintis bersama teman-teman mudanya. Maya nampaknya sudah memiliki komitmen kuat untuk kembali ke dunia usaha yang sempat membuatnya kecewa itu.

Berbekal komitmen dan kuatnya tekad untuk meningkatkan kesejahteraan petani kecil yang kerap jadi korban murahnya harga sayur di pasaran. Kali ini perempuan berzodiak Gemini ini kembali dan membangun usaha yang sama di bawah payung Twelve’s Organik yang ia dirikan. Di bawah brand Twelve’s Organik, Maya berhasil mamasok hasil pertanian mereka ke sejumlah hotel, supermareket, restoran dan pasar rumah tangga.

“Untuk saat ini kami sudah memiliki pasar sebanyak 80 rumah tangga, dua supermarket serta dua restoran yang kerap memakai produk sayuran dan buah dari Twelve’s Organic. Ini semua adalah hasil dari usaha di atas lahan yang ditawarkan kepada saya dengan sistem bagi hasil dari hasil penjualan sayur dan buah organik,” terang Maya.

Hal lain yang dilakukan Maya adalah melalui Twelve’s Organic, ia tidak saja menjalani sistem pertanian organik dan memperoleh hasil. Namun juga mengajak petani untuk beralih ke sistem pertanian organik, memberikan kursus ekslusif dan mengedukasi para petani untuk lebih mandiri dan memiliki pasar sendiri. Dengan begitu, para petani bisa memiliki kebebasan memilih tanaman tanpa terbebani permintaan tengkulak.

“Kami juga mengundang tamu luar negeri untuk datang ke kebun, mengadakan acara diskusi dengan mengundang pakar dari berbagai latar belakang, serta tak sungkan menerima konsumen yang ingin melihat langsung sayur yang akan dibelinya di perkebunan Twelve’s Organic. Cara ini dipakai sebagai sarana edukasi sekaligus memperkenalkan Twelve’s Organic ke khalayak yang lebih luas,” jelas bungsu dari tujuh bersaudara ini.

Saat ini, ia memiliki empat kelompok tani masing-masing kelompok petani Madani, Swadaya, Mia Tani, dan kelompok petani Berdikari. Bila ditambah Twelve’s Organic yang juga mengelolah lahan sendiri, sebetulnya menjadi lima kelompok. Dari lima kelompok ini ada yang fokus dengan tanaman sayuran dan ada yang fokus pada raspberry dan blueberry serta pembuatan pupuk organik. Total anggota kelompok seluruhnya kini mencapai 50-an orang.

Tak berhenti di situ, Maya juga selalu mengembangkan cara-cara inovatif dalam memasarkan produk. Aplikasi pesan Whats App, akun Instagram dan akun Facebook Twelve’s Organic dimanfaatkan sebagai alat komunikasi dengan pelanggan yang ingin memesan sayur maupun buah. Kebanyakan konsumen online-nya berasal dari Surabaya. Dengan memanfaatkan teknologi yang lebih murah, petani akan lebih untung dan lebih sejahtera karena tidak perlu lagi menjual hasil panen ke tengkulak.

Soal isu pangan organik lebih mahal, Maya dengan tegas menolak. Menurutnya, soal harga mahal, itu hanyalah isu pasar yang dimainkan untuk menguntungkan pihak tertentu. Baginya harga itu relatif.

Ia lantas memberikan contoh, jika membeli bayam di pasar, biasa harganya sekian. Ketika di bawah pulang, harus disortir terlebih dahulu sehingga yang dikonsumsi bisa jadi hanya pada kisaran 60-70-an persen. Tapi membeli organik di Twelve’s Organic, beli satu kilo yang dikonsumisi pun tetap satu kilo.

Penulis: Mansetus Balawala (Larantuka)
Editor: Cyriakus Kiik

Komentar