oleh

YKS dan Kedutaan New Zaeland Terapkan Teknologi Kurungan Jaring Apung untuk Kembangkan Rumput Laut di Lembata

LEWOLEBA, TIMORline.com-Sepuluh hingga lima belas tahun lalu, masyarakat lima desa di wilayah Tanjung, yakni Dulitukan, Tagawiti, Kolipadan, Beutaran dan Palilolon di Kabupaten Lembata Propinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) pernah memiliki ceritera tentang pertumbuhan ekonomi mereka yang boleh dibilang cukup, bahkan sangat baik.

Salah satu indikator yang nampak jelas adalah kepemilikian kendaraan bermotor (sepeda motor) hampir merata di setiap rumah tangga, meski sebelumnya barang “mewah” itu hanya menjadi milik segelintir orang yang memiliki kemampuan secara ekonomi.

Geliat pertumbuhan ekonomi masyarakat di masa itu (tahun 2006-an) dipicu pengembangan budi daya rumput laut yang dilakukan masyarakat kelima desa. Saat itu, harga rumput laut sangat menjanjikan masyarakat, meski terkadang terjadi fluktuasi harga.

Pemasarannya pun berlangsung di tempat, sehingga masyarakat tak perlu mengeluarkan ongkos ke kota untuk menjual hasil. Persaingan harga terjadi antara pengepul yang datang langsung di wilayah tanjung. Banyaknya pengepul yang masuk ke desa-desa itu membuat mereka bersaing dalam hal harga. Yang memiliki penawaran tertinggi tentu menjadi pilihan masyarakat untuk menjual hasil rumput laut yang saat itu pernah tembus hingga Rp 25.000/kilogram.

Tapi, itu ceritera dulu. Saat ini setelah sekian purnama berlalu, budi daya rumput laut yang digeluti masyarakat wilayah Tanjung tak lagi menjadi sandaran hidup. Mereka patah semangat setelah berulang kali hama rumput laut datang menyerang. Setiap kali mencoba mengulangi budidaya rumput laut, sebanyak itu pula hama menyerang dan akhirnya gagal panen.

Persoalan ini tentu saja meruntuhkan ketahanan ekonomi warga Tanjung dengan kondisi alam yang kering dan minim hasil komoditi. Mereka lebih memilih bekerja sebagai buruh migran ketika rumput laut yang sempat menjadi primadona ekonomi masyarakat tak lagi memberikan harapan. Meskipun tak dapat dipungkiri bahwa menjadi pekerja migran merupakan hal yang sudah berurat-akar dan telah menjadi bagian dari budaya masyarakat setempat.

Di darat, hasil komoditi seperti kacang tanah (Arachis hypogaea) dan kacang hijau (Vigna Radiata) yang sebelumnya menjadi sandaran ekonomi, sudah hilang kedigdayaannya di tahun-tahun belakangan. Ini terjadi karena sistem pertanian mereka, adalah sistem pertanian lahan kering yang sangat bergantung pada curah hujan. Sayangnya wilayah ini curah hujannya terbatas dan tidak menentu yang membuat mereka mengalami gagal panen yang terus berulang.

Teknologi Kurungan Jaring Apung
Menanggapi persoalan seputar kegagalan budidaya rumput laut karena serangan hama.

Yayasan Kesehatan untuk Semua (YKS) bekerjasama dengan Kedutaan New Zaeland mengembangkan budi daya rumput laut di wilayah ini dengan teknologi kurungan jaring apung. Sebagai pilot project program ini melibatkan 50 KK di Desa Dulitukan.

Teknologi Kurungan Jaring Apung merupakan inovasi yang dihasilkan oleh Maruf Kasim. Kasim adalah seorang dosen pada Fakultas Perikanan di Universitas Negeri Hau Oleo Kendari. Teknologi ini dilahirkan berangkat dari persoalan sebagaimana dialami masyarakat di wilayah Tanjung yakni gagalnya budidaya rumput laut karena serangan hama.

Teknologi ini juga telah dikembangkan di Sulawesi Tenggara dan berjalan baik. Oleh karena itu, kiranya teknologi ini dapat mengembalikan harapan warga Tanjung untuk merebut kembali kisah sukses di masa lalu dalam soal budi daya rumput laut yang menjadi primadona ekonomi masyarakat. Meski project ini hanya menyasar 50 KK tapi kiranya dengan keberhasilan project ini, siapa saja boleh mereplikasinya.

Editor: Cyriakus Kiik
Kontributor: Mansetus Balawala

 

Komentar