oleh

YPTI Adakan Pelatihan Wirausaha Mandiri Bagi Persama

BETUN, TIMORline.com-Yayasan Pijar Timur Indonesia (YPTI) dalam kemitraan dengan Yayasan Plan Internasional Indonesia (YPII) bekerjasama dengan Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Malaka mengadakan Pelatihan Wirausaha Mandiri bagi para Pengurus dan Anggota Persatuan Penyandang Disabilitas Malaka (Persama) di Hotel Ramayana, Betun-Desa Umanen Lawalu Kecamatan Malaka Tengah, Selasa (16/06/2020).

Pelatihan itu langsung dipandu Direktur YPTI Vincentius Kiabeda. Sedangkan pesertanya adalah para pengurus dan anggota Persama.

Di awal pelatihan, Vincentius meminta para peserta untuk menyebut usaha yang mereka geluti saat ini.

Dari para peserta terungkap, ada yang selama ini punya usaha menjahit, las, kios, tenun ikat, meubeler, sablon dan papalele.

Menurut Vincent, begitu akrabnya Vincentius, usaha yang ada harus bisa dikembangkan.

Bagaimana mengembangkan usaha yang ada, pemilik usaha yang adalah penyandang disabilitas tidak boleh diam di tempat. Sebaliknya, harus bisa membangun komunikasi baik dengan pemerintah baik pemerintah desa, kecamatan maupun kabupaten.

Lagi pula, harus mengenal orang sekitar dan orang lain di luar kampung atau desa sendiri.

Dengan mengenal banyak orang baik di pemerintahan maupun swasta dan perorangan, para penyandang disabilitas akan mendapat banyak kemudahan dalam mengembangkan usaha yang sudah dirintis.

“Mengenal banyak orang akan mempermudah pemasaran produk-produk usaha yang ada”, kata Vincent.

Vincent mencontohkan, usaha menjahit tidak akan dikenal kalau pemiliknya tidak kenal orang. Selain itu, kualitas jahitan juga harus diperhatikan.

Dari identifikasi usaha dan strategi pemasaran yang diungkap peserta, Vincent dan peserta sependapat kalau sering hasil jahitan pelaku usaha sering memberikannya secara gratis kepada tetangga dan keluarga.

Tetapi, Vincent mengingatkan para peserta untuk boleh memberi secara gratis dari usahanya kepada orang lain tetapi harus disertai dengan pesan.

“Pesannya adalah orang itu harus menginformasikan kepada orang lain supaya kalau orang lain butuh jahitan yang baik, silahkan hubungi si A atau B dengan menyebutkan alamat yang jelas”, jelas Vincent.

Menurut Vincent, yang paling penting bagi para penyandang disabilitas adalah percaya diri dan sadar diri kalau penyandang disabilitas itu punya hak yang sama dengan kebanyakan warganegara pada umumnya.

Tetapi, Vincent mengingatkan para penyandang disabilitas yang tergabung dalam organisasi Persama untuk menuntut hak-haknya dengan pribadi yang berkualitas.

Saat identifikasi usaha, terungkap kalau beberapa di antara peserta sudah memiliki usaha. Antara lain Adi Nesi Mau kesehariannya menjahit, Maria Yasintha Dahu Atok kesehariannya menjahit dan Umbu memiliki usaha las besi dan sablon.

Lainnya, ada yang ternak ayam, piara ikan lele, jualan keliling dan tenun ikat.

Niko, salah satu peserta, mengaku kalau pelatihan wirausaha ini sangat membantu dan membuat mereka semangat untuk mengembangan usaha mereka yang sudah ada.

Kesan senada diungkapkan Sinta Dahu yang selama ini menggeluti usaha menjahit. Hanya mereka masih kekurangan mesin jahit. Sehingga, dia berharap ada lembaga atau pihak pemerintah yang bisa membantu.

Penulis/Editor: Cyriakus Kiik

Komentar