oleh

Pemdes Tniumanu-Malaka punya Program Rumah Bantuan Tapi Rumah Warga Terlihat Begini

SEJAK Joko Widodo menjadi Presiden RI 2014 dan dikeluarkannya Undang-Undang No. 6 Tahun 2014 Tentang Desa berikut semua peraturan pelaksanaannya, banyak bantuan yang diberikan kepada rakyat Indonesia.

Rakyat Indonesia juga menyambut kepemimpinan Presiden Joko Widodo penuh partisipatif demi Indonesia maju dan sejahtera.

Melalui Kementerian Desa, Presiden Joko Widodo berusaha membangun desa secara partisipatif dan swakelola. Banyak anggaran digulirkan ke desa. Salah satu desa yang mendapat kucuran dana desa adalah Desa Tniumanu Kecamatan Laenmanen Kabupaten Malaka Propinsi Nusa Tenggara Timur (NTT).

Di desa ini, selama tahun 2017, 2018 dan 2019, ada program perumahan yang didanai Anggaran Pendapatan dan Belanja Desa (APBDes). Dananya bersumber dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) berupa Dana Desa (DD).

Pada 2017, ada 15 rumah bantuan jenis rehab. Anggarannya bervariasi, berkisar Rp6-11 juta. Besar anggaran ini tergantung kerusakan bangunan rumah, apakah rusak berat, sedang atau ringan.

Pada 2018, ada 10 rumah bantuan jenis bangun baru. Anggarannya sekira Rp22 juta.

Pada 2019, ada lima rumah bantuan jenis bangunan baru. Anggarannya juga sekira Rp22 juta.

Tetapi, program rumah bantuan itu tidak menjadi solusi bagi warga yang punya rumah tidak layak huni.

Berikut beberapa warga Desa Tniumanu yang bisa dilihat kondisi rumahnya :

Nai Riu (berbaju hitam) bersama keluarga di pendopo rumahnya. (Foto: Cyriakus Kiik/Timorline.com).

1. Blarminus Riu, warga Blok B Dusun Tamasu. Saat ini hidup menduda dan berumur 80 tahun lebih. Dia memiliki dua istri. Istri pertama namanya Lusia Lutan, meninggal pada 1983. Istri kedua namanya Katarina Eno Fahik, meninggal pada 2015.

Dari perkawinan pertama, Blarminus tidak mempunyai anak. Sedangkan dari perkawinan kedua, pasangan Blarminus-Katarina Eno Fahik dikaruniai lima orang anak. Dari kelima anak itu, satu di antaranya meninggal dunia. Sedangkan empat orang lainnya masih hidup hingga saat ini. Masing-masing sudah berkeluarga pula.

Meskipun masing-masing anak punya rumah, Blarminus enggan tinggal bersama mereka. Blarminus yang akrab dipanggil Nai Riu itu lebih memilih tinggal di rumahnya sendiri.

Mau tahu kondisi rumahnya? Saat ini, Nai Riu tinggal di sebuah rumah satu air. Atapnya dari seng. Lantai tanah. Dindingnya dari papan bekas dan seng bekas. Sedangkan tiang rumah semuanya dari kayu bulat.

Bagian dalam rumah disekat pakai seng menjadi dua kamar. Satu kamar sebagai pendopo. Kamar lainnya sebagai kamar tidur sekaligus menjadi tempat menyimpan perabot rumah tangga dan hasil panen.

Sekedar penglihatan mata telanjang, bentuk dan kondisi rumah ini tak lebih dari sebuah pondok kebun. Jauh dari layak huni. Tetapi, Nai Riu mengaku betah tinggal di sini. Pada malam hari, kehidupann Nai Riu di rumah ini diterangi lampu sehen bantuan pemerintah desa.

Di sini, dia tidur sendiri, masak sendiri dan makan sendiri.

Letak rumah ini tak jauh dari rumah lama. Bentuk dan kondisinya mirip. Rumah lama ini ditinggalkannya karena nyaris tumbang saat musim hujan dan angin puting beliung beberapa waktu lalu.

Salah satu anak piara Nai Riu bilang, sebetulnya rumah orangtuanya sudah lama dibuat yang layak huni. Tetapi, tanah milik Nai Riu itu merupakan tanah ‘waspada’. Sebab, lahannya berpotensi menjadi objek perebutan anak-anak piara istri pertama dan anak-anak kandung istri kedua.

Padahal, menurut Nai Riu, dari tiga lahan yang dimilikinya, kepada anak piara yang perempuan semasa hidup istri pertama sudah diberikan sebuah lahan. Sedangkan satu lahan lainnya diberikan kepada anak kandung perempuan istri kedua.

Kini, satu-satunya lahan yang dimiliki adalah lahan yang sedang ditempatinya. “Lahan ini saya punya. Saya masih hidup, saya pakai makan dulu”, katanya.

Selain untuk kebun, lahan ini digunakannya untuk piara beberapa ekor sapi miliknya.

Maklum! Tiga lahan yang dimilikinya adalah lahan pemberian pemerintah melalui program transmigrasi lokal sejak Kabupaten Malaka masih menjadi bagian dari wilayah Kabupaten Belu. Masing-masing lahan berukuran 150 x 50 meter.

Nai Riu tahu kalau di Desa Tniumanu ada program rumah bantuan layak huni. Tetapi, apakah warga seperti dia bisa mendapatkannya atau tidak, dia sendiri tidak tahu. Itu hanya pemerintah desa yang tahu.

Di hadapan beberapa warga Blok B Dusun Tamasu, Nai Riu bilang, bantuan pemerintah yang pernah diterimanya adalah bantuan lampu sehen. Terakhir, Nai Riu sebagai warga lanjut usia dan terdampak Covid-19 menerima bantuan sembako dari Kapolres Malaka AKBP Albertus Neno pada pertengahan Juni 2020 lalu.

Kondisi rumah Nai Kefas. (Foto: Cyriakus Kiik/Timorline.com).

2. Kefas Nana. Saat ini bersama istrinya Kafeaserat sudah memasuki usia lanjut. Mereka tinggal di Dusun Tamasu. Sudah puluhan tahun mereka tinggal di pondok kebun.

Selain tinggal, di pondok ini Nai Kefas bersama istri menjalani seluruh kehidupan mereka. Tetapi, mereka lebih banyak ditolong keluarga terdekat baik yang ada di wilayah Desa Tniumanu maupun desa tetangga. Kalau tidak ditolong pun mereka tidak minta belas kasihan. Mereka terus menjalani hidup apa adanya.

Nai Kefas sendiri di desanya tercatat sebagai veteran sipil Timor Timur.

Sekedar penglihatan mata telanjang, rumah Nai Kefas ini letaknya jauh dari keramaian. Ilalang tumbuh tinggi mengelilinginya. Jalan ke sana hanya jalan manusia. Kalau pun harus menggunakan sepeda motor, dipaksakan. Itu pun hanya orang yang sudah terbiasa lewat di sini.

Atap rumahnya berupa seng dan alang-alang. Itu pun belum selesai. Kayu-kayunya tak beraturan. Sebagian dindingnya terbuat dari papan sepotong-sepotong, papan kulit, bambu yang dibelah dan kayu bulat. Menyedihkan, memang!

Kondisi ruang dalam rumah Nai Kefas. (Foto: Cyriakus Kiik/Timorline.com).

Di bagian dalam, terdapat balai-balai setinggi pinggang orang dewasa yang terbuat dari papan. Di situ ada beberapa karung plastik, beberapa nyiru dan hasil panen berupa sorgum lokal.

Di bagian samping balai-balai digantung periuk masak. Sedangkan di bagian bawah balai-balai ada ember dan jerigen air berukuran lima liter.

Meskipun terlihat berupa pondok kebun, Nai Kefas bersama istrinya tinggal betah di sini. Inilah rumah baru Nai Kefas yang sedang dalam proses pengerjaan.

Sekira 40 meter tak jauh dari rumah ini, ada rumah lamanya. Itu pun terlihat berbentuk pondok. Pondok kebun.

Saat TIMORline.com mendatangi rumah ini, Nai Kefas bersama istri tidak ada. Pasangan lanjut usia ini diinformasikan sedang urusan keluarga di desa tetangga.

Kondisi rumah milik Ruddy Boymau. (Foto” Cyriakus Kiik/Timorline.com).

3. Robertus Boymau. Ruddy, begitu akrabnya, bersama istrinya Helena Abuk dan lima anaknya tinggal di Dusun Korkasen. Rumahnya bentuk satu air. Atapnya dari seng bekas. Sedangkan dindingnya terbuat dari papan dan seng bekas.

Saat ditemui di rumahnya, Ruddy bilang, rumahnya sempat diterjang angin puting beliung hingga porak-poranda beberapa waktu lalu. Pihak Pemerintah Desa Tniumanu kemudian melakukan pendataan. Antara lain pengambilan gambar kondisi rumah dan tingkat kerusakan yang terjadi. Tetapi, hingga saat ini tidak ada bantuan apa pun.

Berharap segera ada bantuan rehab rumah dari pemerintah desa, atap rumahnya yang terdiri dari seng bekas itu hanya ditendes pakai batu.

Kalau pun ada bantuan dari pemerintah desa, hingga saat ini Ruddy dan istri tidak tahu.

“Setiap tahun ada perangkat desa yang datang foto rumah. Katanya ada bantuan. Tetapi, bantuannya seperti apa, kami tidak tahu”, kata Ruddy diamini istrinya, Helena.

Nai Fahik bersama istrinya di depan rumahnya. (Foto” Cyriakus Kiik/Timorline.com).

4. Yohanes Fahik. Dia bersama istrinya Theodora Tai Bau tinggal di Dusun Lo’otnana. Jauh dari keramaian warga dan di atas tepian lereng. Dari sini, terlihat panorama alam indah sebagian wilayah translok Desa Tniumanu dan wilayah sebagian Kecamatan Sasitamean dan Io Kufeu.

Rumahnya berbentuk dua air. Beratap seng, dinding bebak dan tembok setengah. Lantai tanah.

Rumah ini adalah rumah bantuan pemerintah melalui dana desa tahun anggaran 2019. Tetapi, pengerjaannya belum selesai. Jendela dan kosen sudah terpasang. Tetapi, kaca dan daun pintunya belum terpasang. Nai Fahik bersama istrinya, Theodora Tai Bau, belum tinggal. Mereka lebih nyaman tinggal di rumah lama yang kondisinya sangat terbuka, tidak berdinding.

Kondisi tembok rumah milik Nai Fahik yang diterjang angin puting beliung, akhir 2019 lalu. (Foto: Cyriakus Kiik/Timorline.com).

Saat musim hujan akhir 2019, rumah baru milik Nai Fahik diterpa angin kencang. Tembok ambruk. Perangkat Desa Tniumanu pun datang data. Kondisi tembok rumah difoto. Katanya rumah tersebut mau direhab menggunakan anggaran desa. Hanya Nai Fahik tidak tahu anggaran desa yang mana: Dana Desa (DD) atau Alokasi Dana Desa (ADD).

Hingga kini, Nai Fahik bersama istrinya masih menunggu respon pemerintah desanya apakah rumahnya akan direhab pemerintah atau mereka hanya menunggu kosong. Mereka sudah termasuk warga lanjut usia.

5. Kornelis Un. Karena sudah lanjut usia, sering dipanggil Nai Un. Dia bersama istrinya Selestina Bete tinggal di Dusun Korkasen.

Nai Un di depan rumahnya. (Foto: Cyriakus Kiik/Timorline.com).

Dari tangkapan mata telanjang, rumah Nai Un berbentuk empat air. Atap alang-alang, lantai tanah dan berdinding seng bekas. Kondisinya nyaris tumbang. Karena itulah Nai Un bangun satu rumah kecil di samping rumah lama.

Rumah kecil ini bentuk satu air. Atap seng. Lantai tanah. Dindingnya terbuat dari kayu sepotong-sepotong. Di rumah kecil ini, Nai Un bersama istri masak, makan dan tinggal.

Menurut Nai Un, kondisi rumahnya yang demikian, difoto perangkat desa setiap tahun. Katanya rumahnya mau direhab. Kadang bilang mau dapat rumah bantuan pemerintah. Tetapi, sampai dengan hari ini bantuan itu tidak pernah datang.

Nai Un pikir kalau rumah bantuan itu mahal sehingga dia tidak bisa mendapatkannya. Atau mungkin saja pemerintah desa masih urus kegiatan desa yang lain.

6. Gabriel Un Hane. Dia bersama istrinya Theresia Funan Neno tinggal di Dusun Korkasen. Rumahnya bentuk empat air. Lantai tanah, dinding bebak dan atap alang-alang.

Rumah milik Gabriel Un Hane. (Foto: Cyriakus Kiik/Timorline.com).

Seperti Ruddy dan Nai Un, rumah Gabriel selalu difoto setiap tahun oleh perangkat desa. Katanya mau dapat rumah bantuan. Tapi, model bantuannya seperti apa, Gabriel masih tunggu.

“Apakah rumah bantuan itu ada atau tidak, kami tidak tahu pak. Orang datang foto kami punya rumah, ya, foto saja. Untuk apa, ya, mereka yang tahu”, kata Gabriel yang didengar istrinya sambil tersipu-sipu malu.

7. Markus Seran. Saat ini dia bersama istrinya Aplonia Aek tinggal di Dusun Korkasen. Jauh dari keramaian. Rumahnya terletak di atas sedikit ketinggian. Dari sini, sebagian kawasan translok Tniumanu dipandang.

Markus Seran bersama istrinya di depan rumahnya. (Foto: Cyriakus Kiik/Timorline.com).

Rumahnya bentuk satu air. Atap seng, lantai tanah dan dinding dari papan. Rumah ini memang difoto perangkat desa berulang-ulang. Katanya sebagai data di desa untuk dapat rumah bantuan. Kadang bilang untuk dapat rumah rehab. Tetapi, sampai dengan saat ini, rumah bantuan dimaksud tidak pernah datang.

“Kami tinggal di hutan begini, orang datang tipu kami juga kami tidak tahu”, kata Markus.

Blasius Berek yang sebelumnya menjabat anggota Badan Permusyawaratan Desa (BPD) Tniumanu tahu kalau di desanya ada program rumah bantuan baik rehab maupun bangun baru bagi warga.

Tetapi, sebagai anggota BPD, dia tidak bisa berjuang sendiri. Sekali pun harus berjuang untuk kepentingan warga Dusun Tamasu, Blasius butuh perjuangan bersama BPD.

Tetapi, apakah warga desa yang namanya di berita ini terdata di desa sebagai penerima pemanfaat, Blasius tidak tahu.

Blasius yang baru saja dilantik lagi menjadi anggota Badan Permusyawaratan Desa (BPD) Tniumanu Periode 2020-2026 mewakili Dusun Tamasu berharap pemerintah desa membuka informasi pembangunan desa kepada masyarakat setempat. Sehingga, masyarakat juga tahu apa yang menjadi haknya sebagai warganegara.

Paulus Puti, anggota BPD lainnya berjanji akan menanyakan bantuan perumahan bagi warganya di kepala desa. Sebab, menurut dia, pemerintah desa Tniumanu memang punya program perumahan bagi warganya tiga tahun berturut-turut, yakni tahun anggaran 2017, 2018 dan 2019.

Tetapi, siapa saja yang mendapat rumah bantuan itu dia tidak tahu.

Paulus mengaku sudah mendapat informasi dari masyarakat kalau ada guru kontrak kabupaten yang mendapat rumah bantuan tahun anggaran 2018.

“Tetapi, saya masih selidiki informasi itu. Kalau guru kontrak bisa dapat rumah bantuan, kenapa masyarakat yang rumahnya tidak layak huni tidak mendapat bantuan yang sama. Kalau itu hak masyarakat tidak mampu, mestinya dikasih pemerintah desa. Kenapa tunggu masyarakat ribut”, tandas Paulus.

Kepala Desa (Kades) Tniumanu Anita da Costa Cardoso yang dihubungi melalui telp selulernya, Selasa (21/07/2020) pagi, mengakui kalau selama tiga tahun anggaran berturut-turut, pihaknya mengalokasikan anggaran untuk pembangunan perumahan.

Diuraikan, pada tahun anggaran 2017 ada 15 rumah rehab. Karena rehab, anggarannya pun bervariasi sesuai tingkat kerusakan yang terjadi apakah rusak berat, sedang atau ringan. Sehingga, anggarannya berkisar Rp6-11 juta.

Pada 2018, ada 10 rumah bantuan jenis bangun baru. Anggarannya sekira Rp22 juta.

Pada 2019, ada lima rumah bantuan jenis bangunan baru. Anggarannya juga sekira Rp22 juta.

Kades Anita menjelaskan, beberapa warganya yang nama-nama mereka disebutkan dalam berita ini sudah masuk dalam daftar antrian penerima rumah bantuan pada tahun anggaran 2020.

Tetapi, bersamaan dengan pandemi Covid-19, anggaran desa dicopot ke sana-sini. Sehingga, banyak kegiatan di desa yang dibatalkan, termasuk kegiatan rumah bantuan bagi masyarakat.

Nai Riu, warga yang tinggal di Blok B Dusun Tamasu, disebut Kades Anita sudah terdata sebagai penerima manfaat rumah bantuan desa. Tetapi, tidak ada tempat untuk bangun rumah.

“Lahan yang sekarang Nai Riu tinggal itu jadi rebutan antara anak-anak kandung dan anak-anak piara. Nanti bangunannya juga jadi rebutan. Pemerintah tidak bisa bangun rumah bagi pemanfaat yang tidak jelas”, kata Kades Anita.

Lain lagi penjelasan Kades Anita tentang Nai Kefas. Meskipun rumah miliknya saat ini berbentuk pondok kebun, Nai Kefas adalah veteran yang setiap bulan menerima gaji tetap dari pemerintah. Karena itulah, dia tidak patut mendapat rumah bantuan.

Diakui, Nai Kefas merupakan warga tetap Desa Tniumanu. Tetapi, biasanya dia bersama istri lebih banyak tinggal dengan keluarga di desa tetangga.

Warga lainnya seperti Nai Fahik, sebut Kades Anita, mendapat rumah bantuan pemerintah desa. Tetapi, saat musibah angin puting beliung akhir 2019 lalu, atap rumahnya terbongkar dan temboknya juga rubuh.

“Saat itu kita langsung lakukan pendataan berupa pengambilan gambar dan tingkat kerusakkan yang terjadi tetapi belum bisa direhab lagi karena Covid-19. Anggaran kita diselip ke pencegahan Covid-19”, katanya.

Pihak pemerintah desa juga melakukan pendataan terhadap rumah milik Ruddy Boymau yang terkena musibah angin puting beliung. Tetapi, lagi-lagi, belum bisa direhab karena masih dalam pandemi Covid-19.

Kades Anita berharap warganya tidak hanya mengharapkan bantuan pemerintah. Sebaliknya, harus selalu berusaha dan ada inisiatif untuk mengubah kehidupan rumah tangga dan keluarga perlahan-lahan dari waktu ke waktu.

“Jangan tidak berusaha lalu pemerintah yang selalu disalahkan”, demikian Kades Anita.

Penulis/Editor: Cyriakus Kiik

Komentar