oleh

Hadapi Radikalisme dan Intoleransi, Kedigdayaan Polri perlu Ditunjukkan

-Nusantara-37 views

JAKARTA, TIMORline.com-Ketua Tim Task Force Forum Advokat Pengawal Pancasila (FAPP) Petrus Selestinus menegaskan, kedigdayaan Kepolisian Republik Indonesia (Polri) di semua tingkatan perlu ditunjukkan dalam menghadapi radikalisme dan intoleransi.

Bila tidak, cepat atau lambat negeri ini tidak lagi disebut NKRI, tidak lagi memiliki slogan harga mati. Malah sebaliknya, mati harga di hadapan kelompok radikal dan intoleran.

Hal ini ditegaskan Petrus dalam rilis yang dikirim melalui akun WhatsApp-nya kepada TIMORline.com, Minggu (09/08/2020) malam.

Hal ini disampaikannya dalam merespon aksi radikalisme, intoleransi dan Suku, Agama, Ras dan Antargolongan (SARA) yang terjadi di Solo, Jawa Tengah.

Aksi tersebut diberitakan bermula dari kedatangan segerombolan orang yang menamakan diri Laskar Solo di rumah keluarga almarhum Habib Segaf Al-Jufri. Gerombolan ini ketahuan pada berbusana muslim dan mengenakan penutup kepala.

Saat itu, keluarga almarhum Habib Segaf Al-Jufri sedang menggelar acara Midodareni (doa malam sebelum akad nikah), tepatnya di Jln. Cempaka No. 81 Kp. Mertodranan Rt 1/1 Kel/Kec. Pasar Kliwon Kota Surakarta.

Gerombolan ini mempertanyakan kegiatan yang sedang berlangsung di dalam rumah. Mereka curiga tuan rumah menyelenggarakan acara keagamaan. Gerombolan itu lalu berteriak-teriak, “Allahuakbar, Bubar, Kafir. Bahkan ada yang mengatakan, “Syiah bukan Islam, Syiah musuh Islam, darah kalian halal, Bunuh”, dan lain sebagainya.

Menurut Petrus, kejadian di Solo dan kejadian-kejadian lain di Jawa Tengah, Jogyakarta, Kuningan dan Cianjur di Jawa Barat, Riau, Medan, Padang dan tempat-tempat lain memperlihatkan aksi intoleransi dilakukan secara terbuka dan berani oleh kelompok ormas, tanpa rasa takut sedikit pun.

“Aksi-aksi itu nyaris terdengar diproses hingga ke pengadilan tetapi selalu berujung dengan damai dan menegasikan proses pidana. Dengan demikian, kepentingan umum dan kepentingan penegakkan kebenaran dan keadilan dikorbankan”, katanya.

Petrus menilai, penegakkan kebenaran dan keadilan melalui proses hukum di pengadilan yang berakhkir dengan damai membuat kelompok radikal dan intoleran menjadi besar kepala dan merajalela di mana mana.

Karena itulah, seluruh jajaran Polri dari pusat sampai di desa-desa harus menunjukkan kedigdayaannya menghadapi radikalisme dan intoleransi, jangan lemah.

Bila Polri lemah, kata Petrus, publik lantas curiga, jangan-jangan beberapa pimpinan Polri dan beberapa anggotanya sudah terpapar radikalisme dan intoleransi. Sebab, banyak kasus pidana tindakan radikal dan intoleran diselesaikan secara damai, sedangkan proses pidananya dikesampingkan.

Editor: Cyriakus Kiik

Komentar