oleh

Bupati Malaka Umumkan New Norm Acara Kemasyarakatan mulai 10 Juli

BETUN, TIMORline.com-Bupati Malaka Stefanus Bria Seran selaku Ketua Umum Percepatan Penanganan Covid-19 Kabupaten Malaka mengumumkan pelaksanaan new norm acara kemasyarakatan di wilayah itu terhitung Jumat (10/07/2020) hari ini.

Pengumuman itu disampaikan sebagai hasil kesepakatan Bupati Stefanus dalam Rapat Lanjutan Pemberlakukan New Norm atau Tata Kehidupan Normal Baru pandemi Corona Virus Disease 2019 atau Covid-19 bersama unsur Forum Komunikasi Pimpinan Daerah (Forkompimda) Plus Kabupaten Malaka dan para camat se-Kabupaten Malaka di Aula Kantor Bupati setempat, Jumat (10/07/2020) siang.

Bupati Stefanus seusai rapat tersebut menjelaskan, tata kehidupan normal baru kemasyarakatan itu meliputi tiga hal, yakni acara adat (kecuali kenduri kematian), olahraga dan tempat wisata.

“Kita buka new norm acara kemasyarakatan di Kabupaten Malaka terhitung hari ini Jumat 10 Juli”, tandas Bupati Stefanus.

Pengumuman Bupati Stefanus ini mendapat aplaus panjang dari para kepala dinas dan camat yang hadir.

Saat mengumumkan new norm acara kemasyarakatan ini, Bupati Malaka didampingi Dandim 1605/Belu Letkol Inf Ari Dwi Nugroho.

Dalam rapat, Bupati Stefanus dan Dandim Nugroho terlebih dahulu memintai pendapat beberapa camat, kepala dinas, tokoh agama dan tokoh masyarakat.

Antara lain Camat Malaka Tengah Edu Bere Atok, Camat Laenmanen Blasius Berek Bau, Camat Rinhat Yulius Bria, Camat Io Kufeu Laurens Seran, Camat Botin Leobele Bernadus Bria dan Camat Kobalima Frans Teti.

Unsur peserta rapat lain yang ikut berpendapat adalah Pastor Paroki Kamanasa Pater Andreas Hane, SVD, Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kabupaten Malaka Zainal Muttaqin dan Ketua Klasis GMIT Kabupaten Malaka Pdt. Benyamin L. Manimau, STh.

Pendapat-pendapat itu berkaitan dengan sosialisasi tata kehidupan normal baru sebagai tindak lanjut rapat yang dilakukan sebelumnya.

Terkait acara adat pernikahan, Camat Malaka Tengah Edu Bere Atok, Camat Io Kufeu Laurens Seran, Camat Rinhat Yulius Bria dan Camat Kobalima Frans Teti sependapat kalau saat sosialisasi new norm di wilayah masing-masing, semua elemen di wilayahnya sependapat agar acara adat pernikahan dilakukan pada siang hari dan dibatasi hanya sampai pukul 18.00 wita.

Camat Malaka Tengah Edu Bere Atok, misalnya beralasan, acara adat pernikahan disepakati dilakukan pada siang hari dengan batas waktu sampai dengan pukul 18.00 wita untuk menghindari undangan dari luar dan hemat biaya.

Camat Kobalima Frans Teti menambahkan, untuk acara adat pernikahan, yang urus adalah tuan rumah. Hal ini untuk memudahkan pengawasan karena jumlah orangnya terbatas.

Sebaliknya, kalau melibatkan banyak orang, nanti membuat kerumunan banyak orang.

Untuk pengawasan pula, saat acara adat pernikahan ini harus mendapat izin dari pihak kepolisian.

Camat Rinhat Yulius Bria juga menyampaikan hal senada dengan Camat Edu dan Camat Laurens.

Dia beralasan, acara adat pernikahan dan pernikahan dilakukan pada siang hari demi kebaikan dan kesehatan masyarakat.

Sebab, kalau dilakukan pada malam hari tidak ada jaminan apa pun dari siapa pun apakah keluarga dan undangan yang datang itu bebas Covid-19 atau tidak.

“Banyak undangan yang datang diragukan kesehatannya. Undangan yang datang dari jauh malahan bermalam. Kita tidak tahu apakah undangan yang datang itu dari zona merah atau bukan”, kata Yulius.

Pastor Paroki Kamanasa Pater Andreas Hane, SVD dan Ketua Klasis GMIT Kabupaten Malaka Pdt. Benyamin L. Manimau, STh sependapat kalau di internal gereja masing-masing tetap menerapkan protokol kesehatan Covid-19.

Dandim 1605/Belu Letkol Ari Dwi Nugroho yang duduk berdampingan dengan Bupati Stefanus menyatakan, pihak TNI baik Kodim maupun Satgas Perbatasan mendukung penormalan kembali kegiatan kemasyarakatan.

Tetapi, jumlah TNI terbatas sehingga perlu ada kerelaan masyarakat dan Linmas dilibatkan guna mengawasi pelaksanaan tata penormalan baru pandemi Covid-19.

Selain itu, untuk acara adat atau pernikahan perlu ada pemberitahuan dari pembawa acara untuk menerapkan protokol kesehatan. Sehingga, harus cuci tangan pakai sabun dan air mengalir, jaga jarak, tidak berkerumun dan pakai masker.

“Covid-19 ibarat perang gerilya. Dalam perang gerilya, jangan takut perang”, tandas Dandim Nugroho.

Penulis/Editor: Cyriakus Kiik

Komentar