Advertorial: TPA Lelowai di Kabupaten Belu dan Penanganan Sampah

Pembuangan sampah di TPA Lelowai Desa Derokfaturene Kecamatan Tasifeto Barat Kabupaten Belu, Jumat (26/06/2020). (Foto: Dok Diskominfo Belu)

SAMPAH hingga saat ini masih menjadi masalah bagi umat manusia sejagat. Di mana-mana ada sampah. Baik di darat, laut maupun tanah.

Adanya sampah ini seiring dengan kemajuan pembangunan. Baik pembangunan dasar, industri maupun jasa. Karena itulah perlu disiapkan tempat pembuangan sementara (TPS) Sampah dan Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Sampah.

Salah satu TPA Sampah di Kabupaten Belu Propinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) adalah TPA Lelowai. Letaknya di Dusun Lelowai Desa Derokfaturene Kecamatan Tasifeto Barat.

Dari Atambua, ibukota Kabupaten Belu, TPA Lelowai jauhnya sekira 12 kilometer. Dapat ditempuh dalam waktu 20 menit menggunakan semua jenis kendaraan baik roda dua, empat maupun enam.

Untuk mengetahui kondisi terkini TPA Lelowai, Pelaksana Tugas Kepala Dinas (Plt. Kadis) Lingkungan Hidup Kabupaten Belu Johanes Andes Prihatin, SE, MSi berkesempatan meninjau TPA Sampah Lelowai pada Jumat 26 Juni 2020.

TPA ini luasnya 4,5 Ha. Dalam kunjungan ini, Plt. Kadis Johanes melihat secara langsung proses penimbunan sampah yang sebagian besar berasal dari kota Atambua.

Selain melakukan peninjauan dan mendengarkan langsung berbagai kendala yang dialami dalam proses pemusnahan sampah, Plt. Kadis Johanes juga memberikan motivasi kepada para petugas TPA yang selama ini telah melaksanakan tugas sebagai garda terakhir kebersihan kota Atambua.

Plt. Kadis Lingkungan Hidup Kabupaten Belu Johanes Andes Prihatin (kedua dari kanan) sedang memotivasi petugas di lokasi TPA Lelowai, Jumat (26/06/2020). (Foto: Dok Diskominfo Kabupaten Belu).

Menurut Johanes, sampah-sampah yang diangkut ke TPA Lelowai sebagian besar berasal dari Kota Atambua. Sebagian lagi dari Kecamatan Tasifeto Timur, Kakuluk Mesak dan Tasifeto Barat.

Hitung-hitung, dalam sehari total volume per hari sekira 100 M3 sampah yang dikirim lokasi sampah ini.

“Dengan luasan areal TPA ini, daya tampungnya masih sangat memungkinkan untuk sekira 10 tahun ke depan. TPA ini menggunakan sistem sanitary landfill. Artinya pengelolaan pemusnahan sampah dilakukan dengan cara membuang dan menumpuk sampah pada cekungan tanah, kemudian sampah dipadatkan dan secara periodik ditimbun dengan tanah. Dengan sistem ini, residu pemusnahan berupa air atau gas pun dapat dikendalikan. Sehingga, tidak berdampak pada lingkungan sekitar, malah dalam kurun waktu tertentu ke depannya bekas urukannya akan dapat dimanfaatkan sebagai ruang terbuka hijau atau pun jenis konservasi lainnya”, ujarnya.

Menurut Kadis Komunikasi dan Informatika Kabupaten Belu ini, metode pengelolaan sampah terbaik adalah pengurangan sampah yang dilakukan pada level domestik atau rumah tangga.

“Sampah dari rumah tangga kita langsung pilah dan kurangi. Sampah-sampah yang masih bernilai ekonomis seperti kertas, plastik, botol dan sebagainya tidak harus dibawa ke TPA. Sebab, sampah-sampah itu masih bernilai ekonomis dan dengan pembinaan dari Pemerintah melalui program 3R dan bank sampah, misalnya, sampah-sampah domestik tersebut bisa dimanfaatkan oleh masyarakat. Di sinilah pentingnya partisipasi mayarakat dalam pengelolaan sampah. Jadi, masyarakat juga harus sadar bahwa penanganan sampah bukan semata-mata tanggungjawab Pemerintah, tetapi masyarakat pun mempunyai andil di sana”, tambahnya.

Pengelolaan sampah yang tepat dapat mencegah terjadinya demam berdarah dengue (DBD), diare, infeksi saluran pernapasan atas (ISPA), jantung, kanker, penyakit kulit, dan lainnya.

Beberapa hasil penelitian di tempat pembuangan akhir sampah di Indonesia menunjukkan adanya penurunan kualitas lingkungan, baik udara, air maupun tanah.

Karena itulah diperlukan adanya penanganam segera terhadap kondisi lingkungan tercemar agar tidak terjadi dampak negatif bagi lingkungan dan masyarakat.

Pembuangan sampah di TPA Lelowai, Jumat (26/06/2020). (Foto: Dok Diskominfo Kabupaten Belu).

Dosen Kesehatan Lingkungan Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Jember Anita Dewi Moelyaningrum, SKM., MKes mengatakan, sampah dapat dikelompokkan tiga jenis. Ada organik, anorganik, dan bahan berbahaya dan beracun atau B3.

Menurut Anita, sampah organik yang tidak terkelola, selain menimbulkan bau tidak sedap dan mengganggu estetika, juga menjadi media perkembangbiakan vektor dan hewan pengerat.

“Dampak langsungnya menurunkan kualitas lingkungan. Ini dapat menimbulkan efek pada biota maupun kesehatan manusia,” kata Anita

Sementara, sampah anorgaik, seperti mikroplastik, terutama diapers atau popok sekali pakai yang bahan mayoritasnya limbah impor, mengandung super adsorbent polymer atau SAP. SAP memiliki efek perusak hormon pada biota perairan.

“Melalui rantai makanan, SAP masuk ke tubuh manusia serta berpotensi mempengaruhi keseimbangan hormon. Akibatnya, muncul berbagai penyakit gangguan hormon, infertility, dan sebagainya,” terang Anita.

Limbah plastik, sangat mungkin terjadi reaksi kimia pada suhu tinggi yang mengakibatkan senyawa mikroplastik lebih mudah terlepas ke lingkungan atau alam. Selanjutnya, masuk ke tubuh makhluk hidup, termasuk sangat mungkin terakumulasi dalam tubuh manusia.

“Jika terkena suhu tinggi, termasuk selama perjalanan di kontainer untuk waktu lama, bakteri sangat mungkin berkembang biak. Terutama, bila ada limbah organik yang merupakan kesukaan mikroba. Efeknya dapat mengganggu kesehatan,” terang Anita.

Sedangkan limbah bahan berbahaya dan beracun atau B3, sesungguhnya tidak boleh sama sekali ada di lingkungan bebas, karena sifatnya beracun. “Harus diisolasi.”

Sampah yang ada di mana-mana butuh penanganan. Tetapi, penanganan sampah maupun limbah harus dilakukan penuh kehati-hatian.

Jika limbah langsung mengenai tanah, dapat meningkatkan risiko soil borne disease, soil transmited disease berupa kecacingan. Bila kena air, dapat meningkatkan water borne disease seperti diare, hepatitis, keracunan logam berat, serta alergi. Sedangkan dengan udara, meningkatkan air borne disease seperti sesak nafas, asma, kerusakan paru, dan sebagainya.

“Limbah jika dibakar dapat menyebabkan polusi, menurunnya kualitas udara karena mengandung karbondioksida atau CO2, metan, polycyclik aromatik hidrocarbin, yang ini dapat menyebabkan berbagai penyakit infeksi saluran napas, gangguan syaraf, jantung, dan kanker,” demikian Anita.

Editor: Cyriakus Kiik (Layanan Publik ini terselenggara atas kerjasama TIMORline.com dengan Dinas Komunikasi dan Informatika Kabupaten Belu).
Sumber: Mongabay Indonesia

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *