oleh

Warga Sipil Papua Barat Diduga Dianiaya di Perbatasan Sorong-Temi

-BERITA UTAMA-4.069 views

SORONG, TIMORline.com-Tiga warga sipil Papua Barat diduga kuat dianiaya di perbatasan Sorong-Temi, Minggu (16/08/2020) sore.

Hal ini ketahuan atas informasi warga sipil setempat yang kemudian diunggah warganet di akun facebooknya, Senin (17/08/2020) siang.

Diduga sebagai pelaku adalah oknum anggota polisi yang sedang dalam perjalanan di ruas jalan yang sama dan oknum anggota TNI di pos perbatasan setempat.

Pakar, warganet tersebut, dalam akun facebooknya, Senin (17/08/2020) siang mengisahkan, pada Minggu (16/08), para korban melakukan perjalanan dari Sorong ke Temi menggunakan angkutan umum. Dalam perjalanan, ada pohon yang tumbang.

Karena menghalang jalan, para korban yang terdiri dari tiga orang itu turun dari mobil dan melakukan pembersihan. Mereka dibantu satu bapak yang membawa parang.

Menurut Pakar, banyak kendaraan berjejer di sepanjang ruas jalan tersebut. Termasuk salah satu mobil yang membawa para pelaku yang diduga oknum polisi.

Para penumpang kendaraan yang antrian itu sebagian besar tidak membantu. Mereka beralasan hujan deras.

Setelah melakukan pembersihaan, para korban suruh mobil lewat tapi mereka pungut uang rokok. Ada yang kasih uang. Tapi, ada yang tidak kasih uang.

Mereka yang tidak kasih uang itu, di antaranya dua oknum anggota polisi. Saat paksa lewat, salah satu korban bernama Ciko Momot toki badan mobil pakai tangan.

Tidak terima baik, dua oknum anggota polisi itu turun dan memukuli Ciko. Melihat tindakan oknum polisi itu, Dominggus Aifuffu sebagai temannya Ciko tegur membela. Oknum polisi itu pun berhenti pukul Ciko.

Tetapi, oknum kedua pelaku tidak puas. Mereka lanjut berurusan di pos perbatasan yang letaknya tak jauh dari tempat kejadian perkara (TKP).

Dari pos perbatasan, para oknum pelaku disebut-sebut balik haluan menggunakan mobil dan melakukan penghadangan di Batu Payung. Sudah begitu, para oknum pelaku kawal para korban sampai di pos perbatasan. Di sana, ada anggota TNI yang sedang berjaga-jaga.

Merespon kedatangan para pelaku dan korban, anggota TNI yang ada bukan mencari solusi tapi justru menambah rumit masalah.

Diduga sekira 10 oknum anggota TNI menganiaya para pelaku tanpa perlawanan. Tetapi, tindakan sewenang-wenang para pelaku itu kesampaian ke warga setempat. Warga pun mulai ribut.

Tahu warga mulai ribut, salah satu anggota TNI diduga sempat melakukan tembakan. Tembakan itu membuat warga tenang. Para pelaku pun menghentikan tindakan mereka.

Di akhir kisahnya, Pakar sebagai pemilik akun facebook, mengungkap para korban tiga warga sipil itu adalah Ciko Momot,
Dominggus Aifufu dan Saulus Melkior Wugaje.

Kejadian itu diperkirakan berlangsung selama satu jam. Kejadian pertama dalam perjalanan saat pohon tumbang sekira pukul 16:20 WIT, di Batu Payung sekira pukul 16:50 WIT dan di pos perbatasan TNI sekira pukul 17:10 WIT.

Narasi kejadian yang dimuat di dinding facebook milik Pakar itu dilengkapi dengan tiga foto korban. Dari foto-foto itu, ketiga korban mengalami luka-luka cukup serius. Dari luka-luka itu mengalir darah segar. Bahkan mata salah satu korban tidak bisa dibuka karena bengkak.

Yoel Finse, cendikiawan Kabupaten Sorong yang dihubungi TIMORline.com melalui akun WhatsApp-nya, Senin (17/08/2020), mengatakan, peristiwa yang dialami ketiga korban sering terjadi tetapi dianggap bukan sebuah masalah.

Menurut Yoel, sebetulnya para korban hanya minta pengertian para pelintas jalan yang terhalang kayu yang tumbang. Sebab, jika para korban tidak membersihkan kayu yang tumbang menghalang jalan, pasti para pelintas tidak bisa lewat, termasuk para oknum pelaku yang diduga polisi.

“Kalau orang lain bisa bayar, kenapa aparat tidak bayar. Sudah tidak bayar malahan aniaya orang sampai luka-luka. Kalau aparat saja begitu, siapa yang melindungi masyarakat”, begitu tanya Yoel.

Penulis/Editor: Cyriakus Kiik

 

Komentar