oleh

YPTI, YPII dan Pemkab Malaka Evaluasi Pelaksanaan STBM

BETUN, TIMORline.com-Yayasan Pijar Timur Indonesia (YPTI) dalam kerjasama dengan Yayasan Plan Internasional Indonesia (YPII) dan Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Malaka melakukan Pertemuan Koordinasi dan Evaluasi Pelaksanaan STBM dan MHM Bagi Guru dan Komite Sekolah Dasar dan Sekolah Menengah Pertama Kabupaten Malaka di Hotel Ramayana, Betun-Desa Umanen Lawalu Kecamatan Malaka Tengah, Rabu (17/06/2020).

Sesuai thema kegiatan, Direktur YPTI Vincentius Kiabeda di hadapan para peserta menjelaskan, kegiatan tersebut untuk mengevaluasi pelaksanaan Sanitasi Total Berbasis Masyarakat (STBM) dan Menstrual Hygiene Management (MHM) di sekolah.

Dalam hal STBM berkaitan dengan Perilaku Hidup Bersih dan Sehat, menurut Vincent, di sekolah harus ada toilet yang berfungsi untuk laki-laki dan perempuan.

“Toilet yang sama harus bisa dipakai kaum penyandang disabilitas dan semua guru baik laki-laki maupun perempuan”, tandas Vincentius.

Menurut Vincent, begitu akrabnya, jauh sebelumnya ada toilet atau tidak biasa-biasa saja dan dianggap remeh.

“Sekarang ini toilet itu harga diri masyarakat”, kata Vincent.

Tahu akan pentingnya toilet, Yayasan Pijar Timur Indonesia yang saat ini dipimpinnya atas kerjasama dengan Plan Internasional dan Pemkab Malaka mendukung 15 sekolah di Kabupaten Malaka untuk pembangunan toilet di sekolah masing-masing.

Bersamaan dengan pertemuan koordinasi dan evaluasi ini, pihak yayasan dan sekolah akan memastikan apakah toiletnya sudah dibangun atau belum.

Kepala Bidang Pendidikan Dasar dan Menengah pada Dinas Pendidikan Kebudayaan Pemuda dan Olahraga (PKPO) Kabupaten Malaka Andreas Seran saat membuka kegiatan tersebut mengharapkan para kepala sekolah dari sekolah-sekolah dampingan Yayasan Pijar Timur Indonesia untuk menjadi juru damping pendidikan dan kesehatan yang baik.

Sehingga, kebiasaan buruk dulu yang buang air besar sembarangan harus diubah.

“Kalau di sekolah tidak ada toilet maka harus segera dibangun. Cuci tangan menggunakan sabun dan air mengalir harus dibiasakan”, kata Andreas.

Tercatat, sedikitnya 15 sekolah yang selama ini menjadi sekolah dampingan YPTI dalam kemitraan dengan YPII.

Ke-15 sekolah itu terdiri dari 12 sekolah dasar (SD) dan sekolah menengah pertama (SMP).

Para kepala sekolah dari ke-15 sekolah itu pula yang hadir sebagai peserta pertemuan.

Selain kepala sekolah, hadir pula advisor Plan International Indonesia Denny Rahadian.

Penulis/Editor: Cyriakus Kiik

Komentar