oleh

Anugerah Suara Merdu

KETIKA berusia 10 tahun ia menyadari kalau berkatnya di bidang tarik suara. Di rumahnya ia biasanya bernyanyi bersama menggunakan musik gitar untuk melepaskan lelah dan ekspresi kegembiraan. Ia mempunyai seorang adik yang mempunyai kegemaran sama, menyanyi.

Kedua orangtua sangat mendukungnya, membolehkan mengikuti kursus vokal di tempat kelahirannya, Larantuka, ibukota Kabupaten Flores Timur. Dia adalah Theresia Avilla Nor (20 tahun), mahasiswa semester tiga Fakultas Kedokteran Universitas Nusa Cendana (Undana) Kupang Nusa Tenggara Timur (NTT).

Gadis yang biasa disapa Vivi Nor ini seorang penyanyi lagu daerah Lamaholot yang dikenal publik khususnya penggemar lagu-lagu daerah.

Melalui surat elektronik (surel) yang diterima TIMORline.com, Vivi Nor menjelaskan, sewaktu kelas VII dia menjadi Juara I Lomba Vokal Group Tingkat Kabupaten Flores Timur, Juara III Porseni Propinsi NTT, 2007.

Tidak hanya itu, setahun kemudian dia meraih Juara I Lomba Pop Singer. Tahun 2009, gadis yang mempunyai ayah dari Manggarai dan ibu Solor ini menjadi Juara I Lomba Pop Singer Gebyar BRI. Selanjutnya, pada 2010 sebagai Juara I Pop Singer HUT Polri. Luar biasa bukan?

Anak pertama dari dua bersaudara ini memiliki suara ‘emas’ maka tak jarang ia membawakan Mazmur di gereja. Ia mengakui Nor Lanjong Kornelis, sang ayah juga menyenangi musik serta ibundanya biasa aktif koor di gerejanya.
Pengalaman yang membuat Vivi tidak melupakannya ketika bernyanyi bersama Bupati Flores Timur Yoseph Laga Herin, yang juga alumni SMAN I sama dengan Vivi Nor.

Berbagai pengalaman menyanyi membuat Vivi makin terkenal di daerahnya. Bahkan, kini ia telah menyanyi 13 album.

Theresia Avilla Nor

Vivi menceritakan, untuk kegiatan sosial ia pernah menyanyi di daerahnya untuk konser amal pembangunan gereja Katolik.

Baginya, suara yang merdu ini adalah anugerah Tuhan maka ia mengembalikan kepada Tuhan melalui konser amal untuk pembangunan gereja.

Mengenai cita-cita, Vivi menulis ia ingin menjadi guru, dosen, pegawai bank tapi lebih asyik menjadi dokter. Yang ditulis terakhir ini menjadi cita-citanya yang ingin ia raih. Buktinya ia melewati semester tiga dan dengan demikian ia ingin mewujudkan cita-citanya.

Meskipun suatu saat ia menjadi dokter, Vivi mengaku tidak akan meninggalkan kegemaran menyanyi. Artinya, jika suatu saat nanti menjadi dokter ataupun profesi lain ia tetap akan terus menyanyi untuk menghibur orang lain.

Vivi memberikan alasan pekerjaan dokter itu adalah suatu pekerjaan mulia, melayani orang, menolong orang bisa sembuh dari sakit yang dideritanya.

“Kalau melayani sesama dan menyembuhkan mereka sakit itu berarti sama halnya melayani Tuhan,’’ tulis Vivi.

Di bagian akhir surelnya, Vivi menegaskan, anugerah Tuhan atas suaranya itu membuatnya tidak sombong. Tapi, ia tetap tekun untuk mewujudkan cita-citanya menjadi dokter. Kemampuan suara yang dimiliki menjadi berkat bagi orang lain.

“Saya menghibur orang dengan menyanyi itu membawa kegembiraan bagi siapapun,’’ begitu Vivi Nor menimpalinya.

Penulis: Konrad R. Mangu (Jakarta)
Editor: Cyriakus Kiik

 

Komentar