oleh

YPTI Praktik STBM-MKM di SMP Negeri Satap Baunakan-Malaka

BAUNAKAN, TIMORline.com-Yayasan Pijar Timur Indonesia (YPTI) bersama mitra baik di tingkat Kecamatan Io Kufeu maupun Kabupaten Malaka melakukan praktik Sanitasi Total Berbasis masyarakat-Manajemen Kebersihan Menstruasi (STBM-MKM) di SMP Negeri Satap Baunakan Desa Tunabesi, Jumat (11/09/2020).

Praktik ini diawali dengan perkenalan para pimpinan YPTI, para fasilitator kecamatan dan kabupaten, pimpinan dan para guru SMP Negeri Satap Baunakan serta para peserta didik.

Usai perkenalan, dilanjutkan dengan pembagian kelompok. Satu kelompok laki-laki dan satu kelompok perempuan.

Terpantau, kelompok laki-laki mendiskusikan materi STBM. Sedangkan kelompok perempuan mendiskusikan materi MKM.

Dalam diskusi, para fasilitator mewawancarai para peserta didik yang hadir sebagai peserta praktik.

Dari wawancara itu, Kelompok Laki-laki atau Kelompok STBM menemukan kalau Lima Pilar STBM masih perlu dibenahi.

Fasilitator kelompok seperti Kepala SMP Negeri Satap Baunakan Agustina Bete Teku, Bidan Puskesmas Tunabesi Maria Selestina Tahuk, pejabat Badan Perencanaan Pembangunan Pengembangan dan Penelitian Daerah (BP4D) Kabupaten Malaka Fransiskus Bau dan pejabat Dinas Kesehatan Kabupaten Malaka Evelyn menyatakan, Lima Pilar STBM belum terpenuhi di sekolah tersebut.

Sebagai misal, untuk Pilar I Stop Buang Air Besar Sembarangan (BABS) masih kesulitan air. Sehingga, toilet yang tersedia belum dimanfaatkan secara optimal.

Selain itu, jumlah toilet masih terbatas.

Kepala SMP Negeri Satap Agustinus Bete Teku mengakui, hingga saat ini belum ada sosialisasi atau pendekatan kepada siswi SMP Negeri Satap Baunakan tentang kebersihan menstruasi.

Tetapi, menurut Agustina, 80 persen siswinya sudah mengalami menstruasi.

Bidan Puskesmas Tunabesi Maria Selestina Tahuk mengatakan, kebersihan menstruasi dialami kaum perempuan pada umumnya. Sejauh ini, pihak Puskesmas Tunabesi belum memberikan sosialisasi atau pendekatan atau informasi tentang menstruasi kepada para siswi SMP Negeri Satap Baunakan.

Direktur YPTI Vincentius Kiabeda mengatakan, dengan adanya pandemi Covid-19, pihak sekolah menyiapkan fasilitas cuci tangan. Ada ember penampung air baru. Tetapi, yang cuci tangan hanya para guru. Sedangkan murid tidak.

“Ada toilet tapi air tidak ada. Kalau air tidak ada, bagaimana mungkin anak-anak mau jaga kebersihan menstruasi”, kata Vincent.

Menurut Vincent, STBM-MKM Sekolah tidak butuh alasan tetapi butuh fakta dan bukti.

“Sebagai fakta dan bukti, di sekolah ada toilet atau tidak. Murid mau cuci tangan pakai air mengalir tapi di sekolah ada air atau tidak. Murid mau buang sampah tapi ada tempat sampah atau tidak”, demikian Vincent.

Kegiatan praktik ini terlaksana setelah kegiatan pelatihan sehari sebelumnya, Kamis (10/09/2020).

Kegiatan ini terlaksana atas kerjasama YPTI dalam kemitraan dengan Yayasan Plan Internasional Indonesia (YPII) dan Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Malaka.

Penulis/Editor: Cyriakus Kiik

Komentar