oleh

Pulau Pasir Timbul Meko-NTT dan  Nominasi Anugerah Pesona Indonesia

SELAMA pekan pertama  dan kedua Agustus 2020 ini, nama Meko santer disebut. Itulah sebuah dusun di Desa Pledo Kecamatan Witihama Kabupaten Flores Timur (Flotim), Nusa Tenggara Timur (NTT).

Nama Meko kian “melangit”  karena  mengusung dua artis ibukota, Indah Pitasari dan Juwita Anggun Maharani. Ini bisa dari video mereka yang beredar diterima hampir semua warga NTT dan Adonara khususnya.

Kedua artis itu mendukung Meko sebagai salah satu destinasi pariwisata di NTT.  Lokasi itu memberikan kesan indah. Bahkan, kedua artis hadir di tengah masyarakat di sana. Warga setempat diajak menggunakan telp seluler mengirim sms sebanyak-banyaknya untuk mewujudkan Meko masuk dalam Anugerah Pesona Indonesia(API).

Warga Flotim menyambut baik ajakan kedua artis. Biar Meko benar-benar menjadi daerah tujuan wisata bagi wisatawan mancanegara dan domestik. Sebab, melalui pariwisata, masyarakat ikut menikmati manfaat adanya geliat pariwisata di daerah tersebut. Sudah pasti. Siapa pun yang mengunjungi Meko melihatnya penuh decak kagum keindahan alam yang sangat unik dan luar biasa.

‘’Meko itu sangat indah. Kalau dibandingkan dengan daerah tujuan wisata lain,  wilayah itu sangat unik. Ada pasir timbun yang berada di tengah laut sehingga wisatawan bisa  melintasi area pasir putih itu dengan leluasa,’’ kisah Mansetus Balawala, Direktur Yayasan Kesehatan untuk Semua, melalui saluran selulernya, Kamis (13/08/2020).

Pada 2019, pria kelahiran Ile Ape, Lembata ini dua kali  mengantar pengunjung yang mau ke Meko. Pertama dan kedua ia membawa  lima orang wisatawan. Untuk mencapai lokasi dari pusat Kecamatan Waiwerang sekira dua jam dan setelah sampai di lokasi tempatnya memang sangat asyik.

Mata siapa pun dimanjakan pada pemandangan indah, menawan dengan deburan ombak, serta menyaksikan  matahari senja yang memikat hati.

Menurutnya, soal Meko masuk dalam API memang membutuhkan  keterlibatan semua pihak. Dikatakan, pemerintah  Flotim mungkin selama ini dianggap kurang memberikan prioritas bidang pariwisata namun melalui Meko ini, warga diharapkan semakin dilibatkan.

Ia mencontohkan, fasilitas seperti infrastruktur jalan, pembangunan untuk penginapan di lokasi dekat Meko dan sarana lainnya membuka usaha ekonomi lainnya.

‘’Pariwisata bukan hanya pemerintah tapi melibatkan seluruh masyarakat termasuk pengusaha,’’ katanya.

Menurutnya, pemerintah Flotim selama ini memberikan prioritas pembangunan di sektor lain. Tetapi, dengan adanya nominasi Meko masuk dalam API ini dapat membuka mata warga untuk makin melihatnya sebagai peluang untuk memajukan masyarakat setempat.

Meko  dalam literatur umum jarang disebut. Hanya dalam esai Barnes menyebutkan,  dulu jadi lokasi pelarian orang Lewotolok di Lembata untuk mengamankan diri dari keganasan Meo Timor (tentara bayaran) yang disewa Raja Adonara, berkedudukan di Sagu.

Sebenarnya Lewotolok itu wilayah Kerajaan Adonara (Paji)  tapi mereka rampok kapal yang karam. Kapal itu menurut cerita mempunyai hubungan dagang dengan Raja Adonara. Seteah ultimatum  dari raja untuk mengembalikan jarahan tidak diindahkan, datanglah pasukan Meo dari Timor dan terjadilah perang. Banyak warga Lewotolok yang lari dan menyelamatkan diri di dusun Meko. Namun kini banyak warga dusun yang berasal dari Suku Bajo.

Meko adalah satu-satunya kategori wisata air dari NTT yang masuk dalam nominasi API 2020. Itu artinya butuh sinergi antara pemerintah setempat, mulai dari desa setempat dan sekitarnya. Karena pariwisata itu melibatkan pihak-pihak terkait. Misalnya, pengusaha, pelaku ekonomi, transportasi dan lain-lainnya.

Usaha pemerintah bertujuan untuk meningkatkan kesejahteraan rakyat. Meko yang didengungkan sebagai daerah tujuan wisata air yang baru, tidak hanya menjadi tanggungjawab pemerintah tapi juga masyarakat.

“Semoga Meko yang kini menjadi nominasi bisa menjadi pintu masyarakat meraih kesejahteraan,’’ harap Rizal, seorang jurnalis saat diminta komentar soal Meko.

Kontributor: Konradus Rupa Mangu
Editor: Cyriakus Kiik

 

 

Komentar